you're reading...
Di Balik Gambar Ada Cerita

Dilarang Parkir, kok, Malah Markir

Kok, Masih Parkir?

Kok, Masih Parkir?

Gambar sebelah kiri itu diambil di sebuah tempat di lingkungan tempat saya bekerja. Komunitas yang berada di lingkungan itu dipastikan melek huruf dan tidak buta hukum. Boleh dibilang sebagian besar berpendidikan jenjang perguruan tinggi. Mereka itu semestinya paham pengertian sebuah peraturan, seperti yang diekspresikan dalam bentuk kalimat larangan yang tampak dalam foto tersebut. “DILARANG PARKIR DI SINI”. Mereka juga paham bahwa setiap peraturan itu lazimnya ada sanksinya. Sudah jelas itu sebuah kalimat larangan dengan menggunakan kata dilarang yang maknanya ‘tidak diperbolehkan’. Mengapa mereka masih memarkir kendaraan mereka di situ ya? Sungguh terlalu (tentu diucapkan dengan gaya khas si Raja Dangdut, Haji Rhoma Irama). :)

Gambar di atas diambil beberapa waktu lalu di Mataram sebelum di sekitar tempat itu disediakan lahan parkir. Berarti di tempat terlarang parkir yang di foto itu sudah bebas dari orang markir motor dan mobil sembarangan, dong? Iya, memang. Eit… tunggu dulu. Perlu aku perjelas di sini bahwa tempat itu terbebas dari orang “menaruh” kendaraannya secara sembarangan bukan semata-mata karena sudah tersedia tempat parkir resmi di dekat situ lengkap  dengan beberapa satpam yang mengawasi. Tidak lain dan tidak bukan juga disebabkan akses yang menuju tempat di foto yang terpampang di halaman ini diberi palang besi alias portal sehingga  orang saja yang bisa lewat. Kalau tidak ada portal itu, wah… sudah dapat dipastikan papan peringatan “dilarang parkir di sini” itu  masih akan tetap merana dan terlunta-lunta karena dicuekin. Tahu kan yang terjadi…

Dari Mataram kita ke Depok, yuk. Wuih… jauh juga ya. Terbang dulu ke Cengkareng dan dari situ naik Damri terus turun Pasar Minggu. Turun dari bus Damri, ganti Mikrolet  Miniarta 04 jurusan Depok Timur. Turun saja di Margonda, di Kober. Nah, di Margonda inilah ceritanya akan disambung.

Pernah ke Depok, khususnya Margonda? Kalau sudah, bagian setelah ini boleh dilewati. Kalau belum pernah, ya teruskan membaca. :)

Margonda di kota yang dijuluki Kota Belimbing ini merupakan jalan utama yang menghubungkannya dengan Jakarta, tepatnya Jakarta Selatan, dan lebih tepat lagi jalan itu lurus menuju arah Pasar Minggu (Pasar Minggu yang ini nama tempat, lho, bukan pasar “kaget” yang adanya cuma di hari minggu). Bisa dibayangkan betapa ramainya Jalan Margonda ini. Memang ramai sekali dan so pasti biang kemacetan, apalagi pagi dan sore pas jam orang berangkat dan pulang kerja. Dan, bisa dibayangkan pula betapa tidak nyamannya lewat situ. Mungkin orang-orang yang setiap hari memadati jalan yang sedang dilebarkan tapi nggak kunjung selesai itu terpaksa melewati karena jalan lain menuju ke Jakarta lebih jauh.

Nah, ini dia nih… Karena menjadi jalan utama yang padat dan ramai, ujung-ujungnya di sepanjang Jalan Margonda itu… Ehm.. bentar… bentar… sebentar, kawan. Dari tadi nyebut-nyebut kata Margonda, ini orang atau apa ya, yang jelas bukan pahlawan nasional kan? Ah, biarin aja, deh.. Sampai mana tadi? O iya, karena menjadi jalan utama yang padat dan ramai, ujung-ujungnya di sepanjang Jalan Margonda ini dipenuhi ruko-ruko sebagai tempat usaha dan gedung-gedung perkantoran. Belakangan beberapa pusat perbelanjaan besar berdiri tegak di jalan ini, Margo City dan Depok Town Square (DETOS). Seiring dengan pertumbuhan jalan akses Depok-Jakarta itu, juga dibarengi menjamurnya pedagang kaki lima di sepanjang kiri-kanan Jalan Margonda ini.

Seputaran pedagang kaki lima inilah cerita yang ingin aku bagi-bagi dari latar Margonda ini. Bukan ingin membahas-mbahas sisi sosial mereka atau apalah namanya. Intinya kalau aku (dan mungkin pejalan kaki lain) lagi jalan kaki di Margonda dijamin merasa nggak nyaman banget oleh keberadaan mereka, kecuali kalau lagi lapar karena mereka yang “melayani” kita makan (tapi, sebelum pulang bayar dulu :)). Jangan bilang, “Siapa suruh jalan kaki di situ? Dah tahu kondisinya gitu”, ya. Yang pernah bilang seperti itu salah. Kalau masih ngeyel dibilang salah, ya memang salah. Di sebelah kiri-kanan sepanjang Jalan Margonda itu kan sebetulnya ada konblok untuk pedestrian. Bagi yang belum sempat tahu pedestrian, kata itu bermakna ‘jalur untuk pejalan kaki’. Apa betul ada? Memang ada. Cari aja di kolong-kolong meja para pedagang kaki lima yang mangkal di sepanjang jalan itu. Alhasil, seandainya kita jalan di sepanjang pedestrian itu, pasti sebentar-sebentar mengucapkan “permisi” kepada orang-orang yang lagi asyik makan di kaki lima.  Atau, cari juga di bawah mobil-mobil yang berderet-deret di sepanjang jalan itu, mobil yang sedang parkir maupun mobil-mobil pajangan milik show room mobil “tangan kedua”.

Tapi, sebagian Jalan Margonda ini sekarang bersih dari pedagang kaki lima. Bersih dan tertib, dong… Enak buat jalan kaki karena pedestriannya nggak kehalang meja dan tenda para pedagang kaki lima lagi. Siapa bilang. Para pedagang kaki lima itu nggak ada karena jalan itu sedang dilebarkan. Tentu saja mereka digusur. Seiring dengan itu pedestrian yang selama ini tidak pernah berfungsi pun benar-benar tidak ada. Menyedihkan pokoknya. Kasihan banget para pejalan kaki. Fasilitas untuknya seakan diabaikan. Apalagi mengharapkan jalur hijau di jalan ini, entah kapan akan disadari pentingnya pepohonan di jalan ini.

Ke Mataram sudah; ke Depok pun lewat. Mau kuajak cerita-cerita soal Kota Medan, kejauhan. Lagi pula, aku sendiri juga sebenarnya belum pernah ke sana. :) Ya sudah, jalan-jalannya dicukupi dulu. Sekarang mari kita lihat benang merah ilustrasi yang dari Mataram dan disambung dari Depok itu.

Papan dilarang parkir yang ada di suatu tempat di Kota Mataram itu pasti dibuat dan ditempel di pohon yang menaungi motor-motor dan mobil yang diparkir di bawahnya setelah kendaraan-kendaraan itu sering “ngejogrog” di situ. Kalau nggak salah ingat, kendaraan-kendaraan yang di foto itu parkir di depan pintu masuk sebuah gedung laboratorium. Karena keberadaannya mengganggu, dibuatlah peraturan yang berupa larangan itu.  Keberadaan papan larangan itu bukannya tak terlihat dan tulisannya tidak terbaca atau tidak jelas maksudnya. Kalimatnya sangat jelas dalam bentuk larangan dan ditulis dengan huruf kapital berukuran besar. Apalagi hurufnya berwarnya merah yang mencolok, gampang ditangkap mata. Lalu, mengapa para pemilik kendaraan itu masih parkit di situ? Barangkali mereka berpikir, “Ah, kan aku lebih duluan biasa markir di sini daripada papan larangan itu dipasang”. Udah gitu yang ngomong adalah orang yang profesional pula, maksudnya punya profesi bagus. Bakalan runyam, deh, dunia kalau isinya orang kayak ginian melulu. Mereka itu, para pemilik kendaraan, nggak sadar kalau perbuatannya itu mengganggu dan makanya keluar larangan seperti itu. Memang yang tertulis di papan itu bukan undang-undang atau perda atau produk hukum apalah namanya yang disahkan para anggota legislatif yang terhormat. Itu hanya sebuah peraturan biasa. Tetapi, kalau sudah dipasang larangan tertulis seperti itu, berarti sudah terproduksi sebuah aturan. Mungkin yang membedakan dengan produk-produk hukum lain, peraturan larangan parkit itu tidak memiliki aturan sanksi yang jelas bagi yang melanggarnya. Seharusnya di bawah papan larangan “DILARANG PARKIR DI SINI” di tempel papan juga yang isinya sanksi jika melanggar tulisan di papan di atasnya, misalnya berbunyi, “JIKA TETAP PARKIR, BAN AKAN DIKEMPESIN”. Wah, yang ini keren nih idenya.

Ghrrr… kok, belum abis juga ya ceritanya? Sabar… Dikit lagilah. :)

Sekarang kita pindah ke Depok. Sebelum dilebarkan seperti sekarang, di sebelah kanan-kiri sepanjang Jalan Margonda itu terdapat konblok yang memang sebagian kelihatan dan sebagian tertutup plester gerbang gedung-gedung ruko atau perkantoran atau tempat usaha yang ada di sepanjang jalan itu. Setelah dilebarkan, jangankan pedestrian, sisa untuk trotoar tampaknya sudah tidak ada. Sekali lagi, kasihan nasibmu para pejalan kaki. Kita kembali ke fokus pembecaraan. Kalau malam hari, terutama, sepanjang Jalan Margonda, kan, dipenuhi pedagang kaki lima yang dengan ketidaktahuan mereka (aku yakin dalam hal ini mereka ndak tahu meskipun ada yang pura-pura ndak tahu) mendirikan tenda-tenda jualan mereka di atas pedestrian itu. Katakanlah para pedagang kaki lima yang nobene mereka itu orang desa, tapi kan ada pihak tertentu yang tahu bahwa tempat mereka berdagang itu sebenarnya bukan untuk berjualan. Aku nggak tahu pasti hal ini ada perdanya atau tidak. Kalau di Mataram tadi barangkali berpikir dari sudut pandang dulu-mendahuli, di Depok lain lagi. Para pedagang kaki lima itu mungkin berpikir dari sudut tinjau tahu-tidak mengetahui. Kata pedagang kaki lima Jalan Margonda, “Wong, aku tuh ndak tahu kalau tempat ini sebenarnya khusus untuk pejalan kaki. Tapi kan ndak ada larangan berjualan di situ”. Salah? Silakan nilai sendiri…

Akhirnya… Apa yang bisa ditarik sebagai bahan pelajaran dari situ?

Untuk kisah yang di Mataram, seandainya pun di bawah papan larangan dipasang papan satu lagi yang berisi sanksinya, apa menjamin orang tidak parkir di situ lagi? Ada dua kemungkinan. Pertama, pengendara motor mematuhi larangan itu karena sikapnya positif terhadap produk hukum itu. Kedua, mereka tetap parkir di situ dengan alasan tidak mengganggu siapa-siapa dengan parkir di situ. Ini nih, yang perlu dijitak. Emang peraturan dibuat atau hanya dipakai untuk mengatur hal-hal yang mengganggu saja. Peraturan bisa dibuat untuk keindahan, kenyamanan, atau juga keamanan diri sendiri atau orang lain. Seperti larangan parkir itu, dibuat karena pertimbangan kenyamanan dan ketertiban. Barangkali awal-awalnya orang-orang yang bandel parkir itu sudah dingatkan secara lisan. Karena lebih sering tidak mengindahkan, dibuatlah larangan tertulis semacam itu. Ternyata? Tidak mempan juga. Bahasa gaulnya, “Capek, deh….”.

Apa yang terjadi di Jalan Margonda seperti diilustrasikan sebelumnya itu adalah para pedagang kaki lima melanggar larangan berdagang di fasilitas umum yang berupa pedestrian. Mungkin mereka tidak tahu fungsi konblok yang mengiringi sepanjang jalan utama Kota Depok itu. Bisa jadi sebenarnya tahu, tapi karena lama-lama diperhatikannya yang jalan kaki, kok, jarang-jarang dan kalaupun ada satu-dua pejalan kaki pasti mengalah dengan keberadaan mereka. Ya sudah diterusin saja dagang di situ. Pemerintah yang membangun pedestrian itu pasti tahu itu bukan untuk berdagang dan justru memungut retribusi dari para pedagang kaki lima itu. Semestinya mereka yang mengeluarkan peraturan. Maaf, ini nggak bermaksud menyalahkan siapa-siapa. Lalu, kalaupun ada peraturan dilarang berdagang, dapat diperkirakan mereka akan tetap berdagang sampai nunggu pasukan Tramtib datang dan mengoabrik-abrik dengan cueknya.

Kesimpulannya kalau layak diambil sebuah kesimpulan. Baik di Mataram maupun yang di Depok dan mungkin juga orang-orang yang berada di sepanjang jalur  antara kedua kota itu, masih terbiasa menganggap sebuah peraturan dengan sikap kurang positif. Meskipun dengan kasus berbeda, fenomena tentang perilaku tertib peraturan (atau hukum) yang terjadi di dua kota itu sama. Sudah tahu ada peraturan masih saja dilanggar-langgar. Peraturan dibuat karena telah terjadi kekeliruan dan peraturan itu dibuat untuk mengatur agar hal-hal serupa tidak terjadi. Peraturan dibuat bukan untuk dilanggar, tapi untuk ditaati. Jangankan sebuah peraturan seperti larangan parkir di atas, peraturan lalu lintas yang ada sanksinya saja masih sangat sering sengaja dilanggar. Mengapa seperti itu? Jawabannya sudah pasti, PEMBERIAN SANKSI MASIH KURANG TEGAS DAN MASIH BISA DITAWAR-TAWAR. Siapa yang salah dan siapa yang harus bertanggung jawab nggak penting dibahas. Yang ingin kubilang, agar hukum dalam bentuk apa pun bisa berjalan dengan baik, masyarakat Indonesia harus diajarkan menerima sanksi dengan lapang dada seandainya dia melanggar hukum, terutatam peraturan-peraturan mengenai tata tertib. Pihak yang berwenang pun seyogyanya, eh, bukan seyogyanya, tapi harus menjalankan peraturan itu dengan benar dan tegas. Perda tentang rokok dan pengemis di DKI, misalnya, pernah dibuat. Pelaksanaannya? Sepertinya meragukan pemberlakuannya. Masing terilihat orang merokok di tempat umum dan mereka dengan santai melakukannya.

Selain peraturan tentang parkir dan berdagang sembarangan, masih banyak peratuan larangan lain yang masih sering dilanggar, sebut saja larangan membuang sampah sembarangan, larangan merokok sembarangan, belum lagi tabiat sopir-sopir angkutan umum. Kata yang pernah ke Singapura, aturan tata tertib bermasyarakat, seperti kebersihan dan merokok, berjalan dengan sangat baik dan sanksi benar-benar diberlakukan bagi yang melanggarnya. Dan kabarnya orang Indonesia kalau di negeri berlambang singa itu bisa mengikuti tata tertib setempat. Mengapa kalau di negara sendiri nggak bisa? Sudah waktunya orang Indonesia menyikapi aturan hukum dengan positif, sekalipun itu hanya sebuah peraturan yang dibuat oleh Ketua RT untuk wilayahnya.

Tertib hukum memang harus diawali dari diri pribadi terlebih dahulu. Pertama kali lakukan hal seperti memarkir kendaraan pada tempatnya. Ini kan hal kecil, namun setiap hari dilakukan. Ditambah lagi membuang sampah sesaui temaptnya dan merokok tidak sembarangan. Tiga hal kecil itu sebenarnya perbuatan sepele. Meskipun begitu, ketiganya secara tidak langsung berhubungan dengan peraturan dan (bahkan) undang-undang. Kalau tiga hal kecil itu sudah biasa kita lakukan, Insya Alloh bisa membiasakan kita tertib hukum apa pun itu.

Tentang Mochammad

Berpikir dan berkarya sampai tak terbatas masa

Diskusi

14 pemikiran pada “Dilarang Parkir, kok, Malah Markir

  1. hmm…paham sih maksudnya. cm bahasannya ribet & bertele-tele. bacanya jd bikin bete. maaf ya om. ini cm kritik aja kok. tp tetep kereeeeen….!!!

    Posted by asep | Juni 27, 2010, 5:20 pm
    • :) Terima kasih, sep… kritikannya diperhatikan demi perkembangan…
      Muter-muter ya… Mumpung nulis di blog sendiri, jadi bisa semau ndiri karena, kan, nggak terikat aturan-aturan seperti kalau dikirim ke media lain.
      hahahah masih ngeles juga ya, aku…

      Posted by Mochammad | Juni 27, 2010, 5:50 pm
  2. degradasi moral serta ..

    mari kita INDONESIAKAN ,INDONESIA

    Posted by rendranesyaraya | Juni 28, 2010, 4:27 pm
  3. Hahahahaha… banyak sekali Pak, yang seperit ini terjadi di kota2 besar. Di Bandung, di Surabaya, pasti ada. Biasanya yang “tidak melek huruf” ini pengendara motor dan angkot. :D

    Posted by Asop | Juni 29, 2010, 1:04 pm
  4. “aturan dibuat untuk dilanggar” sepertinya ya om.. ^^

    Posted by nandini | Juni 29, 2010, 10:30 pm
  5. ADALAH SIFAT ORANG INDONESIA klo misal ada tulisan dilarang parkir disini , ya kurang lebih 2 meter jarak dari plang , berarti boleh parkir disana hehehehehehehehe

    Posted by fabiantactlest | Juli 1, 2010, 8:13 pm
  6. @nandini & @fabiantactlest: yah begitulah, guyonan peraturan dibuat untuk dilanggar sudah harus gak diguyonkan lagi :)

    Posted by Mochammad | Juli 1, 2010, 10:35 pm
  7. Ini mungkin gambaran indonesia secara umum…., kesadaran sangat kurang …., yang penting kita2 nga seperti gambar diatas….lam kenal

    Posted by karcaxfile | Juli 3, 2010, 6:18 pm
  8. Dilarang parkir di sini, mungkin diterjemahkan tidak boleh parkir di atas pohon, Pak. Hehe penjelasan menarik.

    Posted by Sabjan Badio | Juli 4, 2010, 10:18 am
  9. nah itulah sifat manusia, kayaknya dari hari ke hari, dari jaman ke jaman, bukannya tambah menegakkan peraturan, eh….e…. malah dicuekin peraturannya. makin dilarang ya makin dilanggar. kalo kata rohaniwan itu karena manusia berdosa, alias telah melanggar peraturan Sang Khalik. TQ

    Posted by Anak Damai Sejahtera | Juli 4, 2010, 11:00 pm
  10. ada plang pengumuman “Dilarang berjualan di sini” eh gak sampe satu meter alias di bawah plang ada gerobak mie rebus yg mangkal :)

    Posted by Hilyat Bunda AysyaHumayro | Juli 5, 2010, 4:41 pm
  11. Ada palang parkir :”Di Larang Parkir di depan pintu”. tapi yang markir ngejawab, aku enggak markir di depan pintu, cuman di depan palang. he..he.. emangnya palang parkir di simpan di mana ya…?

    Posted by merry | Oktober 18, 2010, 12:55 am
  12. crito to su ?!

    Posted by PELI_DOWO | Mei 31, 2012, 8:47 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Marquee Text Generator - http://www.marqueetextlive.com

RUMPUN

YANG DITULIS HARI INI

Juni 2010
S S R K J S M
« Apr   Jul »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

PUNCAK

PERTINGGAL

Klik URL Tertinggi

  • Tidak ada

Yang Pernah Mampir

  • 36,499 hits
putputriayu

A fine WordPress.com site

sulbar corner

Informasi Seputar Sulawesi Barat

Zulhaiban's Weblog

SELAMA AKU MASIH DIBERIKAN KEKUATAN UNTUK SELALU BERJALAN MAKA AKU AKAN JALAN DI REL KEBENARAN DENGAN SINARAN PETUNJUK DARI YANG KUPINTA KEPADA TUHAN

duscik ce'olah

Ilmu dan pengetahuan hadirkan kemudahan

Don Charisma

because anything is possible with Charisma

notulabahasa

bahasa cermin minda

Bijakkata's Blog

SEBARKAN SENYUM DAN KATA-KATA YANG BAIK UNTUK ORANG SEKITAR ANDA

MUHAMMAD HAKIM AL HIKMAH

PENGETAHUAN DAN INFORMASI

Alumni SMPN 2 Pagelaran

Blog tempat bersilaturahminya para alumni, murid dan guru

BLOGIM

Membaca adalah kunci ilmu pengetahuan

bolang5768

bisnis online

TRIEDEY BLOG

Dunia nyata Dunia maya Dunia lain

JaTiara

Do All You Can To Make Your Dreams Come True

khaidhir syarif

Suatu saat nanti Kita pasti Kembali Padanya.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.007 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: