Bumi menangis sepenuh hari ini
Sepanjang siang serentang malam
Lelehan air matanya tak kunjung merantas
Isak sedunya tak juga mereda
Tak secuilpun iramanya menyisakan kesukaan
Melesak dalam ke jurang iba
Entahlah yang ia rasakan
Agaknya…
Kenistaan masih saja dilakonkan di pangkuannya
Air mata itu tak sampai muara
Isak sedu itu selamanya tanpa jeda
Sampai semua nista
Berhenti dipentaskan
“Masyhar”
Depok, 140102
11.30 WIB

Merindurindu berkas putih,
Dalam memilau kesumba ceria,
Saat pertiwi bersimpul senyum,
Mengering luka siksaan nista,
Dipojok harap tersilir doa,
Bersama haru biru mengelu,
Mengintip titik putih menyebar di atas sana..
Posted by Adi Nugroho | Agustus 24, 2011, 7:07 amWow! Mantap nih balasannya. Apa judulnya ni?
Terima kasih apresiasinya ya….
Posted by Mochammad | Agustus 24, 2011, 9:06 amMantaf lanjutannya.
Bumi memang sudah sepantasnya Menanggis jika (dia) Bisa..
Orang-orang (jahat) telah dengan Kejam memperlakukanmu
Posted by Souvenir Pernikahan | Agustus 31, 2011, 3:42 pmTerima kasih apresiasinya.:)
Posted by Mochammad | September 6, 2011, 1:24 pmapakah karena darah yang tumpah?
Posted by c4ks0ek1r | Agustus 24, 2011, 8:18 amSalah satunya, Cak…
Posted by Mochammad | Agustus 24, 2011, 9:07 amsudah tua, renta, dibiarkan terluka pula…
sungguh, merana dikau ibunda…
salam kenal mas, puisinya bagus…
Posted by dearKUR | Agustus 24, 2011, 11:26 amSalam kenal juga, kur… Terima kasih apresiasinya ya…
Posted by Mochammad | Agustus 24, 2011, 1:07 pmSaya…. lemah dalam memahami puisi…
Posted by Asop | Agustus 24, 2011, 2:31 pmNdak perlu dipahami, Sop… Dah ngebaca aja aku dah senang.
Terima kasih ya…
Posted by Mochammad | Agustus 25, 2011, 1:50 amselayang pandang
terlihat ilalang yang bergoyang
hadirkan rasa damai nan tentram
namun kini semuanya kelam
seperti itu bunda pertiwi kita
diperlakukan bagai babu nan nista
air susunya telah habis terisap getir-getir kemunafikan
dan kini yang tersisa hanya isak tangis dari sebuah kesalahan
AKU (dibaca dengan penekanan dalam) berdiri disni
menantang arah demi suatu asa untuk bunda
berharap dengan tertaih, dengan munajat do’a agar beliau dapat tertawa
menari dan bernyanyi kembali
tampaknya manusia tidaklah manusiawi hari ini
entah siapa yang mampu menjawab “KENAPA?”
seolah satu pertanyaan ini hilang dari kamus bahasa kita
karena semua hanya sibuk mencari kambingnya yang hitam
memakipun serasa percuma
karena semua sama dan seragam
hilang itu perbedaan yang katanya saling melengkapi
lenyap itu kasih yang saling berbagi
semuanya individu yang berpaham individualisme
terikat dalam suatu konsep bobrok
dan mungkin sepirti itu takdirnya, tapi sekali lagi “KENAPA?”
dan untukmu bunda, bersabarlah.. karena aku bertambah dewasa sekarang !!
dedication : INDONESIA yang akhir-akhir ini tumbuh “L” diakhir kata.
salam..
Posted by Bie OgreVie | Agustus 24, 2011, 7:17 pmWah, senangnya ada ponakan mampir… Gayung bersambutnya mantabs, Bie…
Posted by Mochammad | Agustus 25, 2011, 1:53 amketika mendung yang menggantung
tidak juga menurunkan hujan…
ini puisi tentang musim kemarau bukan mas?
))) (sotoy mode on)
Posted by dennyraditya | Agustus 24, 2011, 7:44 pmBisa musim kemarau dah mau habis atau musim hujan yang hampir tiba…
Jadi, awannya cuman buat pantes2an doang 
Terima kasih apresiasinya, Denny…
Posted by Mochammad | Agustus 25, 2011, 1:55 am“Sampai semua nista
Berhenti dipentaskan”
barangkali perlu remote control yg mampu memberhentikannya?
…
Posted by cahayaMUdejavuku | Agustus 24, 2011, 8:42 pmYa, itu… Saiapa yang mau jadi remote controlnya hayo…
Posted by Mochammad | Agustus 25, 2011, 1:55 amKesedihan akan sifat manusia
Yang selalu tamak dan penuh murka
Mengambil harta dari bumi tercinta
sampai tak tersisa satupun asa
untuk cucu dan cicit tercinta
(^.^) melanjutkan puisinya hehehe
Makasih pak sudah berkunjung di blog saya…. Izinkan saya memberi tautan link blog anda di blog saya.
Terima kasih
Salam
Ivan
http://ivanprakasa.wordpress.com/
Posted by ivanprakasa | Agustus 24, 2011, 9:43 pmWah makasih, Van, dah ditambahin. Terima kasih apresiasinya. Boleh… boleh… Blogmu juga aku link di tautan. Bisa dicek di kelompok tautan “Mitra”.
Posted by Mochammad | Agustus 25, 2011, 1:57 amSudah saya taruh di link blog saya. Bisa lihat di http://ivanprakasa.wordpress.com/link-site/
Saya masukkan 1 saja biar ga bingung, slain itu yg 1nya lagi udah link di blog ini di page K-Seni (^.^)
Oiya omong2 page P-Kamus, P-Glosarium, A-Bahasa kok broken link ya??
Salam
Ivan Prakasa
http://ivanprakasa.wordpress.com/
Posted by ivanprakasa | Agustus 25, 2011, 8:25 pmMakasih, van. Ya satu juga gpp. Yang kamus sama glosarium aku ga pernah cek. Notulabahasaku masih vakum sementara. Ini baru mau diaktifin lagi. Dah mulai longgar waktunya.
Posted by Mochammad | Agustus 25, 2011, 9:04 pmpak, ini syair yang bagus.
saya senang dengan kata-katanya.
mohon pembagian ilmunya ya pak.
ternyata bapak lebih master dari saya
Posted by dimasrizaf | Agustus 25, 2011, 11:16 pmTerima kasih apresiasimu, Dimas.
Sama2 belajar kok. Yuk, kita belajar sama2!!
Posted by Mochammad | Agustus 25, 2011, 11:30 pmaku suka puisinya
juga komen2 nya
Posted by farrasatma | Agustus 27, 2011, 10:33 pmAku senang FARRASTAMA menyukai puisiku dan juga komen dari teman-teman.. Terima kasih ya…
Posted by Mochammad | Agustus 27, 2011, 10:47 pmthanks bos…
Posted by copasnet | Agustus 27, 2011, 11:47 pmSama-sama, Bro…
Posted by Mochammad | Agustus 28, 2011, 12:57 ampuisi yang bagus, bumi memang tak pernah henti menangis karena ulah manusia yang hidup dipunggungnya
Posted by dianson | Agustus 28, 2011, 10:04 pmTerima kasih apresianya, Dianson.
Posted by Mochammad | September 6, 2011, 12:56 pmsalam kenal mas bro,,, tulisannya bangus banget….salam sukses
Posted by farus mercu | September 7, 2011, 1:42 amSalam kenal juga, Dek Bro. Terima kasih apresiasinya. Sukses juga buatmu.
Posted by Mochammad | September 7, 2011, 2:19 pmikut2 komen, meski sy paling gak paham ama yg namanya puisi hahahaha
Posted by Bang Cahyo | September 7, 2011, 9:43 pmPembaca bebas memaknai sebuah puisi itu apa. Ada puisi yang menggunakan bahasa lugas; ada pula yang banyak memakai metafor. Yang penuh metafor itulah yang sering susah dipahami. Tapi, salah satu sifat puisi itu multipretable. Jadi, siapa pun boleh memaknai sebuah puisi menurut penafsiran dia.
Posted by Mochammad | September 8, 2011, 4:40 amMantap, ditunggu karya2 selanjutnya bung.
Posted by onlydarwin | September 7, 2011, 10:39 pmTerima kasih apresiasinya. Salam kenal..
Posted by Mochammad | September 8, 2011, 4:41 amKunjungan balik, nice puisi…semoga bumi ini tidak benar2 “menangis”…
Salam kenal..
Posted by Masyudee E. Arta | September 12, 2011, 9:41 amSemoga…
Terima kasih kunjungannya dan salam kenal juga.
Posted by Mochammad | September 12, 2011, 10:31 pmBumi boleh menangis..
Tapi kita tidak boleh ikut menangis,
Karena kitalah yang bertugas menghentikan tangis beliau..
Dengan membuatnya tertawa, atau menangis bahagia..
Posted by queqeju | September 13, 2011, 12:22 amYup, betul sekali, Bro. Terima kasih apresiasinya…
Posted by Mochammad | September 13, 2011, 12:32 amBapak suka puisi ya? Puisi diatas bagus sekali
. Setiap pilihan kata dalam setiap bait benar-benar tepat sasaran. Mengena sekali. Pesannya sampai ke pembaca.
Saya juga suka puisi, tetapi terkadang puisi saya lebih menyuarakan isi hati, tentang apa yang saya rasakan saat membuat puisi.
Setelah membaca puisi ini saya merasa sedih, terutama di 4 bait terakhir. T_T
Pak, boleh tahu proses kreatif sampai puisi diatas tercipta?
Posted by Risma | September 14, 2011, 7:09 amwah, terima kasih apresiasinya, Risma…
Puisi memang menyuarakan isi hati kita tentang apa saja yang sudah diserap panca indra kita. Apa yang diserap akan jadi pengalaman batin. Pengalaman batin bisa diekspresikan dalam berbagai bentuk, seperti tulisan (puisi dan prosa) atau gambar (lukisan).
Prosesnya? Ya sedih aja ketika melihat dan mendengar berita-berita tentang korupsi, kerusuhan, bentrokan antarwarga, konflik di berbagai daerah. Terus bikin puisi. Kata-katanya sebelumnya tidak seperti itu. Ada beberapa yang diganti dengan mencari sinonimnya di Tesaurus Alfabetis Bahasa Indonesia. Dipilih kata-kata yang sesuasi dengan persajakan. Itu aja… Oiya,digunakan juga perumpamaan-perumpamaan dalam bentuk metafornya. Istilah waktu mendapat pelajaran di sekolah kurang lebih sama dengan penggunaan majas. Peristiwa atau fenomena tertentu bisa kita ekspresikan dengan kata-kata pada lazimnya, misalnya hal-hal yang aku sebut di atas kuganti dengan kata kenisataan. Seperti itu kira2…
Posted by Mochammad | September 14, 2011, 5:30 pm
Posted by Aryan | September 16, 2011, 10:47 pmSemangaaaat, Bro…
Posted by Mochammad | September 16, 2011, 10:54 pmbumi menangis..
karna tubuhnya terluka dan teriris-iris..
bumi menangis..
karna hati manusia mulai krisis..
tukaran link yuk
http://nalurisendu.wordpress.com
thanks !
Posted by NALURI | September 18, 2011, 1:43 pmHi, Naluri! Terima kasih apresiasi dan tambahan baitnya. Tukeran link? Ayuk!!!
Posted by Mochammad | September 19, 2011, 12:37 amlink nya tlah saya pajang
makasi..
Posted by NALURI | September 19, 2011, 8:04 pmwah keren puisinya mas, hehehe…
tukeran link ya? http://cyberkill.wordpress.com/ (rolLerKiLl)
Posted by putraKey | September 20, 2011, 6:48 pmpuisi nih… ceritanya
Posted by avail | September 20, 2011, 7:16 pmbumi …
di kala TUHAN melimpahkan kasih sayang kepadamu
engkau menjadi jalan bagi manusia mencari rezeki
meski manusia tidak pernah mau menghormatimu
engkau tetap biarkan mereka menari-nari di atas punggungmu
namun ada saat di mana kamu memiliki kuasa atas manusia
ketika mereka telah kehilangan nyawa
maka peraduan yang mereka tempati adalah perutmu
maka limpahkan dan curahkan semua kekesalanmu saat itu
karena itu bentuk keadilan bagi manusia
manakah tempat yang lebih mengerikan daripada perutmu
karena saat itulah manusia benar-benar dalam kesepian dalam kesendirian
Posted by lukman | September 27, 2011, 5:12 pm,hujan ya?
Posted by oriie rianzi | November 16, 2011, 9:39 pmNamun sayang
sang Raja Durjana masih saja memainkan peran
merobek lembaran sumber kehidupan
Posted by Muji | November 27, 2011, 1:56 pmkata-kata nya bagus. Like this
Posted by ridyantika | Februari 6, 2012, 11:15 amWah, terima kasih apresiasinya, Ridyantika. Kata-kata seperti itu bisa dicari di Tesaurus Alfabetis Bahasa Indonesia yang disusun Tim Redaksi dari Pusat Bahasa.
Posted by Mochammad | Februari 6, 2012, 8:17 pmMakasih udah mau mampir.. salam buat semua..
http://harrisargosusilo.wordpress.com
Posted by harrisargosusilo | Februari 6, 2012, 10:38 pmBumiku menangis karna ulah kaum yang tidak mau berdamai..
Mereka hanya mengenyangkan diri..
Mereka hanya membenarkan diri.
Tanpa mau peduli sesama..
.. salam buat semua..
http://harrisargosusilo.wordpress.com
Posted by harrisargosusilo | Februari 6, 2012, 10:43 pmTerima kasih puisiku dah diapresiasi. Salam juga
Posted by Mochammad | Februari 7, 2012, 12:50 amagaknya, bumi kita sudah kecewa
pada kita ? mungkin juga
Posted by dearKUR | Maret 10, 2012, 11:30 amwah, mungkin juga begitu. terima kasih apresiasinya..
Posted by Mochammad | Maret 10, 2012, 11:39 amcuma 1 kata… KEREEEEENNN !!!!
Posted by luvinu7 | Mei 18, 2012, 1:14 amCuma dua kata… TERIMA KASIH..
Posted by Mochammad | Mei 18, 2012, 1:18 amKeren… Cool… Great… Exellent… Cakep… Membuat hati miris sekaligus jadi pengin mendandani bumi yang sudah bolong ini….
Posted by tendian | Mei 21, 2012, 10:06 amTerima kasih, matur suwun, hatur nuhun, syukron, many thanks atas apresiasi dan pujiannya. Membuat semangat untuk tetap belajar nulis puisi.
Posted by Mochammad | Mei 21, 2012, 5:31 pmo.k.
Posted by tendian | Mei 22, 2012, 1:50 pm