Ide tulisan ini terinspirasi oleh obrolan iseng dengan kawan-kawan kantor. Entah dari mana munculnya ide itu, tiba-tiba saja pada suatu episode diskusi siang hari itu Pak Nur Ahmadi, kolega saya, merasa terheran-heran dengan istilah mengejar ketertinggalan yang menurutnya bermakna aneh alias janggal, padahal istilah itu begitu populer. Aneh alias janggal? Mengapa sempat terpikir seperti itu ya? Tapi, kalau dipikir-pikir ulang, rasa-rasanya memang rada ndak enak isinya. Negatifkah maknanya? Sepertinya begitu.
Baiklah, Mari kita mulai diskusi ini.
Mengejar ketertinggalan sebetulnya bukan sembarang ungkapan. Istilah itu sangat erat kaitannya dengan pembangunan bangsa ini. Dulu, pada jaman Orde Baru, Soeharto yang menjadi presiden pada era panjang itu sering melontarkannya sebagai salah satu ungkapan yang menjadi “semangat” melaksanakan Rencana Pembangunan Lima Tahun (REPELITA). Sampai sekarang ungkapan itu masih sering dikemukakan, terutama oleh para pejabat pemerintah.
Ehm… Sebentar… Sebentar… Kertertinggalan kok dikejar-kejar. Yang benar saja. Kalau sampai terkejar, tetap dapat ketertinggalan dong. Apa memang begitu maksudnya?
Apa sebenarnya dan seperti apa wujud ketertinggalan itu? Itu hal utama yang harus diperjelas. Dalam bahasa Indonesia kata ketertinggalan berkategori nomina (kata benda) dan bermakna ‘keadaan tertinggal’ sebagaimana tercantum dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia atau KBBI (dapat diakses). Kalau maknanya seperti itu, wujud ketertinggalan, misalnya dalam berbusana, barangkali dapat digambarkan seperti saudara-saudara kita di pedalaman Papua.
Dari segi berbusana mereka dikatakan tertinggal karena ukurannya adalah pakaian yang orang-orang di daerah lain pakai dengan parameter cara berbusana ala barat seperti ini.
Mungkin juga kemiskinan seperti dilukiskan dalam gambar di bawah ini bisa pula dikatakan sebagai wujud ketertinggalan itu.
Gambaran di atas semakin jelas menampakkan keadaan tertinggal jika dikontraskan dengan situasi yang terlukis melalui gambar sebagaimana ditayangkan di bawah ini.
Tentu masih banyak wujud ketertinggalan (baca: keadaan tertinggal) dalam bidang-bidang kehidupan lain. Cara berbusana yang masih “seadanya” (untuk tidak menyebut primitif) dan kemiskinan itu hanya salah dua contoh ketertinggalan di Indonesia. Bagaimana dengan moral dan mental para pejabat yang suka ngambil duit seperti tikus nyuri makanan di lemari? Jelas itu juga merupakan ketertinggalan.
Bagaimana dengan makna kata mengejar? Mengejar yang berjenis verba (kata kerja) dalam KBBI (dapat diakses) bermakna 1 berlari untuk menyusul (menangkap dsb); memburu: ia berusaha ~ dan menangkap saya; 2 ki berusaha keras hendak mencapai (mendapatkan dsb); menginginkan dng sungguh-sungguh: ~ pangkat; ~ ilmu. Berdasarkan makna dalam kamus sebagaimana disebut sebelumnya, kata mengejar memiliki komponen makna (+kata kerja), (+berhubungan dengan perbuatan berlari), (+untuk mendapatkan sesuatu yang di depan), dan sebagainya sesuai dengan makna yang ada. Sementara itu, kata ketertinggalan salah satu komponen maknanya adalah (+di belakang).
Itulah dua makna kata mengejar yang ada dalam KBBI. Mana yang cocok untuk makna kata itu dalam ungkapan mengejar ketertinggalan? Apakah makna nomor satu atau yang kedua? Menurut saya dalam konteks ungkapan yang dibicarakan dalam tulisan yang sedang Anda baca ini tentu makna pertama dari sejumlah makna yang tergabung dalam nomor 1, yakni ‘berlari untuk menyusul’. Berarti secara lengkap mengejar ketertinggalan bermakna ‘berlari menyusul ketertinggalan’. Kalau ungkapan lengkapnya berbunyi mengejar ketertinggalan dari daerah/negara lain, akan berarti ‘berlari menyusul ketertinggalan dari daerah/negara lain’.
Nah!! Arti ketertinggalan sudah dijelaskan seperti di atas dan wujud-wujudnya yang bisa berupa keterbelakangan budaya, kemiskinan, merosotnya mental pejabat-pejabat negeri ini pun sudah tergambarkan. Kemudian, kata mengejar juga sudah dipaparkan maknanya. Selain itu, makna ungkapannya secara lengkap juga sudah diuraikan. Apa Anda sudah merasakan ndak ada kejanggalan? Saya harap pertanyaan itu dijawab dengan ada karena berdasarkan komponen makna yang sudah disebutkan sebelumnya, dapat dikatakan kedua kata itu sebetulnya ndak cocok dipersandingkan dalam pembentukan kalimat.
Sekarang sudah tahu kan?
Kalau begitu, masak kita masih mau disuruh mengejar-ngejar ketertinggalan? Kapan majunya kita? Itulah pertanyaan-pertanyaan (permasalahan-permasalahan) yang kami ajukan waktu itu. Ketika mendengar itu, kontan saja Pak Bahar, salah satu peserta diskusi, tertawa dan mengatakan, “Lho, pantesan dari dulu kita gini-gini aja”, lalu (sekarang dengan senyum-senyum) dia lanjutkan, “Berarti selama ini kita mengejar ketertinggalan; meninggalkan kemajuan“. Akhirnya, tanpa banyak analisis dua simpulan kami dapatkan. Tentu saja kata-kata Pak Bahar itu disetujui dan kami semua pun tertawa, sebuah tertawa satir.
Bagaimana dong seharusnya? Semestinya yang kita lakukan adalah “mengejar kemajuan” bukan sebaliknya, mengejar ketertinggalan. Kalau kita mengejar kemajuan, berarti kita berusaha memperpendek jarak antara kemajuan dan ketertinggalan itu sehinggal pada akhirnya bangsa kita bisa sejajar dengan negara-negara yang dilabeli kata maju dan bahkan bisa melampaui. Urusan kejar-mengejar ini memang selalui berkaitan dengan jarak, semakin menjauh atau mendekat. Mengejar kemajuan bisa pula dimaknai mengejar prestasi seperti yang sudah dicapai oleh pelaku, baik individu, kelompok, maupun sebuah bangsa, yang sudah lebih dahulu meraihnya daripada kita. Apa Anda setuju kalau kita lebih memilih makna ‘berlari menyusul kemajuan daerah/negara lain’? Kalau setuju, berarti pula Anda setuju ungkapan mengejar ketertinggalan diganti dengan mengejar kemajuan. Jadi, mulai sekarang mari kita tanamkan dalam pikiran kita dengan mengucapkan, “Ayo kita kejar kemajuan supaya jarak ketertinggalan dengan kemajuan semakin pendek”.
Sebetulnya basih banyak ungkapan dogmatis yang cenderung bernilai negatif kalau kita mau lebih mencermatinya. Ungkapan dalam budaya masyarakat Jawa mangan ora mangan asal ngumpul ‘makan atau tidak makan asal tetap berkumpul’, misalnya, sudah tidak tepat lagi ditanamkan dalam pikiran generasi muda sekarang. Pada saat bersama dan bisa makan, berarti itu mencerminkan masyarakat sejahtera. Sebaliknya, berkumpul tapi tidak makan sama dengan ketidaksejahteraan kolektif. Ungkapan dalam masyarakat Jawa itu harus diganti dengan kumpul ora kumpul tetep mangan ‘sendiri atau bersama tetap makan’. Itu baru OK. Ada kesejahteraan individu dan kolektif.
Pada akhirnya saya setuju dengan simpulan salah satu rekan kerja saya, yaitu selama ini kita sibuk mengejar ketertinggalan yang bisa diartikan meninggalkan kemajuan. Jika selama ini yang dimaksud dengan ungakapan itu adalah mengejar ketertinggalan dari bangsa lain (bangsa-bangsa yang sudah maju), tetap saja ungkapan itu lebih bernilai negatif karena itu berarti kita selalu mengejar keadaan tertinggal dari bangsa lain. Dengan demikian, ungkapan mengejar ketertinggalan sudah waktunya direduksi dan digantikan dengan ungkapan lain yang lebih bermuatan motivasi untuk maju. Mengejar kemajuan itulah yang tepat.
Mulai sekarang tidak ada lagi ungkapan mengejar ketertinggalan (yang dapat dioposisikan dengan meninggalkan kemajuan). Yang ada adalah slogan mari kita mengejar kemajuan dan melewati ketertinggalan. Ini perlu karena ungakapan adalah ekspresi bahasa atau tuturan. Produksi tuturan adalah representasi dari pikiran kita. Ekpresi bahasa yang bernilai negatif menunjukkan seperti itu pula pikiran kita dan demikian pula sebaliknya. Jika kita selalu berpikir positif dan diekspresikan melalui bahasa atau tuturan, itu akan menularkan pikiran dan energi positif pula bagi yang menerima (pendengar atau pembaca) tuturan (lisan atau tulis) kita. Ungkapan-ungkapan bernilai positif yang salah satunya berbunyi mengejar kemajuan; melewati ketertinggalan akan tersimpan di dalam memori jangka panjang kita kalau itu selalu direpitisi.
(Ketertinggalan tidak untuk dikejar; justru harus ditinggalkan)






Wah saya masih belum ngerti apa2 saat pemerintahan Pak Soeharto, hehe… tapi koq rasanya sekarang juga masih ga jelas arahnya, dulu Orde baru fokus ke Pertanian. Sekarang kemana yaa??
Posted by Gandi R. Fauzi | Januari 30, 2012, 7:36 amDulu bertahap-tahap sesuai dengan masing-masing REPELITA. Sekarang? Ga ada fokus apa-apa. Negara yang dikelilingi laut dengan sinar matahari sepanjang tahun, garam aja impor… Mau dibawa kemana….?
Posted by Mochammad | Januari 30, 2012, 8:02 amBenar juga ya, selama ini kt selalu meratapi kondisi sendiri, makanya yg muncul adlh slogan mengejar ketertinggalan.. Pdhl seharusnya kt meneropong kemajuan, lalu mengejarnya..
Salam kenal,
Posted by asepsaiba | Januari 30, 2012, 9:28 amSetuju… terima kasih atas apresiasinya
Salamkenal diterima
Posted by Mochammad | Januari 30, 2012, 12:59 pmbener juga yah… mosok dah ketinggalan ko dikejar. jadinya malah mundur kan. kapan majunya???
tapi mungkin maksudnya baik pak… mundur satu langkah untuk maju dua langkah
cuman ndak tahu kapan maju dua langkahnya ini.
yang ada mundur satu langkah terus… maju dua langkahnya diutang terus.
wah jadi kepikiran ungkapan lainnya… mengalah untuk menang.
Posted by fandi | Januari 30, 2012, 9:36 amNah cba tulis tuh yang mengalah untuk menang… apa filosofi di balik ungkapan itu..
Posted by Mochammad | Januari 30, 2012, 1:01 pmketertinggalan adalah suatu kondisi yang sudah dilewati sebelum dicapainya kemajuan. jika sudah maju, maka pertahankan.,:)
Posted by hany | Januari 30, 2012, 1:52 pmAh, masak begitu. Ketertinggalan itu kondisi setelah kemajuan melesat ke depan. Jadi, harus digeser semakin mendekati kemajuan…
Terima kasih apresiasinya, Han..
Posted by Mochammad | Januari 30, 2012, 2:33 pmmengejar ketertinggalan artinya ketertinggalannya dikejar biar dia lari menjauh dan yang muncul kemajuan….gicu bro..hehehe…bikin aja yang baru “meninggalkan ketertinggalan untuk mencapai kemajuan” atau “memajukan ketertinggalan” ??? emboh!
Posted by Siti Syamsinas | Januari 31, 2012, 7:10 amhehhehe kok emboh?
Posted by Mochammad | Januari 31, 2012, 8:12 amBerarti selama ini kita salah kaprah dalam berbahasa ya pa….. pantesan bangsa ini ga maju-maju, karena slogan yang dipake pun ternyata tidak tepat, hehe….
Posted by yumemichi | Januari 31, 2012, 2:32 pmhehehe…. menggunakan slogan seharusnya dengan kata-kata yang bernilai positif atau motivatif…
Posted by Mochammad | Januari 31, 2012, 3:31 pmwis mantab isinya…
jalan-jalan juragan
salam dari http://berbagitnt.wordpress.com
Posted by Enka Wardana | Januari 31, 2012, 11:07 pmTerima kasih apresiasinya, Enka… Salam juga ya
Posted by Mochammad | Januari 31, 2012, 11:14 pmYaaap, memang selayaknya kita mengejar target untuk berhasil, jangan terus mengejar ketertinggalan hehehe
Memang saya juga agak aneh dengan istilah orba, termasuk dulu digembor-gemborkan “memasyarakat olahraga dan mengolahragakan masyarakat”
“Mengolahragakan masyarakat” kan, artinya membuat masyarakat jadi olahraga, wajar saja dulu masyarakat seperti bola pingpong
Padahalkan, maksudnya “memperolahragakan masyarakat”
Salam sukses, ya Pak
Posted by elfarizi | Februari 5, 2012, 12:10 pmTerima kasih apresianya, ELFARIZI…
Posted by Mochammad | Februari 5, 2012, 12:14 pmWah iya ya pak… Aku juga ga sadar loh dengan arti mengejar ketertinggalan itu…
Kalo kita ga jadi orang kritis akan selalu jadi rakyat yang dibodoh-bodohi oleh para pemimpin.
Pemimpin juga nampaknya perlu di edukasi juga nih dengan kata-kata “mengejar ketertinggalan” dan “mengejar kemajuan”
salut pak. Nice share
Posted by ivanprakasa | Februari 5, 2012, 8:16 pmTerima kasih tanggapannya, Ivan… Mudah2an pemimpin2 negeri ini sempat baca blog ini ya
Posted by Mochammad | Februari 5, 2012, 8:37 pmSaya juga baru sadar, ternyata istilah itu kayaknya janggal ya.
mengejar kereta = berusaha sampai dapat kereta
Lha kalau mengejar ketertinggalan…
Posted by marsudiyanto | Februari 5, 2012, 9:46 pmyang didapat ya tertinggal terus
Posted by Mochammad | Februari 6, 2012, 7:53 amsptiny harus lbh brhati2 lagi klo bkin slogan ya.. ^_^
slm kenal
Posted by Mujahidah 'Ilmiy | Februari 6, 2012, 9:42 ambegitulah… slogan yang diulang terus-menerus akan masuk dalam memory otak manusia. kalau muatannya positif, ya sangat bagus. kalau sebaliknya? ya buruk kan efek pragmatisnya…
salam kenal juga…
Posted by Mochammad | Februari 6, 2012, 10:06 amwah iya ya – baru sadar kalau tidak diperhatikan, lah memang wong indonesia manut wae apa apa yang dikatakan orang atas kok /(^.^”), pantes saya begini gini saja ya
)
mari mengejar kemajuan dan tinggalkan ketertinggalan \(^o^”)
Posted by Eko Wardoyo | Februari 6, 2012, 3:03 pmBetul mari kita lewati ketertinggalan; kita kejar kemajuan
, Tapi, kalau Eko begitu-begitu aja, harus lebih keras berusaha dalam segala hal…
Posted by Mochammad | Februari 6, 2012, 8:29 pmBaru ngeh saya, padahal mungkin maksudnya memperpendek jarak ketertinggalan kita dari negara lain.
Posted by nandobase | Februari 6, 2012, 3:27 pmheheheh… maksudnya memang begitu tetapi pilihan kata untuk menyusun ungkapannya tidak tepat… terima kasih apresiasinya ya…
Posted by Mochammad | Februari 6, 2012, 8:27 pmWah.. benar sekali itu pak ^^
good post…
Posted by Sang Pantasana | Februari 7, 2012, 3:44 pmTerima kasih apresiasinya
Posted by Mochammad | Februari 8, 2012, 3:11 pmSaya Nderek Saja Mas Bro….???
Posted by IDMaspur | Februari 11, 2012, 10:44 ammnggo dek bro
Posted by Mochammad | Februari 11, 2012, 12:47 pmWah infonya mantab ..pak
Salam Kenal..
http://blog.csoft39.com
Posted by csoft39.com | Februari 11, 2012, 12:18 pmSalam kenal juga. Terima kasih sudah diapresiasi…
Posted by Mochammad | Februari 11, 2012, 12:49 pmbeda kata beda arti.
bermanfaat pak…
Posted by syamsulrijal86 | Mei 18, 2012, 12:23 amYa begitulah. Perubahan bentuk bahasa akan mengubah maknanya juga… Terima kasih apresiasinya, Syam…
Posted by Mochammad | Mei 18, 2012, 12:26 amsama-sama pak…
Posted by syamsulrijal86 | Mei 18, 2012, 12:30 amtambah hebat ae sampean cak, salut. uda ganteng, pinter lagi.
Posted by kamalinev | Oktober 21, 2012, 12:22 amlambemu, mal hahahaha
Posted by Mochammad | Oktober 21, 2012, 1:50 amseingat ane, bangsa kita sudah banyak dicekoki dengan istilah-istilah yang ganjil kan Mas…. kontra produktif malah… ada juga istilah yang bahkan menyesatkan. misal: pelacur, dibilang pekerja (seks komersial), padahal melacur itu kan bukan bekerja…. (bukan mau ngalihkan topik loh). sering ane berharap, para pengambil kebijakan dan pejabat publiknya seringlah bergaul dengan orang pinter, macem Mas Mochammad ini
Posted by anu10 | Januari 10, 2013, 7:09 amhahaah aku wong kurang ilmu. lha jawabanmu juga menunjukkan awakmu wong pinter juga kok. btw, memang bener kok pendapatmu. bahasa GBHN jaman dulu iku ae bahasa awang-awang sing susah diterapkan dengn jelas isine. konsep-konsep muluk2 thok bahasane… iku pendapatku pribadi lho…
Posted by Mochammad | Januari 10, 2013, 7:13 amjan, pari tenan…tambah antep tambah ndhingkluk… aku ancen wong pinter… njeplak…. akulah tong kosong nyaring dibunyi….
Posted by anu10 | Januari 10, 2013, 7:20 amhahahaha iki jenenge awakmu merendahkan diri menaikkan mutu
Posted by Mochammad | Januari 10, 2013, 7:21 amkklep klakep gak iso njeplak maneh aku
Posted by anu10 | Januari 10, 2013, 7:42 amahahahah ojo koyo ngono, dulur…
Posted by Mochammad | Januari 10, 2013, 7:48 amgak popo… tahu kapan bicara dan tahu kapan bisanya mung klakepp
Posted by anu10 | Januari 11, 2013, 7:37 am
Posted by Mochammad | Januari 11, 2013, 9:16 am