you're reading...
Intermeso

Masak, sih, Alloh SWT Itu Adil?

Judul di atas barangkali dapat digolongkan dalam tabu bahasa karena kalimat tanya tersebut menyoal “kredibilitas” Tuhan. Seandainya yang mengutarakan pertanyaan seperti itu seorang anak kecil, tidak jarang jawaban yang akan dia dapat dari ibunya adalah kata seru hush lengkap dengan beberapa tanda seru (!) di belakangnya. Ini wajar adanya karena menjelaskan suatu konsep tentang ketuhanan yang bersifat abstrak tidaklah mudah, apalagi menyangkut keyakinan dalam konteks religi.

Kebingungan pun muncul di kepala saya ketika akan membuat catatan ini. Akan dimulai dari mana. Saya bukan ahli dalam ilmu tauhid pula tidak sedang mendalami pengetahuan lain dalam ilmu agama. Akan tetapi, greget untuk membuat catatan ini begitu menggelitik karena alih-alih ada teman yang menanyakan sifat adil yang dimiliki Allah SWT. Saat mendapat pertanyaan seperti itu saya tidak segera memberi jawaban (karena waktu itu memang belum menemukan jawaban yang pas dan masuk akal) dan rupanya kawan saya memang tidak meminta jawaban. Dia kemudian terus saja berbicara soal itu dengan argumennya. Pada akhirnya mau tidak mau saya berpikir keras juga untuk memaknai kembali hal yang sebetulnya selama ini sudah dan harus saya yakini. Entah karena terpengaruh saya jadi ikut-ikutan bertanya, “Iya, ya… apa Alloh SWT itu adil?”

Ada baiknya sebelum memaparkan jawaban atas kalimat tanya yang jadi judul catatan ini, saya memutar-balik waktu, kembali ke beberapa hari lalu ketika pertanyaan tersebut muncul. Waktu itu saya naik KA Bima dari Jombang menuju Jakarta. Dalam perjalanan saya sempat ngobrol panjang lebar dengan salah satu penumpang segerbong. Obrolan yang semula basa-basi ketika sama-sama mengungsi ke depan WC gerbong untuk merokok akhirnya merembet ke topik-topik lain. Karena obrolan semakin seru akhirnya kami memutuskan ngobrol di kereta makan sambil ngopi.

Entah dari mana awalnya topik obrolan sampai ke pengakuan teman seperjalanan saya akan agama yang dianutnya. Dia mengaku pemeluk agama Budha. Yang membuat saya heran, orang ini asli Jawa Timur yang lahir dan besar di Blitar. Sepengetahuan saya, pemeluk agama Budha di Indonesia kebanyakan etnis Cina. Dia hanya tertawa ketika saya utarakan keheranan saya itu. Selain heran, saya juga tertarik akan perjalanan agamanya. Agama Budha dianutnya sejak dia kelas satu SMP dan sebelumnya pemeluk Islam. Kepindahan keyakinannya menurutnya hanya karena persoalan sepele. Dia dimarahi guru agama (Islam) ketika mempertanyakan keberadaan Tuhan. Sejak itu dia mulai membaca buku-buku tentang agama-agama di luar Islam dan sampai pada keyakinan, “Budha, agama yang cocok buatku”. Dan, mulai kelas satu SMP itu pula di sekolah dia mengikuti pelajaran agama Budha.

Dalam perjalanan religinya, teman saya ini sampai sekarang masih mempertanyakan tentang konsep Tuhan Mahaadil. Karena dia sering mengalami ketidakadilan; katanya dia berasal dari keluarga miskin. Di tempat kerjanya sekarang, misalnya, masih ada diskriminasi agama. Karenanya, untuk melamar ke situ, dia menulis ISLAM di kolom agama KTP-nya.

Saya hanya bersikap netral ketika dia berbicara mengenai keadilan Tuhan. Sedikit pun saya tidak berniat mendebatnya. Namun, ketika kami kembali ke gerbong, pikiran saya jadi liar karena teringat pertanyaan teman baru saya itu.

iya, ya.. kalau Alloh SWT itu adil kenapa ada orang miskin dan orang kaya, orang jelek dan orang cantik/ganteng, ada orang bodoh dan orang cerdas, dst… dst…”. Ada orang miskin yang hidupnya sengsara sementara di tempat lain (bisa jadi tinggal bersebelahan rumah) ada orang kaya yang kekayaannya melimpah ruah dan setiap saat bisa bersenang-senang. Kalau begitu, di mana letak keadilan-Nya sebagaimana dikatakan oleh guru ngaji kita, guru agama di sekolah kita, atau yang dikatakan para khotib di khotbah-khotbah mereka. Bagaimana dikatakan adil kalau apa yang dialami atau diperoleh seseorang tidak sama.

Hasrat untuk menemukan jawaban semakin berputar-putar di kepala saya.

Kepala yang sudah pening karena terpaan dingin AC gerbong semakin pening karena yang ada di pikiran saat itu bahwa sifat Alloh SWT yang dipersoalkan teman saya itu tidak hanya adil, tetapi harus ditambah maha di depannya menjadi mahaadil sehingga maknanya jadi tambah “dahsyat”. “Jawabannya apa ya?” pikir saya. Setelah sekian lama merenung, akhirnya terintas sebuah ide. “Rahasia” sifat Alloh SWT yang termasuk salah satu dari asma ul husnaa ini mungkin ada pada makna kata adil itu sendiri. Saya merasa sedikit lega dengan itu dan berniat menemukan jawabannya kemudian.

Sesampai di rumah saya langsung mengambil Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dan menelusuri makna kata adil. Saya berharap bisa menemukan jawaban di situ.

Rasa kecewa sempat muncul ketika saya membaca makna kata adil di kamus bahasa Indonesia resmi ini. Apa mungkin bisa menjelaskan konsep Alloh SWT itu adil hanya berbekal referensi singkat itu. Hanya berbekal makna kata adil seperti yang tertera dalam KBBI edisi terbaru terbitan tahun 2008 (hlm. 10), yaitu sama berat; tidak berat sebelah; tidak mamihak. Makna-makna ini saya anggap paling memungkinkan untuk kata adil dalam konteks catatan ini (dalam kamus terdapat beberapa kelompok makna).

Waduh… Saya jadi tambah bingung. Kok jadi begini? Melihat kenyataan di dunia, yakni nasib manusia yang selalu berada pada lingkaran baik atau buruk dan makna kata adil dalam kamus, jangan-jangan Alloh SWT memang tidak adil. Kalau Dia itu adil seharusnya tidak berat sebelah dalam menentukan nasib manusia, harus sama berat. Tentu saja saya berpikir seperti itu sambil takut-takut, takut dosa.

Saya jadi putus harapan karena memang berniat menjelaskan hal itu dari sudut pandang ilmu yang terus saya pelajari, ilmu bahasa (linguistik). Oleh karenanya, penjelasannya ingin saya dasarkan pada makna kata adil itu sendiri (semantik: kajian makna). Niat untuk membuat catatan ini pun sempat saya urungkan.

Ya sudahlah, menulis topik lain saja pikir saya. Masalah seperti ini biar diselesaikan para ahli agama.

Aha…. Tiba-tiba terlintas sebuah ide di pikiran saya.

Adil bermakna Sama berat atau tidak berat sebelah. Dengan makna seperti itu, artinya, kata adil hanya bisa berlaku untuk sesuatu yang bersifat jamak (setidaknya berlaku untuk dua hal yang bersifat ganda); bukan tunggal. Dengan demikian, dari segi semantik, kata adil memiliki fitur semantik (+ ganda) dan ( tunggal).

Coba ingat simbol lembaga peradilan kita, sebuah alat timbang (neraca). Benda seperti itu biasanya berupa batang lurus dengan dua mangkuk yang digantungkan pada kedua ujungnya untuk tempat anak timbangan dan benda yang ditimbang, seperti alat yang dipakai untuk menimbang emas (KBBI, 2008:959). Timbangan dikatakan selaras, setimbang, atau sama berat apabila keadaan kedua mangkuk yang berisi anak timbangan dan benda yang ditimbang pada posisi sejajar atau simetris. Kalau sudah demikian, timbangan baru bisa dikatakan adil.

Sekarang mari kita melihat kembali pertanyaan apakah Alloh SWT sudah memberi keadilan bagi umat manusia. Sudah barang tentu dalam hal ini pertanyaan itu bermuara kepada keadaan (baca: nasib) seseorang. Suatu keadaan yang diekspresikan dengan kata baik dan jelek (sudah pasti ini menurut manusia itu sendiri), nasib baik dan nasib jelek. Kondisi fisik seseorang, misalnya, ada yang tampan-cantik dan sebaliknya ada yang jelek. Ada orang kaya dan miskin menurut keadaan kepemilikan akan materi. Dalam hal kecerdasan, ada orang pintar dan orang bodoh. Seseorang yang merasa tampan-cantik, kaya, atau cerdas akan mengatakan dirinya bernasib baik. Sebaliknya, bagi orang yang merasa jelek, miskin, atau bodoh dikatakannya memiliki nasib jelek. Kemudian, mucullah kata-kata atau ungkapan lain untuk mengekspresikan kedua hal di atas, yaitu mujur (mengikuti ungkapan nasib baik) dan apes (berkaitan dengan ungkapan nasib jelek).

Berdasarkan keadaan yang diciptakan Alloh SWT sebagaimana dikemukakan di atas, konteks kata adil dan kata-kata atau frase turunannya (keadilan, tidak adil, dan mahaadil) akan berlaku. Orang yang berpikir dirinya memiliki nasib baik akan mengatakan Alloh SWT sudah berlaku adil atas dirinya. Di pihak lain, seseorang yang menganggap dirinya bernasib jelek akan mengatakan Dia tidak adil atas dirinya.

Kemudian, mari kita bandingkan seandainya Alloh SWT menciptakan manusia di bumi ini dalam keadaan yang sama. Semua manusia dibuat serupa, baik kondisi fisik, kepemilikan akan materi-materi, maupun kondisi kecerdasan mereka (dan keadaan-keadaan lainnya). Dalam keadaan tunggal seperti itu, tidak seorang pun akan merasa dan berpikir memiliki nasib baik atau nasib jelek. Sudah pasti konsep keadilan tidak berlaku dalam keadaan seperti itu karena tidak ada konteksnya. Dengan demikian, kata adil serta kata-kata dan frase turunannya tidak pernah ada dalam memori otak setiap manusia karena kata itu tidak pernah muncul. Manusia pun tidak pernah berpikir dirinya diperlakukan oleh Alloh SWT dengan adil atau sebaliknya.

Sejauh ini mulai ada gambaran bagaimana memaknai sifat Allah SWT yang mahaadil, salah satu sifat yang dimiliki-Nya. Manusia tidak pernah mengatakan-Nya adil kalau tidak ada keadaan baik-jelek itu kan? Berikutnya pasti akan muncul pertanyaan-pertanyaan lain. Beruntung, dong, orang yang diberi nasib baik? Kalau begitu di mana letak sifat adil yang dimiliki Alloh SWT?

Kalau dipikir-pikir benar juga pertenyaan-pertanyaan itu. Merujuk apa yang sering kita dengar yang dikatakan guru agama di sekolah kita bahwa nasib baik atau nasib buruk yang kita alami adalah cobaan dari Alloh SWT. Berarti, seandainya nasib boleh kita pilih sendiri, semua orang pasti berlomba-lomba memilih nasib baik. Bukan tidak mungkin akan terjadi keributan atau bahkan saling bunuh setiap hari karena berebut nasib baik. Jadi tidak adil dong…

Sampai di sini mari kita “bermain” dengan kosa kata lagi setelah mengutak-atik makna kata adil dan kata nasib yang berkaitan dengannya. Pertama-tama kita mainkan sekelompok kata yang menjadi kata-kata mutiara dalam budaya kita, kehidupan itu bagaikan roda pedati yang selalu berputar, kadang di bawah terkadang pula di atas. Begitulah keadaan (nasib) seseorang, selalu berubah setiap saat. Yang kedua masih ungkapan yang sejenis, nasib tidak akan pernah berubah kalau orang bersangkutan tidak mengubahnya. Berdasarkan dua kata-kata mutiara itu, perlu diketahui nasib baik atau nasib jelek seseorang bukan merupakan akhir atau harga mati, tetapi hanya sebagai titik posisi perjalanan hidup orang. Posisi seseorang berada di atas kala bernasib baik dan berada di bawah ketika bernasib jelek. Sewaktu-waktu titik posisi baik atau jelek itu bisa berubah menjadi sebaliknya. Kalau kita diberi fisik yang kurang menarik, imej orang bisa diubah dengan sikap baik kita sehingga orang tidak memperhatikan fisik semata. Dan, kalau seseorang diberi fisik tampan atau cantik, bisa berubah sebaliknya bila tiba-tiba saja mendapat kecelakaan dan wajahnya rusak, sampai anggota tubuhnya diamputasi, dan sebagainya. Orang miskin, misalnya, bisa menjadi kaya kalau mau berusaha keras mencari rejeki (yang halal pastinya). Di tempat lain, orang yang kaya raya bisa saja hartanya ludes karena rumah dan benda-benda berharganya terbakar habis. Orang yang dikatakan bodoh (selama tidak divonis keterbelakangan mental) bisa belajar dan menjadi pandai. Di pihak lain, orang cerdas akan menjadi lambat berpikir karena gegar otak, misalnya. Tidak berlebihan kalau itu semua dikatakan sebagai bukti bahwa nasib bisa berubah dan diubah. Jadi, selain berkaitan dengan kata nasib, kata adil juga berkaitan dengan kata-kata mutiara seperti di awal paragraf ini dan kata berubah yang patut dipertimbangkan sebelum mempertanyakan apakah Tuhan itu adil atau tidak.

Masih ada kata lain yang bisa “dimainkan”, yakni kata berubah. Tidak boleh ditinggalkan pula kata akal dan berpikir. Mengapa begitu? Untuk mengubah nasib, diperlukan akal untuk berpikir. Tetapi, jangan salah-salah juga dalam menggunakan pikiran ini karena ada pikiran positif dan pikiran negatif. Seseorang berpikir akan mengubah penampilannya, tetapi yang muncul pikiran negatif, misalnya menggunakan silikon. Bisa berakibat fatal kan. Bukannya wajah cantik yang didapat, malahan lebih menyeramkan. Bukan nasib baik yang didapat, tetapi musibah yang ada. Demikian pula, orang ingin memiliki materi berlebih tapi didapat dari korupsi, sewaktu-waktu bisa hilang kekayaannya disita pengadilan dan dikembalikan ke negara. Miskin lagi, deh… Itu karena menggunakan pikiran negatif untuk mengubah nasib. Atau, ingin mendapat gelar doktor supaya kelihatan pintar, tetapi disertasinya plagiat. Bisa jadi dicopot gelar doktornya.

Itu semua membuktikan bahwa Alloh SWT itu mahaadil meskipun Dia memberi nasib baik dan nasib jelek kepada segenap manusia di muka bumi ini. Orang yang mau berpikir akan berusaha atau mempertahankan nasib yang sudah dialaminya. Dengan demikian, orang yang nasibnya berubah, baik dari jelek ke baik maupun dari baik menjadi jelek, seyogyanya akan melihat itu sebagai keadilan yang diberikan-Nya.

Begitulah cara saya memahami keadilan Tuhan berdasarkan sudut pandang bahasa, dengan melihat fitur semantik kata adil itu sendiri yang berkonteks harus dalam keadaan ganda atau jamak (bi/poli); bukan kenyataan tunggal (mono). Pun, harus diperhatikan kata-kata lain yang berkaitan dengan konsep keadilan itu, terutama kata berubah. Alloh SWT boleh dikatakan tidak adil kalau Dia menjadikan nasib seseorang sebagai harga mati dan tidak membekali akal untuk manusia berpikir, memutar otak untuk mengubah nasibnya.

Barangkali teman seperjalanan saya itu hanya mendasari ketidakyakinannya berdasarkan nasib jelek yang pernah dia alami sehingga terpaku pada frase tidak adil yang hanya merupakan salah satu turunan kata adil (sifat positif). Dia pun lupa bahwa nasibnya kini sudah berubah, tidak miskin lagi.

Mudah-mudahan pemahaman yang telah saya peroleh ini tidak keliru.

Iklan

About Mochammad

Berpikir dan berkarya sampai tak terbatas masa

Diskusi

2 thoughts on “Masak, sih, Alloh SWT Itu Adil?

  1. bagus..anda lulus dengan predikat cum lauder..

    Posted by kamal | Mei 6, 2009, 11:20 am
  2. Untung bung, endingnya Anda dapat terbimbing untuk menemukan jawabannya sendiri, coba kalau seperti teman di gerbong itu, kacian dia sudah dapat hidayah sbg org. yg beriman eh endingnya jadi murtad (maaf dalam bhs agama). Teruskan eksplorasi spiritualnya ya, tapi bekali diri dengan ilmu yang cukup, biar hasilnya dapat menuntun akal dan hati untuk menerima keberanan yang hakiki. Jangan mudah terkecoh, perampok memang kelihatan banyak harta, tetapi belum tentu dia bahagia, dan si miskin memang tidak punya apa-apa tetapi kalau dengan kemiskinannya itu dia tidak menjual dirinya dengan meminta-minta, dan mau bekerja keras, maka sesunggunya adil tidak hanya diukur dari kwantitas tetapi lebih kepada PROSES bagaimana memperoleh keadilan. Baca QS. Ar Ra’ad 11, QS. Al-Maidah : 8).

    Posted by Ibnu S | Mei 8, 2009, 2:42 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Warung Blogger

Language

PERTINGGAL

RUMPUN

YANG DITULIS HARI INI

April 2009
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Klik URL Tertinggi

  • Tidak ada

Yang Pernah Mampir

  • 71,153 hits
Follow AHAO's Blog on WordPress.com
%d blogger menyukai ini: