you're reading...
Intermeso

Mencerdaskan Bangsa: Gampang di Lidah; Susah di Perbuatan

Hari ini, tanggal 2 Mei, sebagaimana tahun-tahun sebelumnya diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Tanggal ini dipilih sebagai hari pendidikan berdasarkan tanggal kelahiran Ki Hajar Dewantara (yang memiliki nama asli Raden Mas Suwardi Suryaningrat, cucu Sri Paku Alam III), pendiri Perguruan Taman Siswa yang kemudian ditetapkan sebagai Bapak Pendidikan Indonesia. Pencanangan satu hari dalam setahun sebagai hari untuk pendidikan ini menunjukkan Pemerintah Republik Indonesia sangat menyadari betapa pentingnya pendidikan bagi rakyatnya.


Alinea di atas berisi hanya sekelumit hal tentang Hari Pendidikan Nasional. Berbicara tentang pendidikan nasional tidak cukup hanya sehalaman atau dua halaman dalam media seperti ini. Dunia pendidikan di Indonesia memiliki segudang persoalan, baik skala makro maupun mikro. Ibarat sebuah sungai besar, persoalan pendidikan di negara kepulauan terbesar ini ada mulai dari hulu sampai ke hilir, dari tingkat pengelolaan level pusat sampai ke tingkat daerah bahkan unit-unit sekolah.

Bertepatan momen peringatan Hari Pendidikan Nasional ini, entah mengapa saya masih ingin “bermain-main” lagi dengan kata-kata. Apa menariknya? Di balik sebuah kata terkandung makna yang tersurat dan terkadang sekaligus memiliki makna tersirat. Sebagai sebuah simbol (tanda), sebuah kata mengekspresikan sebuah atau lebih (bisa tersurat saja atau ditambah dengan yang tersirat) konsep atau benda yang menjadi acuannya. Kata bunga, misalnya, bisa mengacu kepada benda yang berbentuk tumbuhan dengan ciri-ciri tertentu (tersurat) dan mengacu kepada benda lain dalam konteks khusus, misalnya seorang gadis cantik diibaratkan sebagai bunga (tersirat) . Oleh karenanya, untuk bisa memahami sesuatu dapat dilakukan dengan memahami apa makna kata atau kelompok kata yang mengekspresikan atau mewakili sesuatu itu.

Sekarang mari kita kembali ke topik catatan ini. Pada kalimat terakhir paragraf pertama di atas sudah dimunculkan kata menyadari. Kata tersebut merupakan kata turunan dari kata dasar sadar. Kata itu yang akan “dioprak-aprek” terlebih dahulu. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, selanjutnya disingkat KBBI, (2008:1198) kata ini di antaranya memiliki makna tahu dan mengerti, ingat kembali (dari pingsan dan sebagainya), dan bangun (dari tidur). Pertanyaannya, apa hubungan makna-makna kata itu dengan Hari Pendidikan Nasional? Dengan kondisi pendidikan nasional seperti sekarang ini, dijamin sangat berhubungan. Untuk menjelaskan itu, sebelumnya perlu ditulis kembali di sini kalimat terakhir paragraf awal, yakni pencanangan satu hari untuk pendidikan mengindikasikan betapa Pemerintah Republik Indonesia sangat menyadari pentingnya pendidikan bagi segenap bangsa ini.

Kalau pemerintah menyadari betapa pentingnya pendidikan bagi rakyatnya, artinya dia mengetahui dan mengerti akan kebutuhan pendidikan bagi seluruh rakyat Indonesia. Implementasinya sudah barang tentu pemerintah harus memberikan hak kepada seluruh warganya tanpa kecuali untuk memperoleh pendidikan yang baik. Oleh karenanya, pemerintah harus menyediakan segala fasilitas pendidikan yang layak, memadai, dan terjangkau bagi setiap warganya. Idealnya memang harus seperti itu.

Namun demikian, sampai saat ini masih saja muncul berita-berita tentang “borok-borok” dalam pendidikan nasional. Masih ada keluhan masyarakat akan mahalnya biaya pendidikan meskipun berngasur-angsur diupayakan dan dipropagandakan pendidikan gratis. Masih terjadi demonstrasi yang dilakukan para guru menuntut perbaikan kesejahteraan. Pun kompetensi sebagian guru masih dipertanyakan kualitasnya. Sampai sekarang masih juga bisa disaksikan di televisi berita-berita tentang kondisi gedung sekolah yang tidak layak di berbagai tempat di nusantara ini. Beberapa waktu lalu marak beredar video tentang peristiwa-peristiwa memprihatinkan, seperti pornoaksi dan kekerasan pelajar di berbagai tempat di Indonesia. Era tawuran antarpelajar berlalu; muncul rekaman video porno dan kekerasan yang dilakukan sebagian pelajar melalui kamera telepon genggam. Selain itu, kurikulum pendidikan nasional juga sering berganti sehingga membingungkan para guru sebagai salah satu pelaksana pendidikan. Selanjutnya, momen yang paling populer minggu-minggu ini adalah perdebatan tentang standar nasional kelulusan bagi SD, SMP, SMA yang telah dan akan melaksanakan Ujian Akhir Nasional (UAN). Di atas semua hal itu dan mungkin masih ada cacat-cacat lain dalam dunia pendidikan kita, sampai saat ini besar persentase anggaran pendidikan nasional dari APBN masih menjadi bahan perdebatan di antara para anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan Pemerintah meskipun besarnya anggaran pendidikan sudah mengalami perbaikan dari tahun ke tahun. Itu semua menjadi PR yang belum terselesaikan bagi kita semua, terutama pemerintah.

Berhadapan dengan fakta-fakta yang sudah disebutkan di atas, Pemerintah RI harus menyadari dalam arti mengingat kembali. Mengingat kembali artinya setiap tanggal 2 Mei pemerintah mengintrospeksi pencapaiannya atas tujuan pendidikan nasional ketika Hari Pendidikan diperingati secara nasional. Momen tanggal 2 Mei setiap tahun hendaknya dipakai untuk mengevaluasi kembali apa yang sudah dicapai, yang sedang dilaksanakan, lebih-lebih yang masih belum terlaksana dengan baik sesuai dengan tujuan kebijakan pendidikan nasional. Kalau pemerintah diibaratkan sebagai orang yang pingsan, setalah sadar dari pingsannya itu, akan bertanya saya sedang di mana, apa yang terjadi dengan pelaksanaan pendidikan nasional kita, mengapa masih banyak ketidakpuasan atas pencapaian keberhasilan pendidikan nasional. Demikian seharusnya pemerintah menyadari dalam arti mengingat kembali dan mengintrospeksi atas tugasnya untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. Setelah itu, yang harus dilakukan pemerintah adalah menyadari dalam arti membangun. Kalau diumpamakan sebagai orang yang tidur, pemerintah sadar dari tidur dan melakukan aktifitas pikiran dan fisik untuk mengisi kesadarannya itu. Dengan demikian, setelah mengetahui dan mengerti, mengingat kembali (mengintrospeksi), kemudian pemerintah membangun dalam arti melakukan tindakan-tindakan yang tepat untuk tercapainya tujuan pendidikan nasional.

Kata-kata lain yang menarik untuk “dipermainkan” adalah kata yang muncul di akhir paragraf di atas, yaitu pendidikan nasional. Pendidikan dan pendidikan nasional merupakan konsep makro dalam dunia pendidikan. Paparan berikut ini berisi tentang makna kata pendidikan dan kelompok kata pendidikan nasional.

Pendidikan dalam KBBI (2008:326) memiliki makna proses, cara, atau perbuatan mendidik serta makna konseptualnya adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Proses ini menjadi tanggung jawab siapa? Tentu saja pemerintah harus bertanggung jawab atas terselenggaranya pendidikan. Meskipun ada pihak lembaga nonpemerintah yang turut menyelenggarakan pendidikan, tetap saja arah kebijakan pendidikan nasional menjadi tanggung jawab pemerintah. Jika tidak, sistem penyelenggaraan pendidikan akan menjadi tumpang-tindih.

Dari istilah pendidikan kita menuju ke istilah pendidikan nasional. Pendidikan nasional memiliki makna pendidikan yang bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia menjadi manusia yang beriman dan bertakwa, berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, dan sebagainya (KBBI, 2008:326). Mencerdaskan bangsa tentu akan tetap menjadi arah dan tujuan kebijakan pendidikan di Indonesia dan ini bukan tugas yang ringan bagi setiap pemerintahan yang memimpin negeri ini mengingat kondisi ekonomi yang masih belum bangkit, kondisi geografis yang luas terdiri dari pulau-pulau tersebar di wilayah Indonesia yang luas, jumlah penduduknya yang besar, dan sistem pendidikan yang boleh dibilang masih mencari bentuk bakunya. Seberapapun beratnya masyarakat tetap menunggu hasil kinerja pemerintah untuk menjamin hak mereka dalam mendapatkan pendidikan yang layak dan murah (dalam hal ini saya pribadi tidak setuju pendidikan gratis). Untuk itu, tentu pemerintah harus mengupayakan sistem dan arah kebijakan yang jelas untuk bidang pendidikan dalam konteks makro. Selanjutnya, meningkatkan anggaran pendidikan, merumuskan kurikulum pendidikan yang tepat, meningkatkan kualitas kompetensi guru, pengadaan buku ajar murah, memperbaiki fasilitas yang sudah tidak layak pakai, dan sebagainya. Selain itu, barangkali hak menerbitkan dan distribusi buku ajar sudah waktunya diambil alih pemerintah agar buku-buku yang digunakan di sekolah-sekolah memiliki standar mutu yang baku. Di pihak lain, Kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan sudah tinggi saat ini. Seorang anak, di desa terpencil sekalipun, akan merasa malu dengan teman-temannya kalau tidak bersekolah. Demikian pula dengan para orang tua jaman sekarang, kesadaran akan menyekolahkan anak-anaknya juga sudah cukup tinggi.

Memang tidak gampang mewujudkan cita-cita pendidikan nasional. Sampai sekarang pun penyelenggaraan proses pendidikan masih menghadapi kendala-kendala. Akan tetapi, boleh saja kita berandai-andai cita-cita untuk mencerdaskan bangsa tercapai. Kalau tujuan pendidikan nasional tercapai, bangsa Indonesia akan menjadi bangsa yang cerdas. Cerdas berarti sempurna perkembangan akal budinya untuk berpikir, mengerti, dan sebagainya serta sempurna pertumbuhan fisiknya, sehat dan kuat (KBBI, 2008:262). Apalagi kecerdasan yang dapat dicapai itu meliputi kecerdasan emosional, kecerdasan intelektual, dan kecerdasan spiritual. Cerdas emosional berati manusia indonesia memiliki kecerdasan yang berkenaan dengan hati dan kepedulian antarsesama manusia, makhluk lain, dan alam sekitar. Kalau sudah begini, di Indonesia tidak akan ada konflik karena SARA dan tidak ada orang yang merusak lingkungan. Sementara itu, cerdas intelektual mengindikasikan bangsa Indonesia memiliki kecerdasan yang menuntut pemberdayaan otak, hati, jasmani, dan pengaktifan manusia untuk berinteraksi secara fungsional dengan orang lain. Dengan memiliki kecerdasan ini, masyarakat Indonesia akan mampu membangun negaranya dengan aman dan damai. Selanjutnya, cerdas spiritual merupakan kecerdasan yang dimiliki segenap bangsa Indonesia akan keyakinan adanya Tuhan Yang Maha Esa.Hal ini berarti jika tujuan pendidikan nasional tercapai, Indonesia memiliki sumber daya manusia yang handal, baik secara fisik maupun nonfisik. Berati pula bangsa Indonesia akan tidak mudah diperdaya oleh bangsa lain. Sungguh indah dan Ideal tentunya. Namun, kapan hal itu akan tercapai. Rakyat masih setia menunggu mimpi itu menjadi kenyataan.

Itulah cita-cita pendidikan nasional yang ingin dicapai oleh bangsa Indonesia. Sangat ideal memang sebagaimana apa yang tertera dalam dokumen-dokumen yang kita baca atau melalui orasi-orasi yang sering kita dengar. Namun, Negara kita yang masih tergolong muda dan masih mencari “jati diri”nya ini masih belum terlalu sempurna dalam upaya mencapai kesejahteraan warganya, termasuk dalam hal pendidikan. Melalui momen peringatan Hari Pendidikan Nasional ini saya ingin mengatakan memang mudah memrasastikan ucapan-ucapan dalam undang-undang, peraturan-peraturan, dan keputusan-keputusan berkaitan dengan kepentingan pendidikan nasional dalam bentuk dokumen-dokumen, tetapi tidak mudah melaksanakannya karena kendala-kendala teknis dan manusia.

Cita-cita mencerdaskan bangsa melalui kebijakan-kebijakan pendidikan nasional memang gampang diucapkan, tetapi masih susah diwujudkan. Gampang di lidah; susah di perbuatan.

About Mochammad

Berpikir dan berkarya sampai tak terbatas masa

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Warung Blogger

RUMPUN

YANG DITULIS HARI INI

Mei 2009
S S R K J S M
« Apr   Agu »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

PERTINGGAL

Klik URL Tertinggi

  • Tak ada

Yang Pernah Mampir

  • 68,891 hits

KLIK SUKA YA…

Twitter

Kuberi Dua Potret

"Selalu Indah" Nuansa Biru
Menuju Madani

Selalu ingin mewujudkan kehidupan yang sakinah,mawadah dan warahmah

jtxman

A fine WordPress.com site

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

E R D Y's W O R D S

catatan-catatan pendek

Arevandriyan

Aku bukan orang pintar, aku bukan orang sempurna..Tapi dibalik ketidaksempurnaaku aku ingin menjadikan diriku seorang yang pintar & sempurna..Apa salahnya bila kita saling berbagi walaupun hanya di dunia maya !!!

Don Charisma

because anything is possible with Charisma

Mujaiyah's Blog

Bacalah dengan Nama Tuhan-Mu yang Maha Agung

Cory Eureikha

Be 100 % For Indonesia

Berbagi Pengetahuan dan Pengalaman

Carilah Ilmu yang banyak dan berguna serta sedekahkanlah ilmu itu

Muzuro's Blog

Just another WordPress.com site

Goedang Ilmoe

Hidup adalah Berkarya

erul9

Smile! You’re at the best WordPress.com site ever

My Cache of Unimportance

A noob's blog, nuff said at this time.....

Kamalinev Inc.

Devoted to Arabic Linguistics

%d blogger menyukai ini: