you're reading...
Intermeso

Bu Pengemis… Senyummu Itu, lho….

Pernah melihat pengemis tersenyum? Atau, pernah disenyumi pengemis dengan sangat manis dan ramah? Ini tentu dalam konteks seorang pengemis tidak sedang meminta-meminta kepada kita. Ada apa ya….?

ooOoo

Suatu hari ketika saya dengan teman-teman saya pulang dari kampus UI, di Gang Sawo menuju Jalan Margonda kami berpapasan dengan seorang ibu setengah baya. Tentu ibu itu seharusnya luput dari perhatian kami. Tetapi, tidak demikian adanya karena salah seorang dari teman-teman saya itu mempertanyakan si ibu tadi.

“Siapa tadi, Mas?” tanyanya.

Saya menjawab dengan sepintas sambil jalan, “Pengemis yang biasa mangkal di Kansas?”

Kansas ini tidak lain adalah kantin di FIB, fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (d.h. Fakultas Sastra). Kantin Sastra yang diakronimkan menjadi Kansas.

“Kok senyum sama sampeyan?” tanyanya lagi dengan penasaran.

“Gak ngerti”, saya menjawab sekenanya. “Mungkin sering liat”, kalimat saya berikutnya.

Mungkin teman saya itu heran mengapa saya senyum-senyuman sama pengemis. Menurut saya wajar saja karena dia sering “menghadap” saya ketika sedang makan di situ. Seperti biasa, minta uang pastinya. Kerena sering lihat, tidak heran kalau dia senyum kepada saya ketika ketemu di gang tersebut. Seperti lazimnya ketemu dengan orang yang saya kenal. Waktu tanpa sengaja pandangan mata saya mengarah ke sosoknya, serta merta dia senyum. Saya pun membalas senyumannya sambil mengangguk. Itu juga reflek saja karena dia lebih tua usianya daripada saya.

Yang membuat teman saya terheran-heran mungkin karena dia pengemis dan dia pengemis. Saya juga tidak kenal apalagi ngobrol. Tetapi, yang ingin saya curhatkan di sini bukan perkara saya senyum dengan siapa. Terlebih tentang sosok ibu pengemis tadi.

Saya sering melihatnya di kansas dan saya selalu berpikir ketika melihat penampilannya. Sosok ibu pengemis ini tampak tidak pantas, tidak cocok, sebagai profil pengemis. Postur badannya boleh dibilang gempal. Tidak selayaknya postur orang yang kekurangan makanan. Lebih-lebih setelah dia menyenyumi saya itu. Saya jadi berpikir, “Kok, ibu ini tidak seperti memiliki penderitaan”. Betapa tidak. Senyum yang dia berikan kepada saya itu dia lakukan dengan enteng dan spontan. Bagaimana ya? Saya tidak bisa menggambarkan kepada Anda seperti apa dia tersenyum. Bayangkan saja ketika bertemu dengan teman dan dia tersenyum kepada Anda. Seperti itulah.

Apa yang aneh? Apa karena ibu itu pengemis, dia tidak boleh senyum? Apa karena orang itu kurang beruntung nasibnya lalu tidak boleh senyum kepada kita yang lebih memiliki keberuntungan? Tidak. Bukan itu maksud saya. Siapa saja boleh tersenyum dan kepada siapa saja. Bagi saya pribadi, senyum merupakan pendingin emosi.

Yang menjadi persoalan adalah sosok seperti ibu tadi kok mengemis-ngemis setiap hari. Kegiatan yang terlihat kontras dengan sosok dan senyumannya. Di balik sosoknya tidak tampak adanya ketidaksejahteraan. Dari posturnya yang gempal, mungkin dia tidak pernah telat makan. Dari cara dia tersenyum, sepertinya dia juga tidak menderita secara batiniah. Sepertinya dia mengemis dengan santai; enjoy melakukannya. Tidak ada rasa enggan atau malu setiap hari berkeliaran di FIB meminta-minta.

Seharusnya kan tidak demikian. Mengemis itu perbuatan yang berkonotasi negatif. Identik dengan kemiskinan. Hakikatnya orang mengemis itu karena kepepet, tidak ada jalan lain. Biasanya pun dilakukan dengan sembunyi-sembunyi karena malu. Jadi, pada saat menjalankan operasinya lebih dipilih tempat yang jauh dari tempat tinggal agar terhindar dari kemungkinan bertemu dengan orang yang dikenal.

Bagaimana dengan si ibu pengemis yang menjadi tokoh dalam tulisan ini? Mengapa dia mengemis? Barangkali banyak cerita di balik pilihannya untuk menjadi pengemis. Kalau dia punya niat, pasti dia bisa bekerja di bidang lain yang sedikit memerlukan tenaga untuk orang lain dan mendapat upah karena itu. Jadi pembantu rumah tangga atau tukang cuci, misalnya. Saya yakin tenaganya masih kuat. Atau, bisa saja pada awalnya dia merasa malu jadi pengemis, tetapi karena menikmati hasilnya menjadi terbiasa. Kemungkinan lain dia menjadi anggota sebuah kelompok pengemis terorganisir (kabarnya memang ada). Sebenarnya dia seorang ibu rumah tangga biasa lalu ditawari pekerjaan menjadi pengemis. Tentu diiming-imingi penghasilan yang lumayan dengan tanpa modal dan tanpa kerja keras. Kalau memang dengan, berarti pengemis adalah profesinya.

Itu satu kisah pengemis di UI. Lagi-lagi saya punya pengalaman lagi dengan pengemis. Kali ini kejadiannya di depan (atau di belakang) Gedung Pascasarjana UNJ, di Jalan Pemuda. Ketika sedang menunggu bis yang akan saya tumpangi menuju Depok, lagi-lagi saya diberi penglaman mengesankan berkaitan dengan pengemis.

Ceritanya saya sedang berdiri di bawah jembatan penyeberangan yang ada di situ. Tengah menunggu bis, tiba-tiba sebuah mobil Tibum Jakarta Timur berhenti di hadapan saya karena akan “menangkap” seseorang yang diduga pengemis. Padahal, dari penampilan dan perangkat kerjanya, menurut saya dia pemulung yang sedikit banyak meringankan beban pekerjaan Dinas Kebersihan Kota. Di dalam mobil itu sudah ada beberapa pengemis tua dan anak-anak jalanan yang tertangkap.

Saya saksikan dengan sedih para petugas Tibum itu memaksa pemulung tadi untuk masuk ke dalama mobil. Anda pasti sudah bisa membayangkan cara para petugas itu bagaimana kasarnya, seperti yang ada di tayangan-tayangan berita TV.

Ketika saya melihat ke dalam mobil, apa yang tertangkap oleh penglihatan saya? Kali ini bukan senyuman, tetapi ekspresi seorang nenek pengemis. Anda jangan teriak, “Ekspresinya manaaaaaa?”, seperti yang ada dalam sebuah iklan rokok karena ini ekspresi betulan dan bukan sekedar akting. Aduh, sedih banget. Ekspresi nenek ini memelas banget. Saya jadi bertanya-tanya dalam hati. Kemana keluarganya, anak-cucunya? Perlakuan apa yang dia dapat di kantor Dinas Tibum nanti?

Waktu itu memori saya jadi memanggil peristiwa senyum-senyuman sama ibu pengemis yang sudah terekam di memori jangka panjang (long-term memory) otak saya. Saya pikir nenek-nenek yang ada di dalam mobil Tibum itu sudah tidak seharusnya mencari uang dan itu sudah sepatutnya menjadi tanggung jawab anak-anak atau cucu-cucunya. Tetapi, siapa yang tahu latar belakang kehidupannya? Apa dia juga menjadi anggota kelompok pengemis terorganisir? Yang jelas, nasih si nenek pengemis tidak sebaik si ibu pengemis yang mempunyai “daerah operasi” dan “target operasi” UI dan mahasiswa UI. Si ibu pengemis pasti tidak perlu cemas oleh kejaran Satpam UI. Buktinya sampai sekarang dia masih menjalankan “profesi”nya di kampus. Si nenek pengemis, setiap dia kembali ke jalan, petugas Tibum harus siapa diahadapinya juga.

Senyum dan ekspresi memelas pengemis-pengemis yang saya temui itu begitu mengesankan. Jelas itu membawa pengeruh bagi saya. Ada dilema dalam batin saya. Tidak jarang ketika ada pengemis “menghadap”, sejenak saya jadi ragu mau ngasih apa tidak. Dia pengemis beneran atau tidak walaupun keputusan akhirnya ya ngasih juga. Kalau sudah begini, akhirnya saya cuman dapat berpikir, “Bismillah, saya cuma berniat amal”. Urusan saya Cuma sama “Yang Di Atas”, tidak ada urusan dengan pengemis. Dia pengemis beneran atau karena malas bekerja, menjadi urusan dia dengan Yang dia percaya.

About Mochammad

Berpikir dan berkarya sampai tak terbatas masa

Diskusi

One thought on “Bu Pengemis… Senyummu Itu, lho….

  1. cerita pengemis yang di UNJ itu sedikit mengganggu jalannya cerita.
    karena tiba2 pembaca dialihkan fantasinya dari seorang pengemis yang “menyenyumi” sampean dan telah diceritakan panjang lebar dengan pengemis tua yang kena razia.

    mending kalau cerita pengemis yang di UNJ itu ditulis terpisah, misal dengan judul BU PENGEMIS Part 2.

    dalam tulisan ini ga enak dicernanya karena diakhir cerita pembaca mau tidak mau ikut membandingkan kondisi kedua pengemis ini.

    Posted by almishri | Juli 19, 2010, 9:35 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Warung Blogger

RUMPUN

YANG DITULIS HARI INI

April 2010
S S R K J S M
« Agu   Jun »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

PERTINGGAL

Klik URL Tertinggi

  • Tak ada

Yang Pernah Mampir

  • 68,891 hits

KLIK SUKA YA…

Twitter

Kuberi Dua Potret

"Selalu Indah" Nuansa Biru
Menuju Madani

Selalu ingin mewujudkan kehidupan yang sakinah,mawadah dan warahmah

jtxman

A fine WordPress.com site

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

E R D Y's W O R D S

catatan-catatan pendek

Arevandriyan

Aku bukan orang pintar, aku bukan orang sempurna..Tapi dibalik ketidaksempurnaaku aku ingin menjadikan diriku seorang yang pintar & sempurna..Apa salahnya bila kita saling berbagi walaupun hanya di dunia maya !!!

Don Charisma

because anything is possible with Charisma

Mujaiyah's Blog

Bacalah dengan Nama Tuhan-Mu yang Maha Agung

Cory Eureikha

Be 100 % For Indonesia

Berbagi Pengetahuan dan Pengalaman

Carilah Ilmu yang banyak dan berguna serta sedekahkanlah ilmu itu

Muzuro's Blog

Just another WordPress.com site

Goedang Ilmoe

Hidup adalah Berkarya

erul9

Smile! You’re at the best WordPress.com site ever

My Cache of Unimportance

A noob's blog, nuff said at this time.....

Kamalinev Inc.

Devoted to Arabic Linguistics

%d blogger menyukai ini: