you're reading...
Cerita Rekaan

PULANG

Masjid itu  masih berdiri kokoh. Sama seperti waktu kutinggalkan kampungku sepuluh tahun yang lalu. Bentuknya tidak banyak berubah. Hanya lantainya saja yang sekarang sudah digantikan keramik. Jendela dan pintu-pintunya masih bercat warna hijau daun. Suasananya pun masih tetap seperti dulu, sejuk dan teduh. Mungkin karena pohon-pohon bunga tanjung yang ditanam di sekeliling halamannya masih setia mengayomi lingkungan masjid itu. Dan kini batang pohonnya sudah semakin besar dan tinggi. Masih kuingat betul. Kala berbunga, semerbak harumnya yang khas sampai tercium dari bagian belakang rumah orang tuaku.

Dulu, beberapa tahun lalu aku begitu akrab dengan masjid yang letaknya tepat di seberang rumahku itu. Bedugnya yang kelihatan usang, tapi masih tampak kokoh. Menurut bapakku bedug itu memang sudah berumur puluhan tahun. Atau, pilar-pilar segienam yang menopang semua sisi terasnya. Rasanya baru kemarin aku berlarian berebut memeluk pilar-pilar itu ketika bermain betengan sebelum atau seusai belajar mengaji. Setelah itu berebut memukul bedug begitu Pak Ustad menyuruh menandai datangnnya waktu maghrib.

Semua peristiwa itu tampak begitu jelas seolah-olah baru kemarin aku mengalaminya. Menjalani kehidupan kanak-kanak yang begitu menyenangkan. Kehidupan yang begitu tenang dan damai. Keseharian yang begitu kental dengan suasana religius.

Yah… Itu semua masa lalu yang hampir-hampir tidak pernah kuingat. Atau bahkan nyaris terlupakan selama ini.

Dan, sore ini kenangan-kenangan itu muncul setelah aku sempat memperhatikan masjid itu. Tapi sore ini ada yang kurasakan janggal dengan suasana masjid itu. Kelihatan sepi dan lengang. Padahal pada jamanku dulu, waktu sore seperti ini aku dan teman-temanku sudah berkumpul di halaman masjid menunggu kedatangan Pak Ustad.

“Permisi, Cak”, kudengar suara yang membuyarkan lamunanku seketika karena seorang pemuda tanggung, tetangga yang aku sudah lupa namanya, menyapaku. Kenangan-kenangan itu kembali hilang. Setelah pemuda itu berlalu, kuarahkan lagi kembali pandanganku ke masjid. Mengumpulkan kembali serpihan-serpihan kenangan masa kecil.

Sejenak kemudian pikiranku kembali ke alam kini. Tadi siang memang aku baru datang dari kota tempatku tinggal selama sepuluh tahun terakhir.

“Sepuluh tahun”, desahku perlahan dengan nafas berat dan diiringi asap rokok yang mengepul dari lubang hidungku. Kebiasaan merokok ini juga aku sudah lupa kapan aku mulai dan mengapa aku memulainya. Sesak sekali seperti ada beban berat yang menekan dadaku.

“Yah, ternyata sudah sepuluh tahun lamanya aku tidak pernah pulang”.

Kurbahkan kepalaku ke sandaran belakang kursi teras. Pikiranku kembali menerawang. Menelusuri lagi peristiwa-peristiwa yang terjadi beberapa hari sebelum aku berada di kampung.

Entah kenapa tiba-tiba aku punya keinginan begitu kuat untuk pulang. Pulang, sebuah kata yang selama sepuluh tahun ini nyaris tidak pernah terpanggil dari memori otakku. Tiba-tiba beberapa hari lalu kata-kata itu muncul dari dasar memori otakku. Seperti ada kekuatan dahsyat yang menarikku untuk pulang.

Aku juga tidak tahu mengapa minggu-minggu terakhir ini aku resah. Aku tidak tenang. PErasaanku gamang. Keresahan dan kegamangan yang tidak bisa kupahami ujung pangkalnya. Bayangan wajah kedua orang tuaku, bayangan kampung halamanku, bayangan masa-masa kecil, ingatan akan teman-teman bermainku, dan sesuatu yang tampak samar-samar selalu merasuki pikiranku. Semua itu melintas silih berganti dan membuat konsentrasiku terganggu.

Akhirnya kuputuskan untuk pulang kampung. Sampai-sampai atasan dan rekan-rekan kerjaku bingung dan heran karena permohonan cuti kuajukan begitu mendadak.

“Dikawinin ya, Mam?”, celoteh Riko dari balik monitor komputernnya.

“Apa ada yang sakit, Mam?’ tanya Bu Astrid, “Kok, dadakan banget”, sambungnya.

Aku cuman tersenyum tipis menanggapi komentar rekan-rekanku itu.

Aku memutuskan meninggalkan berbagai kesibukanku yang tidak berujung dan tidak berpangkal itu. Kuputuskan pula meninggalkan gemerlapnya kehidupan metropolitan yang selama ini kujalani. Tapi, sampai saat ini, setelah aku sudah berada di kampung halamanku, perasaanku masih saja kacau.

Aku bangkit dari duduk bersandar, menyalakan rokok, dan kuarahkan lagi pandanganku ke masjid.  Pandangan dan pikiran yang kosong.

“Mam, cepat ambil air wudlu”, suara bapak membuyarkan lamunanku seketika.

Aku tersentak. Kulihat jam tanganku. Memang sudah masuk waktu maghrib. Rupanya aku terlalu larut dalam lamunan sampai-sampai tak kudengar suara bedug dan azan dari masjid. Aku menggeliat dan masih malas-malasan bangkit dari kursi.

“Bentar, Pak”, jawabku sekenanya.

“Di kota kamu tidak pernah lupa sholat lima waktu kan, Mam?” tanya bapak sambil melempar sandalnya ke tangga teras.

Deg! Rasanya jantungku mau copot mendengar pertanyaan bapak yang begitu tiba-tiba. Pertanyaan biasa dari setiap orang tua sebenarnya. Tapi cukup membuat aku terkejut. Tidak menyelidik, tapi seolah-olah bapakku mengetahui segala perbuatanku selama ini. Mungkin itu merupakan kepekaan perasaan orang tua terhadap tingkah laku anaknya. Atau mungkin juga hanya pertanyaan belaka.

“I… iya, tentu, Pak”, jawabku tergagap karena tidak menduga mendapat pertanyaan seperti itu. Sebuah pertanyaan wajar tentunya, tapi kali ini pertanyaan itu bagaikan palu batu yang menghantam kepalaku.

Aku termenung. “Aku sudah membohongi bapak dan diriku”, pikirku. Sejenak penyesalan menyelimuti perasaanku.

“Ada masalah apa tho, Mam?” tanya bapakku lagi. Kali ini cenderung menyelidik. Kupikir bapak sudah berangkat ke masjid. Ternyata masih memperhatikanku dari tangga teras.

“Sepuluh tahun kamu tidak pulang”, lanjut bapakku, “Baru setengah hari di rumah kerjamu nglamun terus”.

Aku terdiam beberapa saat. Aku berpikir mau memberi jawaban apa kepada bapak.

“Entahlah, Pak”, akhirnya jawabku datar. Bapakku diam saja. “Nantilah aku ceritakan”, lanjutku dengan asal, “Lagi pula sudah lama sekali aku tidak ngobrol-ngobrol sama, Bapak”.

Aku masih malas berdiri. Kurebahkan kembali kepalaku ke sandaran belakang kursi.

“Kamu ini gimana tho, Mam”, kata bapakku sambil geleng-geleng kepala, “Kok, malah tiduran lagi, sholat dah mau dimulai”, lanjutnya. Aku bangkit malas-malsan kuikuti bapakku.

“Sore tadi masjidnya sepi sekali, Pak?” sambil berjalan di sisinya kualihkan perhatian bapakku agar tidak mengorek-ngorek sholatku lagi.

“Tak kulihat satu pun anak mengaji di masjid”, sambungku.

Bapak menghela napas. “Sekarang  jarang ada anak ngaji di masjid kita”, jawab bapakku. “Jam segini mereka masih asyik nonton TV. Mereka lebih suka nonton film daripada mencari pahala”, lanjutnya seperti mengeluh.

Aku diam saja setengah tidak menanggapi kata-kata bapakku karena sebetulnya pikiranku masih gamang. akhirnya kami sama-sama diam. Larut dalam pikiran masing-masing sampai terdengar suara muazin mengumandangkan iqomat.

Kubelokkan langkahku ke arah tempat wudlu di sebelah samping kanan masjid. Dari tempat wudlu kudengar imam sholat sudah mengucapkan takbir.

Setelah berdoa selesai berwudlu, perlahan kumasuki serambi masjid. Sejuk. Entah karena kipas angin atau karena apa, aku tidak tahu. Kuperhatikan makmum yang berderet rapi penuh kekhusyukan menyimak surat Al-Fatihah yang dibacakan imam dengan fasih dan merdu. Begitu bening. Hanya suara imam  sholat yang terdengar bergema. Memanggil dan mengetuk hati orang yang alpa.

Seperti ada suatu perasaan lain menyelimuti hati dan pikiranku. Perasaan aneh yang aku sendiri tidak mampu menerjemahkannya.

Segera aku bergabung ke dalam marisan mamkmum. Kusimak ayat-ayat yang dibacakan imam sholat. Kuikuti gerakan-gerakan rukun sholat. Serta merta kurasakan perasaanku begitu sejuk, begitu damai. Setelah kuucapkan salam terakhir, kurasakan begitu tenang jiwaku. Pernapasanku lapang seperti menghirup udara pegunungan.

Oh… Tuhan, inikah rupanya yang selama ini hilang dari kehidupanku. Seakan terjawab sudah apa yang selama ini membuatku resah tak tentu arah sekian tahun terakhir ini.

Aku bersujud lagi. Sujud apakah namanya aku tidak tahu. Yang penting aku ingin berpasrah diri pada Tuhan.

“Ya, Alloh… ya, Tuhanku, inilah rupanya yang membuatku resah akhir-akhir ini”, rintihku dalam hati. “Begitu lama aku menyimpang dari jalan-Mu, ya Alloh. Bahkan aku berani menyentuh hal-hal yang tidak Engkau sukai. Maafkan aku. Ampuni hamba-Mu yang sekian lama alpa ini, ya… Alloh”.

Tanpa terasa air mata mengaliri pipiku. Tiada henti-hentinya aku mengucapkan istighfar.  “Bayangan samar-samar yang muncul akhir-akhir ini rupanya hidayah-Mu. Terima kasih ya Alloh”.

Aku tidak tahu berapa lama aku bersujud sampai kusadari ada tangan yang menyentuh lembut pundakku. Ketika aku bangkit, kulihat bapak duduk bersila di sampingku. Kami berpandangan. Kulihat sorot mata bapakku begitu tenang dan damai. Dari sorot matanya itu aku tahu bapak mengerti apa yang kualami. Tidak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Tiba-tiba bapak tersenyum. Senyum yang begitu kusukai. Senyum yang seolah-olah membuat semua masalahku jadi sirna.

Ditepuk-tepuknya pundakku. Kuraih dan kucium tangan yang sudah keriput itu. Akhirnya, tidak bisa kutahan lagi. Aku menangis bersimpuh di depan bapakku seperti anak kecil.  Bapak mengelus-elus lembut kepalaku. Dibimbingnya aku duduk kembali.

“Maafkan aku, Pak”, kataku perlahan. Bapak hanya mengangguk lalu tersenyum.

“Ayo, kita pulang, Pak Manajer!” canda bapakku, “Ibumu sudah menunggu”. Aku hanya tersenyum.

MOHAMMAD ASYHAR

Narmada (Lombok Barat), 16 Mei 1999

(Ini adalah tulisan lama yang baru sempat dirilis karena dulu belum ada blog-blogan)

Tengah malam di teras kontrakan Cak Jatmiko setalah makan bersama Tuan Rumah (Nyonya Rumah lagi pulang ke kediri, Jatim), didik, joni, dan Pak Teguh dengan menu mie “mblenyek” 🙂

About Mochammad

Berpikir dan berkarya sampai tak terbatas masa

Diskusi

2 thoughts on “PULANG

  1. hati memang tidak bisa berbohong ya mas, semua kehampaan dulu semoga sudah mulai terpenuhi lagi. pengalaman spiritual yg bahkan seorang satria pun tidak ada apa2nya mendapati dirinya, dan takdirnya.

    Posted by cecep | Juni 19, 2010, 5:04 pm
  2. suasana sadar yg menggugah,.. Pernah aku alami, nice

    Posted by wahyu | Juni 24, 2010, 10:40 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Warung Blogger

RUMPUN

YANG DITULIS HARI INI

Juni 2010
S S R K J S M
« Apr   Jul »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

PERTINGGAL

Klik URL Tertinggi

  • Tak ada

Yang Pernah Mampir

  • 68,891 hits

KLIK SUKA YA…

Twitter

Kuberi Dua Potret

"Selalu Indah" Nuansa Biru
Menuju Madani

Selalu ingin mewujudkan kehidupan yang sakinah,mawadah dan warahmah

jtxman

A fine WordPress.com site

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

E R D Y's W O R D S

catatan-catatan pendek

Arevandriyan

Aku bukan orang pintar, aku bukan orang sempurna..Tapi dibalik ketidaksempurnaaku aku ingin menjadikan diriku seorang yang pintar & sempurna..Apa salahnya bila kita saling berbagi walaupun hanya di dunia maya !!!

Don Charisma

because anything is possible with Charisma

Mujaiyah's Blog

Bacalah dengan Nama Tuhan-Mu yang Maha Agung

Cory Eureikha

Be 100 % For Indonesia

Berbagi Pengetahuan dan Pengalaman

Carilah Ilmu yang banyak dan berguna serta sedekahkanlah ilmu itu

Muzuro's Blog

Just another WordPress.com site

Goedang Ilmoe

Hidup adalah Berkarya

erul9

Smile! You’re at the best WordPress.com site ever

My Cache of Unimportance

A noob's blog, nuff said at this time.....

Kamalinev Inc.

Devoted to Arabic Linguistics

%d blogger menyukai ini: