you're reading...
Intermeso

Jangan Sebut Lagi Mereka Sampah Masyarakat

Saat berada di jalanan, terminal, stasiun kereta api, halte-halte, atau di tempat-tempat umum lainnya, masih sempatkah tertangkap oleh mata kita keberadaan pengemis-pengemis atau anak-anak jalanan? Sempatkah tertangkap? Ya, saya memang sengaja memilih kata sempat dan tertangkap yang berawalan ter-. Bukankah awalan itu menunjukkan makna ‘ketidaksengajaan’? Pengemis dan anak jalanan memang masih ada di sekitar kita dan buanyak. Tetapi, banyak yang sengaja tidak melihat mereka, sengaja menafikan mereka itu ada, atau kalau terlanjur melihat mereka, ya, pura-pura tidak tahu. Pengemis dan anak jalanan. Apaan sih mereka itu?

“Masih ingat istilah gepeng?”

“Ya dong… Gepeng itu pipih kan?”

“Ngarang, bukan yang itu”

“lho, emang ada gepeng yang lain?”

“Ya adalah…, gepeng itu akronim dari gelandangan dan pengemis

“Widih, istilah jadul ya, tampang dan pikiranmu kan memang jadul”

πŸ™‚

Apa kita termasuk orang-orang jadul juga? Jadul itu sama dengan jaman dulu, tapi ya nggak dulu-dulu banget kalau banget-banget kan manusia purba namanyaπŸ™‚. Kalau kita termasuk jadul, ya, tentu masih mengenal istilah gepeng itu, gelandangan dan pengemis.

“Ah, mana ada gelandangan jaman sekarang, tapi kalo pengemis banyak, sih”

“Emang kamu tahu gelandangan itu apa?”

“Ya, tahulah… Gelandangan itu kan orang yang nggak punya rumah. Bahasa ‘londo’nya itu homelees

“Nah, tuh tahu, lalu kamu kemanain anak-anak jalanan kalau kamu bilang gelandangan ga ada?”

“Ya tahu, mah, kalo yang itu.. Maksudku itu bapak-bapak dan ibu-ibu jalanannya, yang gede-gede, mana ada mereka”

“Ada kok, kamunya aja yang nggak tahu. Coba liat di kolong-kolong jembatan. Jembatan layang atau yang nggak layang. Di pinggir-pinggir kali juga masih ada kok”

Ya, memang kenyataan kalau mereka, gelandangan dan anak-anak jalanan, itu masih ada dan masih banyak jumlah mereka di negeri ini. Kota Jakarta yang merupakan “Wajah Indonesia” dan kota besar lain, seperti Surabaya, malahan “menyimpan” gelandangan dan anak jalanan dalam jumlah besar. Lalu, mereka itu siapa? Mengapa mereka masih saja ada?

“Siapa sih gelandangan dan anak-anak jalanan itu?”

“Nggak tahu, aku nggak kenal”

“Kirain tetangga atau adik kamu. Makanya kamu kenalan dulu”

“Hahahaha sontoloyo pembualan. Sembarangan aja ngomong. Kalo dia itu adikku ya udah aku peluk dari tadi. Kalo dia tetanggaku, udah dari tadi aku kenalin ke kamu”

πŸ™‚

Mengulang kembali pertanyaan yang tadi, siapa gelandangan dan anak-anak jalanan itu. (Jangan ikut-ikutan menjawab seperti dalam obrolan di atas) Mereka itu sering dimasukkan dalam kelompok sosial yang diberi istilah SAMPAH MASYARAKAT. Yang termasuk dalam kelompok masyarakat ini tidak hanya pengemis dan anak-anak jalanan, tetapi ada preman-preman jalanan, penjahat-penjahat, dan para perempuan yang terjebak dalam dunia prostitusi. Sampah?

“Di, tolongin ibu buangin sampah”

“Barang-barang ini mesti dibuang ya, Bu?”

“Tentu, itu kan sampah. Itu kan barang-barang yang sudah tidak berguna lagi, tidak diperlukan lagi”

Memang, barang-barang yang tergolong dalam kumpulan sampah, ya, harus dibuang. Keberadaannya membuat pemandangan tidak indah dipandang mata. Kalau kelamaan dibiarkan, bau busuknya bisa menyebar kemana-mana. Sampah-sampah seperti itu sumber penyakit. Tetapi, pengemis-pengemis, anak-anak jalanan, preman-preman jalanan, penjahat-penjahat, atau perempuan-perempuan (ada yang laki-laki juga sih) prostitusi itu bukan sekumpulan benda-benda atau barang-barang. Mereka itu manusia seperti pejabat yang dihormati dan disegani, seperti para kyai yang disanjung, seperti artis-artis yang dipuja-puja, atau manusia-manusia terhormat lainnya.

Lalu, kalau mereka itu manusia, mengapa mereka disebut sampah, sampah masyarakat? Berarti kalau digolongkan sebagai sampah, manusia-manusia tidak beruntung itu harus dibuang, dong. Akan dibuang kemana? Tidak mungkin juga, kan,Β  mereka dibuang di Bantar Gebang, TPA (tempat pembuangan akhir) yang keberadaannya sempat diwarnai kericuhan. Lucunya lagi, kalau mereka dianggap sampah berarti tidak bisa didaur ulang karena mereka termasuk sampah organik. Kalau pun bisa dimanfaatkan, ya, dibuat pupuk. Tapi lagi-lagi, yang perlu ditegaskan lagi adalah mereka itu kan manusia, bukan benda atau barang.

Sekali lagi mengulang kembali pertanyaan di atas. Mereka itu apa dan siapa, sih? Mereka itu manusia. Ya, mereka memang manusia. Pengemis-pengemis, anak-anak jalanan, bapak-bapak dan ibu-ibu jalanan, preman-preman jalanan, penjahat-penjahat, dan pelacur-pelacur (laki-laki atau perempuan) adalah sekelompok manusia. Bukannya manusia itu merupakan sumber daya. Sumber daya (manusia dan alam) itu adalah aset. Jangankan sekelompok manusia, seorang manusia pun juga merupakan aset sebuah bangsa.

Orang-orang tidak beruntung dan salah jalan yang selama ini dianggap sebagai sampah masyarakat adalah aset yang terabaikan atau barangkali aset yang diabaikan. Mereka-mereka itu sudah terlanjur ada dan banyak. Lalu, siapa yang harus bertanggung jawab atas keberadaan sumber daya manusia yang terabaikan itu? Kalau sudah menjadi patologi sosial seperti itu, ya, sudah semestinya menjadi tanggung jawab pemerintah, terutama. Masih beruntung setiap pemerintahan yang eksis (saya tidak suka menggunakan kata “berkuasa” karena mengandung nilai negatif)Β  di negeri ini dibantu oleh lembaga-lembaga swadaya masyarakat atau perseorangan dalam menangani orang-orang yang terabaikan ini.

Setiap manusia dalam sebuah negara yang beradab, beradat, berbudaya, dan terutama beragama seharusnya diberi hak dan kewajiban yang sama. Tugas berat memang dalam hal mengentaskan aset yang terabaikan itu. Mudah-mudahan para pemimpin negeri ini masih ada niat dan usaha untuk peduli akan hak dan kewajiban manusia-manusia tidak beruntung dan salah jalan itu. Jangan lagi mereka disebut SAMPAH MASYARAKAT. Dengan istilah itu, yang ada bukan peduli, tetapi niatan untuk membuang. Bukankah hakekatnya sampah harus dibersihkan dan kemudian dibuang. Kalaupun ada yang bisa dimanfaatkan dari seonggok sampah, tentu hanya sebagian kecil saja.

Manusia bukan benda atau barang. Karenanya, sangat tidak manusiawi kalau mereka disebut sampah.

(Akhirnya hari ini bisa posting lagi.

Untung tadi ada kegiatan membuang sampah hingga muncul ide tulisan ini)

About Mochammad

Berpikir dan berkarya sampai tak terbatas masa

Diskusi

11 thoughts on “Jangan Sebut Lagi Mereka Sampah Masyarakat

  1. Great Write . . . . Respector !!!

    Q pernah ngikut kawan Q ngamen sampe bela-belain ga pulang kerumah en bolos sekolah waktu ntu, cuma niatan nyari pengalaman en mau ngerasain idup di jalan juga ngelatih mental, ternyata mereka lebih manusiawi, coba bayangin om, Q ngament pe senen-jkt waktu ntu, awalnya Q takut + ngedon juga salaman ma para pengamen n;tu, bayangin aja muka en stylenya rame bangad da kaya pasar malem, sangar kaya ga humoris gitu….

    di setiap haltenya kita berenti atau dari gerbang tol pe gerbang tol, aneh Q waktu turun dari ngamen, salam-salaman ma mereka, ternyata mereka respec bangad, dan lebih manusiawi welcome ma orang, ketika itu Q sama kawan Q ngitung duit di pinggir jalan ma anak-anak jalanan laen, dan ternyata hasil dari ngamen Qta cuma ada 5000 ga cukup buat makan ber-2.

    ga pake banyak cingcong (ga seperti anggota dewan yang cingcong mulu minta gajinya naek, padahal mah gaweannya cuma ngacung doank !!! heee so politikus dikit deh).

    pe mana tadi, oia ga banyak cingcong ada pengamen yang ngasih roko, + minum, heeeran terheeeran Q ma lagunya mereka, lah wong lom kenal ja mereka da respect bangad…

    wal hasil Q lirik kata SAMPAH dan MASYARAKAT yang melekat pada diri mereka sebagai pujian, toh Q ga mau nyari kambing hitam siapa yang salah . . .

    penjelasan dari kata SAMPAH buat q tuh artinya “mereka adalah orang-orang yang mengenal bau kenaifan, dan mereka adalah MASYARAKAT yang bErMasyarakat, yang sosial bukan anti sosial tapi nilep jatah orang . . . .

    dan SAMPAH MASYARAKAT adalah Objek buat orang yang menganggap meraka adalah MASYARAKAT SAMPAH

    Posted by bieogravie | Juni 25, 2010, 5:28 am
    • Don’t judge the book by its cover ‘jangan nilai sebuah buku dari sampulnya’ kira-kira begitu makna pepatah itu
      yaaah, kadang kita mendapati sebuah buku yang sampulnya kumal dan ndak utuh, tapi isinya buagus banget padahal gak ada orang yang tertarik lagi dengan buku itu. Sebaliknya, ada buku yang sampulnya lux, tebal, dan indah, tapi isinya ga banyak manfaat, ga banyak pengetahuan yang didapatkan darinya.
      Seperti yang Abie ceritain tadi kan… Dah mengalami ndiri dan mendapatkan pelajaran dari jalan.
      Orang-orang seperti yang Abie temui itu punya sesuatu yang kadang tidak dipunyai orang-orang yang dianggap dan merasa lebih terhormat. Apa itu? SOLIDARITAS…
      Apa jadinya kalau sikap solider itu sudah ndak ada… Kata “kepedulian” bisa-bisa hilang dari daftar kata sebuah bahasa karena dah dilupakan dan tidak pernah dipakai lagi dalam kehidupan sehari-hari…

      Posted by Mochammad | Juni 25, 2010, 1:39 pm
  2. tak bisa koment….. tapi…
    ikut mambaca…..πŸ™‚

    Posted by erwinaziz | Juni 26, 2010, 9:37 pm
  3. πŸ™‚ matur suwun sanget, dah bersedia membaca.

    Posted by Mochammad | Juni 26, 2010, 10:08 pm
  4. Lucu tapi kritis. GREAT….!!!!

    Posted by asep | Juni 27, 2010, 3:10 am
  5. Saya… seandainya saya punya banyak uang, ingin sekali menolong dan membantu mereka…😐

    Posted by Asop | Juni 29, 2010, 1:05 pm
  6. sedikit mengutip teori kriminologi, orang menjadi jahat karena distigma jahat. begitu juga dengan gelandangan dan pengemis, karena sudah kadung distigma jelek, pada akhirnya mereka tidak bisa melepaskan diri dari stigma itu..

    yah, kadang emang penting untuk memposisikan diri pda wilayah mereka, minimal untuk mengetahui perasaan mereka…

    Posted by Agus Lenyot | Juni 30, 2010, 12:08 am
  7. Bagaimana dengan pengamen yang dengan sengaja mengintimidasi penumpang?
    Atau meminta dengan paksa?
    Saya sangat sering bertemu dengan pengamen yang seperti itu. Bahkan kalo ga dikasih berani mengancam . Wajar saja jika ada orang yang memaki.
    Walaupun tidak bijak juga jika kita menyamakan semuanya.
    Tapi masih ada juga yang tidak diperlukan.
    Bayangkan saja jika hanya meminta memaksa memalak mengancam setelah dapat uang hanya di pakai mabok. Sedangkan itu uang dari kita yang dikasih akan d belanjakan barang haram.

    Jangan menutup mata.
    Kita tidak boleh menghakimi.
    Tapi kita juga tidak terlalu lengah.

    Posted by krisnadwi | Maret 2, 2013, 6:18 pm
    • Apa pun modusnya, muaranya di kesejahteraan yang belum menjangkau mereka. Pun, juga tidak bisa mereka dihujat-hujat tanpa ada upaya mengentaskan mereka dari lembah kemiskinan.πŸ™‚
      Terima kasih apresiasinya…

      Posted by Mochammad | Maret 4, 2013, 10:53 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Warung Blogger

RUMPUN

YANG DITULIS HARI INI

Juni 2010
S S R K J S M
« Apr   Jul »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

PERTINGGAL

Klik URL Tertinggi

  • Tak ada

Yang Pernah Mampir

  • 68,891 hits

KLIK SUKA YA…

Twitter

Kuberi Dua Potret

"Selalu Indah" Nuansa Biru
Menuju Madani

Selalu ingin mewujudkan kehidupan yang sakinah,mawadah dan warahmah

jtxman

A fine WordPress.com site

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

E R D Y's W O R D S

catatan-catatan pendek

Arevandriyan

Aku bukan orang pintar, aku bukan orang sempurna..Tapi dibalik ketidaksempurnaaku aku ingin menjadikan diriku seorang yang pintar & sempurna..Apa salahnya bila kita saling berbagi walaupun hanya di dunia maya !!!

Don Charisma

because anything is possible with Charisma

Mujaiyah's Blog

Bacalah dengan Nama Tuhan-Mu yang Maha Agung

Cory Eureikha

Be 100 % For Indonesia

Berbagi Pengetahuan dan Pengalaman

Carilah Ilmu yang banyak dan berguna serta sedekahkanlah ilmu itu

Muzuro's Blog

Just another WordPress.com site

Goedang Ilmoe

Hidup adalah Berkarya

erul9

Smile! You’re at the best WordPress.com site ever

My Cache of Unimportance

A noob's blog, nuff said at this time.....

Kamalinev Inc.

Devoted to Arabic Linguistics

%d blogger menyukai ini: