you're reading...
Intermeso

Asyik Banget Jadi Orang Indonesia

Di depan tempat tinggalku untuk sementara ini (sebut saja kos-kosan) ada warung kopi (warkop) tempat aku dan sesama teman kos biasa makan mie dan minum kopi atau teh. Tempatnya sederhana, tapi suasananya enak buat nongkrong sambil ngopi dan ngobrol-ngobrol. Para pengunjung tetap warkop itu ada yang bernama E..i, H…a, F…y yang orang-orang Padang, ada Pak J…l yang dari Aceh, ada B..i yang bersuku Batak, A…f dan Kang A..s (pemilik warkop) yang anggota boboto alias pendukung Persib alias orang Sunda, tidak ketinggalan Mas P…..o dan Mas B..i priyantun saking Jawi, sekali-sekali Mas A.i yang orang NTT juga ikut gabung, serta aku sendiri orang yang bersuku campur-campur karena ibuku dari Maluku dan bapakku orang Jawa sedikit campuran Madura. Sengaja aku sebutin nama teman-teman “sosialita”ku itu dengan teknik fill in the blank karena kode etiknya tidak boleh menyebut nama seseorang. Sementara kalau pake inisial dari huruf awal nama mereka, mereka kan bukan pelaku tindakan kriminal🙂. Singkat kata, boleh dibilang warkop tempat kami “hang out” itu sebagai Indonesia kecil, miniatur Indonesia.

Temukan benang merahnya dengan ngeklik kalimat “Baca selanjutnya…” di bawah ini.

Terima kasih karena (terpaksa) tetap meneruskan membaca.🙂

Yang ingin aku sampaikan melalui catatan ini sebenarnya sudah terpikirkan lama, tapi tema-tema kecilnya masih berserakan. Karenanya, muncullah paragraf di atas, masih belum benar-benar ketemu benang merahnya dengan judul catatan kali ini. Ehm… dimulai dari mana, ya, enaknya???

Aku mulai saja dari ke-Indonesiaanku, ya. Seperti sudah kusinggung-singgung pada paragraf pembuka tadi, aku ini memiliki darah dari beberapa suku di Indonesia. Setidaknya darah yang mengalir di dalam tubuhku berasal dari tiga pulau di Nusantara ini, Pulau Jawa, Pulau Haruku (Maluku Tengah), sedikit dari Pulau Madura. Barangkali ada sedikit darah Eropa hahahaha… Tapi kurasa nggak karena nggak ada tanda-tandanya. Yang jelas dengan komposisi seperti itu aku sudah merasa sangat Indonesia. Walaupun aku nggak keliatan ke-Malukuannya, tapi tidak juga tampak banget sebagai orang Jawa atau Madura. Seringnya malah dikira orang Sumatera. Cukup nyarulah wajahku. Sepertinya sangat cocok buat dijadikan mata-mata hehehe…

Cukuplah bernarsis-narsis ria. Menceriterakan diri sendiri. Sekarang kita kembali saja ke topik yang sebenarnya ingin aku bagi dengan Anda yang sempat mampir ke blog ini dan membaca-baca isinya. Yang kumaksud dengan “asyik menjadi orang Indonesia” itu tidak lain adalah orang-orang Indonesia semestinya beruntung ditakdirkan lahir di Bumi Pertiwi ini. Siapa pun itu orangnya. Apakah orang itu pribumi atau nonpribumi. Dua istilah itu sebenarnya nggak penting. Bukankah sejarahnya manusia-manusia Indonesia yang disebut dan menyebut dirinya pribumi itu sejatinya juga manusia-manusia pendatang dari wilayah lain yang migrasi ke Nusantara ini beribu-ribu tahun yang lalu. Munculnya dua istilah beroposisi itu cuma karena persoalan siapa yang datang duluan dan siapa yang data belakangan ke wilayan republik ini.

Mengapa harus merasa beruntung?

Begini. Indonesia dengan segala tetek-bengeknya yang beragam itu sebenarnya memberikan banyak hal yang seharusnya bisa membuat kita, orang Indonesia, bisa hidup senang. Pulau-pulaunya yang tersebar dari timur ke barat dari  pulau yang besar sampai pulau-pulau kecil yang hanya beberapa meter persegi saja besarnya. Berpenduduk yang terdiri dari berbagai macam suku. Rakyatnya hidup dalam beragam budaya. Masyarakatnya berkomunikasi sehari-hari dengan berbagai bahasa daerah. Manusia-manusianya beribadah dengan berbagai macam agama dan kepercayaan. Orang-orangnya mengkonsumsi berbagai macam kuliner dan lezat-lezat.   Alam Indonesia pun berbagai ragam. Di negara ini tidak sulit menemukan gunung yang berderet-deret dari ujung barat sampai ke timur, pantai-pantai nan indah mengelilingi wilayahnya, danau-danau, hutan-hutan (sudah semakin menghilang :(), plus laut-lautnya.

Ah, itu semua kan keadaan yang semuanya tampak ideal. Kenyataannya banyak orang susah di negara ini. Memang iya. Pernyataan seperti itu tidak salah. Tapi, apa yang diilustrasikan di atas benar juga, kok. Terlepas dari plus-minus keadaan Indonesia sekarang, carut-marut perekomian  (ini biar ahli-ahli ekonomi yang bicara) atau alam-lingkungan negeri ini yang mulai mengkhawatirkan (nah, kalau yang ini urusan kita bersama), dengan aset yang disebutkan tadi, jadi orang Indonesia itu asyik, asyik banget malahan.

Bagi orang Indonesia yang “gaul” (maksudnya nggak berkutat di satu tempat selama hidupnya) tentu merasakannya. Orang Indonesia yang lahir dan besar di Pulau Jawa, misalnya, bisa sekolah di Sulawesi dan kemudian bekerja di Kalimantan atau suatu tempat di pulau-pulau lainnya. Contah lainnya, orang Jawa yang berbudaya jawa bisa tinggal di Lombok dengan budaya sasaknya. Itu menimbulkan keindahan karena bisa mengenal budaya lain yang terkadang membuat kita geli karena perbedaan budaya dan bisa menjadi bahan cerita menarik sewaktu pulang kampung. Bagi yang suka menikmati perjalanan liburan, tempat-tempat indah di Nusantara ini tak kan habis dikunjungi kalau misalnya kita rencanakan setiap tahun pergi liburan. Ingin wisata apa saja tersedia di negeri ini, kecuali yang berhubungan dengan salju tentunya. Bosan dengan makanan rumahan, kita bisa pergi ke rumah makan beli makanan padang yang jumlahnya seperti jamur di musim hujan atau tinggal nyontek dari buku-buku resep makanan nusantara dan masak sendiri. Dari segi bahasa? Kita tidak susah berkomunikasi dengan teman lain suku yang berbeda bahasa. Kan, kita punya bahasa Indonesia yang dikuasai hampir seluruh penduduk negeri ini. Indah bukan?

Nah, sekarang kita tarik benang merah dengan paragraf pertama tulisan ini. (Menurutku kok nggak jelas juntrungannya, ya :)) Kali ini dalam hal enaknya bersosialisasi. Di warkop depan kos-kosanku itu kubilang seperti miniatur Indonesia, Indonesia mini (bukan TMII, lho). Kami, yang dengan sok-sokan aku sebut tadi dengan istilah “sosialita”, bergaul akrab meskipun berbeda-beda suku dan ada yang beda agama. Tidak pernah ada yang dengan serius memandang si E..i orang Padang, Pak J…l dari Aceh, atau Mas A.i yang orang NTT dan beragama Katholik. Sesekali, ya, pernah jugalah, tapi dalam konteks bergurau yang tidak sampai menimbulkan konflik.🙂

Kurang enak seperti apa jadi orang Indonesia. Orang-orang Indnenesia bebas mengunjungi seluruh wilayah nusantara ini. Kita bisa menikmati berbagai macam makanan yang bule-bule sampai terngiler-ngiler. Kita bisa datang dan tinggal di suatu tempat dengan tanpa ada penolakan dari orang-orang setempat. Atau, orang-orang dari berbagai pulau datang dan tinggal di suatu tempat dan bisa bergaul akrab seperti kami yang berasal dari berbagai suku dan pulau ini sering berkumpul di satu warkop, ngopi bareng, bercanda, dan berbagi cerita. Asyik banget, deh.

Itulah asyiknya jadi orang Indonesia. Dalam perbedaan itu kita menyatu. Mungkin sebenarnya kita tidak sadar bahwa kita memiliki perbedaan sehingga bisa saling menerima dengan baik. Kalaupun ada konflik di beberap wilayah, itu hanya riak-riak kecil yang mengganggu, tapi terkadang tidak terasakan oleh kita. Kalau boleh meminta, sih, riak-riak seperti itu tidak ada di Bumi Pertiwi ini. Mengapa kita bisa seperti itu, ya? Apa ini keberhasilan pelajaran P4 yang semi “memaksa” pada suatu masa tertentu dulu atau pelajaran Wawasan Nusantara? Kurasa bukan karena itu. Generasi sekarang, kan, hampir tidak mengenal dua pelajaran (atau indoktrinasi) itu. Barangkali ini dah kodrat kita sebagai bangsa yang mendiami wilayah administratif bernama Republik Indonesia ini.

Kodrat? Kalau tidak membaca tulisan ini, apa Anda sadar bahwa orang yang duduk di sebelah atau orang hidup serumah dalam satu ikatan perkawinan itu orang yang berbeda suku, berbeda asal, berbeda budaya dengan Anda? Nggak kan? Mudah-mudahan setiap orang di Indonesia ini tidak tersadarkan bahwa mereka sesungguhnya berbeda-beda. Dengan begitu, pada saat berkumpul kita bisa mengatakan kepada kawan nongkrong di sebelah kita, “Asyik banget ya jadi orang Idonesia”.

Sebenarnya, seperti sudah dikatakan di awal,  tulisan ini aku maksudkan untuk berbicara tentang nasionalisme yang sudah terpikirkan sejak bulan kemaren, tetapi belum sempat nulis. Tapi, kok ceritanya jadi seperti di atas ya?🙂 Sudahlah, yang penting hari ini masih bisa posting hehehehe. Nah, sebagai penutup, anggap saja ini eNBe-nya: Nasionalime itu menurutku adalah ketika kita menyadari kita ini berbeda-beda dalam banyak hal yang termasuk dalam SARA, tapi kita nggak peduli tentang hal itu dan yang penting asyik-asyik aja dengan perbedaan-perbedaan itu. Intinya, sebenarnya aku nulis ini saja, sih, tapi kalau cuma segitu kan ndak jadi bikin orang capek baca.

(Mohon maaf kalau tulisannya lari ke mana-mana dan tidak sesuai dengan judul. Anggap saja rangkaian kereta yang lagi anjlok dari relnya🙂

About Mochammad

Berpikir dan berkarya sampai tak terbatas masa

Diskusi

5 thoughts on “Asyik Banget Jadi Orang Indonesia

  1. wah bener banget tuh.. kita kan punya Bhineka Tunggal Ika yang memang sangat cocok dengan Indonesia. so perbedaan itu indah kok.. justru ketika bisa manfaatinnya kita bisa saling belajar banyak hal.. kunjungan balasan nih terima kasih sudah mampir blog saya🙂

    Posted by 'Ne | Juni 27, 2010, 6:09 am
  2. ada Mas G juga loh….hehehe iya Tuhan sengaja membuat kita bersuku2 dan berbangsa2 yg beda utk saling mengenal. so……perbedaan itu sunatullah…
    proud to be indonesian🙂

    Posted by mas gurit | Juni 27, 2010, 7:09 am
  3. @’Ne, Terima kasih dah mampir balik. Dah aku link tuh. Cek aja…🙂
    @Mas G, eh, Mas Gurit: Matur suwun umpan baliknya. Berwarna lebih semarak dan indah🙂

    Posted by Mochammad | Juni 27, 2010, 9:05 am
  4. Kalu dari Pulau, alam Indonesia menang banyak, It’s Our County . . . is Beuty . . . but alangkah baiknya kalo kita bangsa indonesia yang ngga individualis tapo Sosialis ini punya idealis (kayanya kebanyakan listnya neeeh . . .. ).

    so penekanan yang mau aQ sampein sih cuma penyesalan kenapa Qta kurang peka (my be untuk kesekian persen orang aja) tapi toh kesikian orang yang kurang peka itu yang udah ngacak-ngacak bumi pertiwi, andainya kita semua punya rasa cinta kasih, tentu ga kalah sama peranc atawa amrik. di peranc pengamen bukan SAMPAH MASYARAKAT, melaikan karya seni yang bergerak, di JEPANG punya Geisha yang bukan Jablay murahan kaya di Indo, but dia punya totalitas pada suatu seni dan bukan jual daging semata (waduuu .. . .h . .. bahasanya . .. !!!)

    so kalu boleh ikutan narik garis merah, alangkah baiknya kalo rasa Nasionalis di sandingkan dengan Idialisme bangsa untuk bangkit, bersatu. . . . karena KUAT KITA BERSINAR !!!

    salam Om . . .. rajin pisting neyh .,

    Posted by bieogravie | Juni 27, 2010, 8:16 pm
    • Setuju… setuju… setuju banget buat tambahan seperti yang disampaiin di bagian akhir. Nasionalisme itu ketika kita sadar bahwa kita berbeda tetapi cuek-cuek aja dan bersama-sama dalam perbedaan itu membangun kembali idealisme untuk menjadi bangsa yang bersinar, menjadi INDONESIA (yang benar-benar) RAYA.

      Tetep rajin posting, Bie… Menulis itu kan keterampilan. Lazimnya keterampilan itu harus terus dilatih biar benar-benar mahir. Nah, sekarang ini aku juga masih terus berlatih.

      Begitulah kira-kira ….🙂

      Posted by Mochammad | Juni 27, 2010, 10:59 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Warung Blogger

RUMPUN

YANG DITULIS HARI INI

Juni 2010
S S R K J S M
« Apr   Jul »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

PERTINGGAL

Klik URL Tertinggi

  • Tak ada

Yang Pernah Mampir

  • 68,795 hits

KLIK SUKA YA…

Twitter

Kuberi Dua Potret

Nuansa Biru Kelihatan banget lantainya kotor 😀
Menuju Madani

Selalu ingin mewujudkan kehidupan yang sakinah,mawadah dan warahmah

jtxman

A fine WordPress.com site

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

E R D Y's W O R D S

catatan-catatan pendek

Arevandriyan

Aku bukan orang pintar, aku bukan orang sempurna..Tapi dibalik ketidaksempurnaaku aku ingin menjadikan diriku seorang yang pintar & sempurna..Apa salahnya bila kita saling berbagi walaupun hanya di dunia maya !!!

Don Charisma

because anything is possible with Charisma

Mujaiyah's Blog

Bacalah dengan Nama Tuhan-Mu yang Maha Agung

Cory Eureikha

Be 100 % For Indonesia

Berbagi Pengetahuan dan Pengalaman

Carilah Ilmu yang banyak dan berguna serta sedekahkanlah ilmu itu

Muzuro's Blog

Just another WordPress.com site

Goedang Ilmoe

Hidup adalah Berkarya

erul9

Smile! You’re at the best WordPress.com site ever

My Cache of Unimportance

A noob's blog, nuff said at this time.....

Kamalinev Inc.

Devoted to Arabic Linguistics

%d blogger menyukai ini: