you're reading...
Intermeso

Toko Ada Ini Ada Itu

Toko ada ini ada itu. Tentu itu bukan toko biasa. Istilah kerennya supermarket. Sebuah toko yang sangat besar layaknya sebuah pasar karena menyediakan ini dan juga menyediakan itu alias toko serba ada.

Istilah supermarket itu mewakili sebuah tempat belanja yang menyediakan segala kebutuhan sehari-hari. Tempat belanja seperti itu biasanya memiliki ciri-ciri bersih, ber-AC, barang tertata rapi menurut katalog sesuai dengan jenisnya, dan dijaga pramuniaga-pramuniaga berpenampilan menarik. Sistem pembayarannya pun boleh tunai atau menggunakan kartu kredit dan ATM.

Bolehlah dikatakan sebagai pasar modern sebagai pertentangan dengan pasar konvensional yang disebut dengan istilah pasar tradisional yang terkesan kumuh, jorok, dan panas.  Ketika mulai diperkenalkan pasar “model” ini, pada umumnya bertempat di gedung-gedung pusat perbelanjaan yang berlokasi di pusat kota. Gedung beberapa lantai yang dirancang sebagai sebuah pusat perbelanjaan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dari mulai kebutuhan konsumsi (sembako), sandang, sampai dengan alat-alat rumah tangga dan bahkan dilengkapi berbagai tempat hiburan, seperti studio pemutaran film, arena bermain anak-anak, dan pusat jajanan.

Jadi, “pasar” seperti itu boleh dibilang lebih memanjakan konsomen dengan fasilitas dan pelayanannya. Ketika berbelanja, kita tinggal pilih-pilih barang yang diinginkan, masukkan ke dalam keranjang dorong atau jinjing, bayar, dan selesai. Sambil menunggu istri mereka belanja, para suami dan anak-anak bisa menikmati fasilitas arena bermain untuk anak-anak. Sebelum pulang, bisa mampir dulu ke pusat jajan yang disediakan untuk makan-makan. Gampang dan menyenangkan. Pokoknya semua ada, deh, di situ. One stop service. Begitulah kira-kira istilahnya.

Itulah supermarket alias toko ada ini ada itu. Namun, dalam tulisan kali ini tidak akan dibicarakan lebih lanjut berbagai kemudahan yang kita nikmati ketika berbelanja di tempat seperti itu. Ada satu hal yang barangkali setiap orang lupa ketika melakukan kegiatan belanja di pasar modern itu. Di balik kenyamanan segala fasilitas yang setiap orang (beruang tentunya) dapatkan itu ada sisi lain yang mesti direnungkan. Sisi kehidupan lain yang semakin terpinggirkan ketika pusat-pusat perbelanjaan itu semakin tertengahkan.

Keberadaan supermarket-supermarket yang mengikuti setiap pembangunan gedung-gedung pusat perbelanjaan yang semakin banyak bagaikan jamur di musim hujan itu tentu dapat dimaklumi karena berada di pusat kota pada umumnya (meskipun sekarang sudah mulai merambah kawasan-kawasan pinggiran kota). Nah, fenomena yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir ini adalah lahirnya anak-anak supermarket yang tersebar di mana-mana. Siapa “anak” si supermarket ini? Tidak lain dan tidak bukan mereka itu adalah minimarket-minimarket.

Keberadaan minimarket-minimarket yang bernama khas dengan unsur mart di belakangnya, seperti bulemart atau bethamart, bagaikan spora-spora supermarket (entah ada hubungan atau tidak dengan “jamur-jamur” besarnya itu) yang terbawa angin kemudian jatuh dan tumbuh subur di kawasan-kawasan pemukiman. Singkat kata, toko-toko dengan barang dagangan lumayan lengkap ini seperti “menjemput bola”, lebih mendekati kawasan pemukiman. Barangkali para pengusaha toko yang termasuk dalam jenis waralaba ini berpikiran memudahkan pembeli yang membutuhkan kebutuhan sehari-hari dengan tidak perlu jauh-jauh datang ke pusat perbelanjaan. Dengan keberadaan minimarket-minimarket mereka di dekat kawasan pemukiman bisa membantu warga sekitar datang dan belanja kapan saja di situ dan bahkan banyak minimarket yang sekarang buka 24 jam penuh. Terdengar sangat ideal dan “baik hati” sepertinya.

Tidak dapat dipungkiri prinsip “menjemput bola” seperti itu memang ideal dalam bidang usaha minimarket seperti digambarkan di atas. Namun, ideal bagi seseorang atau kelompok orang belum tentu sama halnya bagi orang atau kelompok orang lainnya. Bagi pemilik meinimarket tentu akan mendatangkan keuntungan, tetapi ada pihak lain lain yang keberadaannya terancam. Kelompok lain ini adalah para pedagang kecil dari toko-toko kelontongan sampai kios-kios yang semipermanen yang sudah terlebih dahulu berdagang di situ. Mereka-mereka selama ini melayani kebutuhan sehari-hari masyarakat di sekitar mereka berdagang bukan tidak mungkin akan gulung tikar. Paling tidak dalam radius kurang lebih setengah kilimeter di sekitar menimarket yang baru didirikan akan terkena imbasnya.

Seperti halnya di tempat sekitar saya tinggal sekarang ini. Tempat itu boleh dibilang agak “terisolasi” dari pusat keramaian karena terletak persis di pinggir (bagian belakang) sebuah kampus ternama di Depok. Teriisolasi ini dalam pengertian akses tidak semudah kalau tinggal di sekitaran Jalan Margonda, misalnya. Nah, di tempat itu memang termasuk kantong pemondokan mahasiswa kampus tersebut. Satu pangsa pasar yang menggiurkan karena tentu dalam perkiraan kasar peredaran uang oleh para mahasiswa yang ngekos di daerah itu dapat dihitung oleh para pengusaha yang ingin menginvestasikan uangnya di daerah itu. Selama ini orang menginvestasikan uangnya di daerah situ dalam bentuk usaha rumah makan atau toko-toko dan kios yang melayani kebutuhan sehari-hari.

Tidak jauh dari pintu pagar kampus terdengar kabar akan ada minimarket. Kabar ini bisa menimbulkan keraguan karena tempat itu bukan jalur umum selain memang banyak mahasiswa tinggal di situ. Ditambah lagi sekitar kurang lebih satu kilometer dari pagar kampus juga sudah ada beberapa minimarket yang berdiri. Namun, melihat kenyataan ada lahan kosong yang keberadaannya kurang dari dua ratus meter setelah pintu pagar kampus sedang didirikan sebuah bangunan, berita itu bisa jadi memang benar. Hal itu diperkuat oleh salah satu tokoh masyarakat di situ yang mengatakan bangunan itu akan diperuntukkan sebagai minimarket.

Yang terbayang di kepala saya waktu itu adalah kemudahan dalam belanja kebutuhan sehari-hari. Namun, pikiran jadi beralih ke nasib toko-toko kecil dan kios-kios di sekitar calon minimarket itu. Saya memang biasa belanja di situ untuk beberapa macam kebutuhan sehari-hari. Betapa keberadaan mereka akan tergeser sebuah minimarket yang menyediakan barang dagangan lumayan lebih lengkap dan lebih “enak” tempatnya meskipun tidak selengkap dan seenak supermatket. Para pemilik toko dan kios ini tentu akan kehilangan sebagian penghasilan kalau tidak boleh dibilang akan hilang sama sekali alias gulung tikar. Pembeli atau konsumen tentu akan berpikir lebih nyaman berbelanja di minimarket dengan alasan barang yang disediakan lebih lengkap, kebaruan barang dagangan yang dipajang lebih terjaga, dan lebih nyaman.

Melihat kenyataan seperti itu, pembeli tentu tidak bisa disalahkan karena mereka bebas menentukan di mana akan membelanjakan uang mereka. Lalu siapa yang harus diingatkan dalam hal ini?

Pendirian usaha seperti minimarket sudah pasti harus mendapat ijin pemerintah setempat. Para pengusaha dalam mengusulkan permohonan perijinan lazimnya dilengkapi dokumen-dokumen yang diperlukan. Nah, perijinan seperti itu seyogyanya tidak asal diterima. Pihak pemerintah yang berwewenang mengeluarkan ijin usaha seharusnya melakukan studi kelayakan. Tempat yang akan dipakai sebagai lokasi berdirinya minimarket itu seperti apa kondisi lingkungannya. Jarak minimarket baru dengan minimarket yang sudah ada itu layak atau tidak untuk dibuka lagi usaha sejenis. Sekitar tempat yang diajukan pendirian minimarket itu sudah banyak pedagang kecil yang berusaha di situ atau tidak.

Setidaknya pertimbangan seperti itu harus jadi bahan pemikiran bagi yang berwenang. Jangan sampai pedagang kecil tidak diperhatikan nasibnya dan semakin terpinggirkan keberadaannya. Apalagi dengan diijinkannya beberapa minimarket yang buka selama 24 jam. Sepertinya semakin tertutup harapan pemilik kios-kios di sekitarnya yang mengharapkan limpahan pembeli ketika toko besar itu tutup. Memang tidak salah kalau ada pepatah yang berbunyi rejeki sudah ada yang mengatur. Akan tetapi, kalau rejeki seseorang dihambat atau bahkan ditutup, apa namanya itu bukan sebuah kezaliman?

About Mochammad

Berpikir dan berkarya sampai tak terbatas masa

Diskusi

13 thoughts on “Toko Ada Ini Ada Itu

  1. menyimak….

    Posted by erwinaziz | Juli 6, 2010, 7:57 pm
  2. Kalo aku gak sekedar menyimak, tapi aku baca, aku rasakan, dan itulah kehidupan yang kulakukan sekarang, mendampingi istri jualan sayur dipinggir sawah, dekat kuburan, jauh dari keramaian kota, meski terkesan terpinggirkan, tapi bahwa “rejeki ada yang mengatur” adalah FAKTA.
    Terima kasih telah mengunjungi blogku, salam

    Posted by Muhammad Saroji | Juli 7, 2010, 12:44 am
  3. Setuju bos, ekonomi indonesia sebenranya sudah kapitalis. yang kaya makin kaya yg miskin makin miskin. yang bermodal besar terus mengisap pemodal kecil. untuk yg minimarket yg berdiri di tengah kanpung atau di tengah2 warung dan kios2 kecil harusnya tak terjadi di negeri ini. tapi itulah kenyataan yang ada. geraammmmm banget liatnya. ndak punya hati apa tu orang ya. Jika memang jadi berdiri tu minimarket, pasti ada kongkalikong ama pejabat desa/kelurahan terkait urusan perizinannya…..nasib…nasib….

    Posted by zulkarnain jalil | Juli 7, 2010, 12:45 am
  4. Tapi kalo aku jalan2 ke mall, banyak juga tuh penjaga toko yang pada melongo…
    Apa ada jaminan yg punya toko di mall pasti sukes ?

    Posted by Muhammad Saroji | Juli 7, 2010, 12:52 am
  5. *bengoNG*
    ya ya bgtU ya?XD

    Posted by Adi | Juli 7, 2010, 4:22 am
  6. membaca dan menyimak…*manggut manggut* serba ada..

    salam,

    Posted by liamareza | Juli 7, 2010, 5:02 am
  7. klo boleh saya kasih masukkan…namanya maruk🙂
    memang sebaiknya pendirian supermarket di daerah itu dianalisa dulu apakah merugikan pedagang kecil/tidak…agar jgn smpai para pedagang kecil tidak punya tempat untuk mengais rezeki

    Posted by kutukupret | Juli 7, 2010, 12:09 pm
  8. ikut membaca..

    Posted by kanvasmaya | Juli 7, 2010, 10:12 pm
  9. @zulkarnain jalil : kalau bapak sempat belanja di ” BULEMart” itu. nanti bapak tak sobek sobek.

    namanya juga anaknya SUPERmarket pak, ya tentu saja pintar nyari tempat biar kelihatan SUPER juga kaya mamaknya.

    yang penting kitanya yang harus jadi knsumen yang SUPER. maksudnya bisa SUPER selektif dalam berbelanja.

    Posted by almishri | Juli 19, 2010, 8:36 pm
  10. mini dan supermarket sekarang lebih mengandalkan ‘hoki’ kaya’nya om.. karna i***mart hanya berseberangan dengan a***mart.. Mungkin nantinya dibuat saja kebijakan seperti apotek, satu apotek dan apotek lain berjarak minimal 500m..😀 cukup adil kan Om?

    Posted by nandini | Juli 20, 2010, 9:34 am

Trackbacks/Pingbacks

  1. Ping-balik: One Stop Shopping « AHAO's Blog - Oktober 21, 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Warung Blogger

RUMPUN

YANG DITULIS HARI INI

Juli 2010
S S R K J S M
« Jun   Agu »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

PERTINGGAL

Klik URL Tertinggi

  • Tak ada

Yang Pernah Mampir

  • 68,891 hits

KLIK SUKA YA…

Twitter

Kuberi Dua Potret

"Selalu Indah" Nuansa Biru
Menuju Madani

Selalu ingin mewujudkan kehidupan yang sakinah,mawadah dan warahmah

jtxman

A fine WordPress.com site

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

E R D Y's W O R D S

catatan-catatan pendek

Arevandriyan

Aku bukan orang pintar, aku bukan orang sempurna..Tapi dibalik ketidaksempurnaaku aku ingin menjadikan diriku seorang yang pintar & sempurna..Apa salahnya bila kita saling berbagi walaupun hanya di dunia maya !!!

Don Charisma

because anything is possible with Charisma

Mujaiyah's Blog

Bacalah dengan Nama Tuhan-Mu yang Maha Agung

Cory Eureikha

Be 100 % For Indonesia

Berbagi Pengetahuan dan Pengalaman

Carilah Ilmu yang banyak dan berguna serta sedekahkanlah ilmu itu

Muzuro's Blog

Just another WordPress.com site

Goedang Ilmoe

Hidup adalah Berkarya

erul9

Smile! You’re at the best WordPress.com site ever

My Cache of Unimportance

A noob's blog, nuff said at this time.....

Kamalinev Inc.

Devoted to Arabic Linguistics

%d blogger menyukai ini: