you're reading...
Intermeso

daripada…

Entah apa yang  mau saya tulis di kiriman kali ini. Tapi, daripada nggak ada kiriman sama sekali, mendingan saya nulis sesuatu. Sesuatu itu belum kepikir juga sampai kalimat ini. Baiklah, setelah ini saya akan berhenti ngetik untuk mikirin tema yang bisa dibaca siapapun yang bersedia meluangkan waktu mengunjungi blog sederhana ini.  ….. Setelah jeda sejenak, belum juga datang ide. BingungMendingan tidur dulu, ah, daripada bengong dan bingung. Ntar dilanjutin lagi.

Daaaaan, setelah ngendon hampir 24 jam, akhirnya paragraf ini ada kelanjutannya. Dapatlah satu tulisan dengan judul di atas. Judul yang hanya berupa kata sambung, daripada. Huh…, apa menariknya kata sambung itu sampai dijadikan sebuah tulisan? Kalau ditulis versi lengkapnya, judul itu akan menjadi daripada bla… bla… mendingan bla… bla….

Ide tulisan ini datang dari KRL (Kereta Rel Listrik). Untunglah hari ini saya pergi ke Kota dan naik KRL. Sebetulnya saya lebih suka menghindari naik KRL pagi atau sore hari pada hari kerja. Pada waktu-waktu seperti itu merupakan jam-jam orang berangkat atau pulang kerja dan penumpang KRL pun biasanya sampai tumpah-tumpah rasanya, tapi hanya itu pilihan angkutan umum masal di Jakarta yang benar-benar bebas hambatan. Sore tadi begitu pula keadaannya. KRL AC-Ekonomi jurusan Stasiun Jakarta Kota-Bogor yang saya tumpangi penuh sejak berangkat dari stasiun di Kawasan Kota Lama Jakarta itu. Ketika saya masuk di Stasiun yang punya nama lain Beos itu, kereta masih kosong. Tapi, lama-lama semakin penuh juga sampai semua kursi di gerbong saya tidak ada lagi yang tersisa. Ketika tengok kiri-kanan, gerbong depan dan belakang, keadaannya nggak jauh berbeda. “Alamat penuh sesak ini”, pikir saya. Semakin lama ketika melewati beberapa stasiun persinggahannya, KRL itu pun penuh sesak bahkan memposisikan telapak kaki dengan nyaman di lantai gerbong susahnya minta ampun.

Tapi, AHA… Senang

Saya menemukan ide buat kiriman di AHAO’s Blog. Tiba-tiba ide muncul setelah teringat pengalaman ketika kereta masih ngetem di stasiun pemberangkatan, Stasiun Kota. Waktu menunggu kereta berangkat itu, saya lihat seorang ibu yang rupanya orang kantoran masuk di gerbong saya. Saya memperhatikan gerak-geriknya secara tidak sengaja karena posisi saya duduk menghadap pintu masuk gerbong. Ibu itu masuk, ambil tempat di dekat pintu sebelah saya duduk, membuka kantong panjang yang ditentengnya, dan mengeluarkan isinya. Sebelum dibuka, saya sempat mengira-ngira isi kantongnya itu. Ternyata di dalamnya sebuah kursi lipat kecil yang bahasa Jawanya dingklik. Dia pasang dingkliknya itu lalu duduklah dengan manis penuh pesona sambil membuka-buka HP-nya yang sejenis blackberry.

Saya pun sibuk menduga-nduga apa yang dilakukannya. Sepertinya dia lagi online. 😀 Pengen tauuuuu aja urusan orang. Ibu itu mungkin sedang memperbarui statusnya di salah satu situs jejaring sosial semilyar umat, facebook. Tapi, saya nggak ingin membahas itu. Yang ingin saya tulis sekarang berkaitan dengan tingkah lakunya seperti digambarkan di atas. Kelihatannya ibu tadi asyik dengan posisi tempat duduknya. Mungkin dia berpikir, “Ah, mendingan bawa dingklik ini dari rumah daripada berdiri sampai Bogor”. Saya menduga lagi itu satu-satunya alasan dia sangu dingklik kenangan (kalau dia beli mobil pribadi, dingklik itu kan jadi kenangan indah) dan rela menambah beban bawaannya demi bisa duduk di KRL kesayangannya. Daripada blabla…?

Sebentar… sebentar… Tampaknya ada sesuatu di balik ungkapan yang diawali kata daripada ini. Menurut saya memang ada makna di balik ungkapan perbandingan yang diantarai kata sambung itu. “Masak, sih?” itu mungkin yang Anda pikirkan. Pertanyaan itu tidak salah. Kita mungkin secara tidak sadar, mungkin karena terbiasa, sering mengungkapkan ekspresi seperti itu melalui bahasa. “Daripada nggak keangkut, mendingan beridiri asal cepat sampai rumah atau “daripada menunggu bus berikutnya masih lama, mendingan berdiri asal nggak kemalaman sampai rumah. Masih banyaklah contoh daripada bla… bla… yang lain.

“Lho, itu kan hal biasa, orang kita nggak dirugikan, kok”, mungkin itu yang Anda pikirkan berikutnya. Hal biasa dan nggak merugikan? 😀 😀 😀 Itu bentuk permakluman yang kurang cerdas menurut saya. Sadarkah kita bahwa permakluman seperti itu membuat kita rugi? Ya, jelas rugilah. Dengan berpikir seperti itu, Anda kehilangan kenyamanan dalam perjalanan pulang-pergi ke tempat tujuan. Kalau sekali dua kali, barangkali dapat diterima alasan itu. Jika setiap hari, pagi dan sore, mendapatkan ketidaknyamanan seperti itu, tetapi masih berpikir daripada blablamendingan blabla…, Anda sebetulnya sangat dirugikan oleh layanan jasa transportasi masal. Iya. Bukankah Anda membayar biaya perjalanannya? Coba bayangkan jika pikiran seperti itu dilakukan secara jamaah. Ribuan orang yang berpikir seperti itu sebenarnya membuat perusahaan otobus (PO) dan KAI meraup keuntungan besar (tapi katanya merugi terus) sementara pelayanannya begitu-begitu saja. Kondisi bus-bus kota itu, mungkin Anda yang tinggal di Jakarta dan sekitarnya tahu, nggak ada yang bagus.

Seandainya setiap orang yang menunggu bus kota di halte-halte atau calon penumpang KRL di peron-peron setiap stasiun nyuekin setiap bus atau KRL yang sudah penuh kursinya, saya membayangkan naik kendaraan umum itu akan nyaman. Khusus angkutan masal bus kota, kalau dicuekin seperti itu, barangkali bus yang ngantri berikutnya pun akan segera berangkat dari terminal. Dengan demikian, jadwal kedatangan bus pun bisa teratur. “Lho, tapi armadanya kan nggak banyak”, saya menduga itu yang Anda pikirkan dengan pernyataan di atas, “bisa-bisa penumpang lain nggak keangkut”. Betul… betul…, tapi bisa betul; bisa pula nggak. Dengan sikap calon penumpang yang seperti itu bukan tidak mungkin para pengusaha PO Bus Kota akan tergerak untuk menambah armadanya. “Waduh, bisa-bisa jalanan di Jakarta tambah macet, dong?” hmmm… pertanyaan bagus. Sebaliknya, bisa jadi kekhawatiran semacam itu tidak akan menjadi kenyataan. Jika bus kota datang sesuai jadwal tentu lalu lintas akan teratur meskipun dengan jadwal yang rapat. Kalau kondisinya seperti itu, jadwal teratur dan tidak berdesak-desakan, barangkali atau lebih tepatnya diharapkan para karyawan yang datang ke jakarta dari kota-kota satelitnya akan rela pergi-pulang ke dan dari kantor menggunakan jasa angkutan bus kota. Saya pikir kalau naik bus kota bisa duduk dengan manis sambil BB-an atau SMS-an dan sampai tujuan tepat waktu, orang yang biasanya naik mobil pribadi akan rela dan ikhlas mau beralih ke angkutan umum masal. Dengan begitu, barangkali kemacetan di Jakarta bisa sedikit teratasi. Duh, enaknya kalau jakarta bisa seperti itu. Kapan ya?

“Jadi, sekarang kita nggak boleh berpikir seperti itu?” Siapa bilang? Boleh-boleh saja asal untuk hal yang lebih positif. Kalau berpikir seperti yang diceritakan di atas, sepertinya lebih manyak mudharatnya daripada manfaatnya :). “Emang ada gitu daripada blablamendingan blabla… yang positif?” Kalau ada pertanyaan seperti itu, jawabannya ada, tapi diungkapkan dalam kalimat yang berbeda. Anda sering mendengar ungkapan ini kan? “Untung cuma lecet-lecet”. Ungkapan yang diucapkan ketika seseorang mendengar teman atau kerabatnya kecelakaan kemudian mendengar jawabannya setelah menanyakan keadaan korban kecelakaan itu. Ungkapan seperti itu mengandung pengertian ‘daripada kaki atau tangannya patah, mendingan lecet-lecet doang’. Yang ini lebih bernilai positif karena sebenarnya merupakan ungkapan rasa syukur karena kawan atau kerabat yang kecelakaan itu tidak mendapatkan cedera yang serius. Daripada blablamendingan blabla… yang ini dapatlah diterima.

Apa hanya itu? Oh, tentu tidak. Masih ada lagi. Ada ungkapan daripada blablamendingan blabla… yang menunjukkan kreativitas seseorang. “Ah, yang bener?” Iya, ada. Kalau nggak percaya, berikut ini ilustrasinya. Ketika lagi hujan, misalnya, dan kita tidak bisa ke mana-mana sementara rasa BeTe dan lapar mulai menyerang, kemudian salah satu dari kita nyeletuk, “Daripada bengong, mendingan bikin pisang goreng dan bikin teh panas, lumayan kan”. Pernyataan seperti itu memiliki pengertian ‘daripada diam menghabiskan waktu yang membosankan, lebih baik melakukan sesuatu yang bermanfaat’. Membikin pisang goreng pada saat hujan merupakan hal yang kreatif bukan? Pastinya :). Kalau daripada blablamendingan blabla… yang ini, asyiknya rame-rame dan bikin hidup lebih hidup. Kalimat terakhir itu meminjam narasi dari iklan produk rokok  :).

Begitulah, pembaca. Akhirnya tulisan ini terselesaikan dengan “tertatih-tatih”. Ada manfaatnya atau tidak terserah penilaian Anda. Kalau ada kata-kata yang dinilai bernada provokatif, berarti saya tidak sengaja. 😀 Tidak sengaja kok bilang-bilang, ya. Sudah, ah, saya mau ngrokok dulu. Asyiknya Ngrokok

About Mochammad

Berpikir dan berkarya sampai tak terbatas masa

Diskusi

26 thoughts on “daripada…

  1. Bermanfaat kok. , tapi terlalu panjang, mending pendek dan langsung mengena, hehe, cuma saran aja,

    Posted by Adi | Juli 17, 2010, 5:15 am
    • hahaha klo postingan pendek bukan bang mochammad namanya dong boz..
      pengen tuh bisa nulis puanjange kayak gitu..

      btw bang mochammad.. idenya lancar tenan..

      Posted by kanvasmaya | Juli 17, 2010, 12:47 pm
      • @Adi: kalau pendek aku nggak bisa mengeksplore pendapat, Di… Membosankan ya. tapi, terimakasih masukannya.

        @kanvasmaya: iya, ya… selalu panjang. mungkin itu sekarang menjadi gaya penulisanku. tapi, jujur aku katakan saat ini memang masih mencari gaya tulisan yang akan menjadi ciri khasku. namanya juga masih terus berlatih menulis.

        Posted by Mochammad | Juli 18, 2010, 1:28 am
  2. daripada saya gak baca, mending saya baca, lha wong udah terlanjur buka halaman ini… 😀

    sip-sip, emang saya juga mikir kalo kata-kata “daripada” itu kadang terdengar kurang cerdas…

    Posted by masrizky | Juli 17, 2010, 6:40 am
  3. Daripada!
    sesuatu yg memaksakan kaaya’a.he.

    Posted by Anex curut | Juli 17, 2010, 12:01 pm
    • Kayaknya begitu, ya 😀
      Aku hanya mencoba mencari makna di balik sebuah tanda yang berupa ekspresi bahasa. Karena setiap perkataan itu selalu ada latar belakangnya. Tidak jarang di balik sebuah makna, tersembunyi makna yang lain. Begitulah dalam komunikasi. Apa yang disampaikan tidak selalu bermakna satu. Bahkan terkadang kalimat yang tampaknya lugas bisa menimbulkan salah paham.

      Posted by Mochammad | Juli 18, 2010, 1:45 am
  4. Heeeem … … terkadang yang suka ngasih masukan . . . ngalamin ga moed n ga dapet feel ya buat nulis “hihihihi . . . . nyindir neyh Qta . . . ”

    Ups . . . da banyak masukan neyh . . . . ___dari pada___ ngasih masukan lagi, malah menuh-menuhin gerbong page aja . . . mending ngasih keluaran deh . . . “heeehee . . just kidding”

    by thewy . . . si om curhat niyh . . . . seru sih, tapi my be kalu q tilik “cjeee ilah kaya sindikat abal2” si Om neyh subyektif, si Om Ok betz kalo ngebahas sesuatu yang terjadi, but for your’s self, si om kurang objektif sih??? hihiii . . . . [1 (satu) – 0 (kosong)].

    Ya maksudnya mah kalu si om bercerita tentang diri sendiri kurang focus, sementara kalo bercerita tentang orang lain “Sip” beud . . . (bgt-red) {kebalikan dari Q sihh, my be Q terlalu narcissism (kecintaan pada diri sendiri- NARSIS-red). }

    Ups .. . ko ujung-ujungnya jadi ikutan ngasih masukan siiih . . . padahal mah pengennya ngasik keluaran . . . . g apa ah . . sekali-kali . . . (btw jangan lupa di bales tuh cengannya . . . masih 1-0 lho . . . .)

    Posted by bieogravie | Juli 17, 2010, 4:58 pm
    • 😀 tau aja, Bie, orang lagi miskin ide.

      Tulisan ini bukan cerita tentang diriku. Kalau aku biasanya milih kendaraan yang kosong. Misalnya, Kalau kebetulan lagi ke Sudirman, terus bis yang ke Depok pada penuh, biasanya aku lebih milih metromini tapi dapat duduk meskipun harus nyambung-nyambung angkotnya.

      Nah, kemarin itu aku liat banyak orang bawa kursi sendiri. Dari situ aku coba kira-kira apa yang dipikirin orang-orang itu dan ketemulah ungkapan daripada bla… bla… mendingan bla… bla… itu :). Sebetulnya apa yang aku tulis itu ada teorinya dalam ilmu bahasa, tapi rasanya gak pas kalau aku bahas itu di sini pakai teori-teori karena AHAO’s Blog bukan diperuntukkan itu. Subjektif? Mungkin iya itu memang opini pribadi. Tetapi, aku berangkat dari apa yang sering diungkapkan banyak orang. Pemaknaannya seperti itu. Ada makna di balik sebuah makna.

      Pengen sih cerita-cerita soal diri sendiri, tapi nggak enak. Nanti yang baca bisa terpesona. 😀 Mulai deh narsisnya kumat. Selain itu, takut juga yang baca nanti dongkol dan bahkan bisa tersedu-sedu. Kalau ada cerita yang bisa bikin orang ketawa sih bagus. Karena apa? Pastilah ada sisi-sisi hidup yang menyedihkan, mengharukan, lucu, atau malah ada yang … “iiihhh…” 😀

      Tapi, bukannya ngomongin orang emang lebih gampang.

      Btw, terima kasih banyak masukannya. Ini baru komentar namanya. Membangun 🙂

      Udah 1-1 belum?

      Posted by Mochammad | Juli 18, 2010, 2:24 am
  5. ane dah baca, Om….. :mrgreen:

    Posted by ●●●ЄЯШЇЙ●●● | Juli 17, 2010, 8:37 pm
  6. daripada daripada, mendingan mendingan

    Posted by yazid | Juli 18, 2010, 11:57 am
  7. mmmm,,,blog yang bagus mas…cuma ceritanya kepanjangan dan lidah saya sampe keseleo ngebacanya..peace mas.. salam kenal yah

    Posted by pianoputih | Juli 18, 2010, 4:34 pm
  8. hehe..cerdas, menggelitik.. 🙂

    Posted by luvlydini | Juli 18, 2010, 7:02 pm
  9. Betul ..betul ..betul …DARI PADA berpikir negatif MENDING makan pisang goreng….., apa hubungannya..kalo dihubung hubungkan pasti ada hubungnya…, Mantap …penuh ide…

    Salam
    Karca

    Posted by karcaxfile | Juli 18, 2010, 11:06 pm
  10. opa…naek kereta dari mana….(^_^)
    naek kereta, mah enaknya duduk di kursi dingkling..
    kalau aku lesehan aja.pake koran..daripada berat-berat…
    he….he..he.he..he.
    lebih enak bisa bersila pula..
    aku penumpang jakarta-bekasi

    Posted by mylitleusagi | Juli 19, 2010, 2:22 pm
  11. kalau ngomongin keanehan Jakarta. ya, kita yang Aneh.
    karena jakarta adalah kota yang aneh.
    lebih aneh lagi banyak sekali orang yang mau tinggal dan mencari nafkah disana.
    Aneh kan?

    mengumpat atau apapun yang mengungkapkan kejengkelan kita karena kemacetan bukan merupakan solusi yang cespleng. karena kita sendiri (mungkin) masuk dalam jaringan kemacetan itu.

    DARIPADA ngumpat-ngumpat MENDING saya beri saran, ditransmigrasiin massal aja penduduk jakarta dan kota-koa satelitnya itu ke wilayah lain di bumi persada ibu pertiwi ini.

    mau ga orang jakarta?
    mau mau mau

    Posted by almishri | Juli 19, 2010, 8:55 pm
  12. wow..daripada gak baca mending baca aja hehheeee.. 🙂

    Posted by liamareza | Juli 22, 2010, 1:32 am
  13. Emang Bung Muchammad tinggal dimana sekarang? Aku dulu pelanggan KRL Bogor-Jakarta selama 4th, sebulan biaya abonemen cuman Rp 4200,-.

    Oya, nggak tiap hari otak kita mod, kadang ngeblank, kadang encer, namanya ngeblog…seperti menulis di buku harian, itulah perasaan kita.

    Salam sukses selalu.

    Posted by MUHAMMAD SAROJI | Juli 23, 2010, 11:53 pm
  14. ha lai yaa.. daripada tinimbang ya lebih baik aluwung.. *_*
    Pakde… pakde.. aku pernah nulis puanjang n dikomentari “hosh hosh..”.. skrg aku nulisnya berusaha pendek.. tapi yaa itu tadi.. daripada … 😀 😀

    Posted by nandini | Juli 24, 2010, 9:47 am
  15. Maaf om numpang lewat aja nech….hehhehe

    Posted by jojo | Juli 30, 2010, 6:46 pm
  16. Tulisanmu apik tenan, ning dadi wong muhammadiyah kok isih ngrokok?

    Posted by zuhdi | Januari 6, 2011, 6:50 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Warung Blogger

Language

PERTINGGAL

RUMPUN

YANG DITULIS HARI INI

Juli 2010
S S R K J S M
« Jun   Agu »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Klik URL Tertinggi

  • Tidak ada

Yang Pernah Mampir

  • 69,718 hits
Follow AHAO's Blog on WordPress.com
%d blogger menyukai ini: