you're reading...
Cerita Rekaan, Intermeso

Bik Sarah (Episode 2)

Suatu sore terlihat seorang lelaki sedang membuka pintu pagar kecil di sebuah rumah bercat warna hijau.  Rumah dengan halaman asri itu berpagar besi. Pintu pagar yang akan dilwatinya merupakan salah satu pintu masuk halaman dan langsung menuju teras rumah karena pintu lain yang lebih lebar untuk akses ke garasi mobil.

Sesampainya di teras, diketuknya pintu kayu berpolitur warna coklat itu. Agak berapa lama, pintu itu pun ada yang membuka dari dalam. Seorang perempuan baya yang mengenakan gamis batik tersenyum menyambutnya.

“Asalamu’alaikum, Bik Sarah”, sapa lelaki itu sambil mengulurkan tangan menyalami perempuan itu.

“Wa’alaikumus salam”, jawab Bik Sarah, “Ayuk, masuk”, lanjutnya mempersilakan lelaki itu.

Mereka kemudian berjalan beriringan menuju seperangakat kursi di ruang tamu. Bik Sarah kelihatan berjalan sambil sedikit berjingkat kaki sebelah kanannya. Mungkin kakinya itu sedang ada gangguan.

Silak, duduk dulu”, dia mempersilakan duduk lelaki yang sepertinya sudah dikenalnya itu. Dia pun ikut duduk di ujung sofa.

“Kok, sepi, Bik”, lelaki itu membuka pembicaraan lagi, “Yang lain ke mana”, sambungnya.

“Pada pergi ke Ampenan”, jawabnya, “Nada ada di dalam. Dia lagi belajar di kamarnya”, dia menjelaskan.

Lelaki itu belum sempat menimpali jawaban Bik Sarah tadi. Serta merta Bik Sarah berdiri dari sofa yang dari tadi didudukinya.

“Mau ngupi?” tanyanya menawari tamunya minuman.

“Boleh, terima kasih”, kata lelaki itu sambil meraih sebuah majalah di ujung meja tamu itu.

“Sebentar ya”, kata Bik Sarah, “Mau nunggu di sini atau di teras”,  katanya lagi sebelum beranjak meninggalkan lelaki itu.

“Saya tunggu di teras aja, Bik”, jawab lelaki itu kemudian keluar menuju teras setelah memilih-milih satu majalah dan beberapa bacaan yang ada di bawah meja tamu.

Lelaki berambut cepak itu tidak duduk di kursi teras, tapi lebih memilih menunggu di berugak. Berugak itu semacam gazebo tradisional suku sasak yang biasanya diletakkan di halaman depan atau belakang untuk ngumpul-ngumpul atau terkadang menerima tamu yang sudah akrab.

Tak lama Bik Sarah muncul dari dalam sambil membawa nampan berisi secangkir kopi. Perempuan yang sebentar lagi berangkat haji itu pamit masuk. Lelaki itu memperhatikan Bik Sarah yang berjalan masuk ke rumah setelah mengantarkan kopi untuknya. Bik Sarah tidak bisa menemani karena mau beres-beres persiapan yang mau dibawa ke Tanah Suci. Lelaki itu pun urung menanyakan keadaan kaki Bik Sarah yang sepertinya ada gangguan sedikit soalnya keberangkatannya tinggal dua minggu lagi. Ketika memperhatikan perempuan baya yang sebentar lagi akan jadi Bu Tuan itu, pikirannya menerawang ke cerita bertahun-tahun silam yang pernah ia dengar.

-oOo-

Sepasang lelaki dan perempuan muda sedang duduk di berugak di halaman rumah mereka. Rumah itu tidak terlalu besar dan menghadap ke areal persawahan yang sebagian merupakan milik keluarga pasangan suami-istri itu. Lebih tepatnya sawah itu milik keluarga sang suami.

Memang enak sore-sore seperti itu duduk-duduk di berugak sambil memandang persawahan yang berundak-undak dengan latar belakang pepohonan kelapa dan beberpa jenis pohon lain. Komposisi warnanya sungguh harmonis. Hamparan warna hijau diselingi warna kuning keemasan batang-batang padi yang sudah diap dipanen. Dilatari pula birunya langir dengan sapuan awan-awan tipis. Angin semilir-semilir pun menyapu sampai ke berugak di seberang alam yang indahnya bak lukisan itu. Angin yang menyejuki sepasang suami-sitri muda yang lagi ngobrol santai.

Tapi, percakapan antara suami-istri muda di berugak di sore yang cerah itu merupakan awal dari perubahan nasib perempuan muda yang saat itu sedang hamil sekitar tujuh bulan. Kehamilan anak pertama yang telah dua tahun mereka nantikan. Percakapan tentang masa depan keluarga yang akhirnya sampai pada percakapan yang membawa pertengkaran di hari-hari dan bulan-bulan berikutnya.

“Dek, adik-adikku minta sawah warisan dibagi dalam waktu dekat ini”, kata lelaki muda itu sambil menyeruput kopinya yang sudah tidak panas lagi.

“Kapan itu, Kak”, kata perempuan muda yang duduk di sampingnya.

“Paling lama dua minggu ini aku harus dapat pembelinya”, jawab si suami.

“Pembeli?” tanya istrinya kaget, “Mereka minta dibagi atau dibeli? Mana yang benar, Kak?” lanjutnya datar sambil mengelus-elus perutnya yang sudah membesar.

“Dijual dan uangnya dibagi-bagi”, jawab suaminya dengan suara berat, “Menurutmu gimana, Dek?’ tanyanya sambil memandang mata istrinya berharap pendapat jawaban yang meringankan bebannya.

“Aku tidak setuju, Kak”, jawab sang sitri tegas, “Tidak sekarang. Sawah itu kan sudah siap dipanen”, katanya lagi.

“Tapi, mereka mendesakku terus, Dek”, kata suaminya lirih karena sudah mulai timbul dilema. Menuruti saudara-saudara atau istrinya.

“Aku bukan tidak setuju, Kak. Itu harta keluargamu”, kata perempuan itu menjelaskan, “Paling nggak tunggu panen dulu. Ketemuk, Kak”, lanjutnya setengan membujuk suaminya.

Perempuan muda itu bukannya mau menguasai harta keluarga suaminya. Yang dia bilang ketemuk itu sama dengan pamali. Pantang menjual sawah yang sudah siap panen.

Tapi, apa yang disampaikan perempuan muda itu tidak bisa diterima saudara-saudara suaminya. Mereka tetap menganggapnya mau menguasai harta itu untuknya. Sejak itu mulailah perempuan muda yang sedang menunggu kelahiran anak pertamanya itu dibenci oleh adik-adik iparnya. Digunjingkan dengan tetangga sekitar oleh ipar-iparnya itu. Tidak jarang kalau mereka sedang papasan dengannya, ipar-iparnya itu menyindir dengan kata-kata pedas. Mengahadapi keadaan ini, suami perempuan muda itu tidak bisa bertindak tegas. Bahkan dia terlihat bimbang ketika adik-adiknya memintanya menceraikan istri yang dicintainya.

Bulan pun berganti. Perempuan muda itu diam menghadapi semua cacian dan fitnahan ipar-iparnya karena dia mengingat anak yang dikandungnya. Tapi, karena suaminya menunjukkan gelagat yang tidak tegas dan sikapnya itu akhirnya menyebabkan pertengkaran mereka yang tidak putus-putus karena hasutan ipar-ipar si perempuan muda. Setelah melahirkan beberapa bulan, perempuan muda itu pun tidak tahan dengan keadaan seperti itu. Dengan tekad bulat dia memutuskan minta cerai kepada suaminya. Apa boleh buat meski mereka sebenarnya masih saling cinta.

“Kak, aku tidak tahan dengan keadaan kita yang terus begini”, kata ibu muda itu, “Aku minta cerai”, katanya lagi dengan tegas.

Perempuan muda itu mengatakan keinginannya bercerai dengan tegas. Tidak ada air mata. Justru yang kaget suami dan adik-adik iparnya yang waktu itu memang lagi ngumpul untuk membicarakan warisan. Mereka ribut dan salah satunya menyalahkan istri kakaknya sebagai biang keributan ini dan menyebutnya ingin menguasi harta peninggalan orang tua mereka. Mereka tidak menyangka ipar perempuannya bakal  bersikap dan mengambil keputusan seperti itu. Mereka berusaha mencegah, tapi sudah terlambat karena perempuan muda itu sudah bulat tekadnya. Dia tidak mau hidup dalam tekanan. Lebih-lebih dia tidak terima dianggap mau menguasai harta suaminya. Dia kecewa dengan sikap suaminya yang tidak pernah membelanya. Dan lagi yang membuat tidak bisa bertahan lagi adalah sikap bermusuhan ipar-iparnya serta gunjingan tetangga karena hasutan ipar-iparnya itu. Mereka berusaha membujuk iparnya agar menghentikan niatnya minta cerai. Tapi, yang bersangkutan sudah tidak bisa dibelokkan keinginannya.

“Meski aku jelek dan bukan dari keluarga semampu kalian”, kata perempuan muda itu dengan tenang, “Aku bisa mendapatkan lelaki yang lebih dari kakak kalian”, katanya lagi yang membuat ipar-iparnya terperangah. Waktu itu tidak lazim perempuan Lombok minta cerai dari suaminya. Yang sering terjadi malah sebaliknya, suami minta ijin istri untuk menikah lagi. Suaminya sampai tidak bisa berkata-kata. Dia menyesal telah memperlakukan istrinya seperti itu, padahal dia amat mencintainya.

Lelaki gagah dan kekar karena setiap hari mengerjakan sawah itu memang mencintai istrinya. Tapi, istrinya  sudah bertekad. Dia sakit hati dingan sikap ipar-ipar yang sudah dia anggap seperti saudara sendiri. Sebelum soal warisan itu mereka bersikap baik dan hanya karena dianggap mau menguasai harta suami, dia diperlakukan dengan kasar. Sebenarnya dia hanya mengusulkan untuk menunda pembagian sawah setelah panen selesai.

Perempuan muda yang tidak lain adalah Bi Sarah muda akhirnya menikah dua kali lagi kemudian. Suami kedua dan ketiga meninggalkannya dengan perempuan lain setelah memberikan beberapa anak. Suami pertama Bik Sarah tidak pernah menikah lagi. Dia meminta Bik Sarah kembali padanya, tapi mantan istrinya itu bertekad hidup sendiri setelah perceraiannya dengan suami terakhir. Kemudian Bik Sarah hijrah ke Mataram untuk mencari pekerjaan.

“Kleteg…” terdengar bunyi engsel pintu pagar dibuka.

Lelaki yang bertamu itu terbangun dari lamunannya ketika mendengar suara itu. Dia pun menyadari sudah lumayan lama melamun tentang cerita masa muda Bi Sarah yang pernah dia dengar dari sahabatnya yang membuatnya kaget ketika membuka pintu pagar untuk memasukkan mobil ke garasi. Majalah yang dia bawa ke berugak itu sampai tidak sempat dibacanya. Dia lalu berdiri mendekati orang-orang yang ditunggunya dari tadi.

“Dah lama, om”, sapa perempuan yang baru turun dari mobil setelah berhenti di depan garasi.

“Lumayan, Bu Hetty”, jawab lelaki itu sambil menyalami yang menyapanya.

Setelah menanyakan kabar masing-masing, Bu Hetty pamit ke dalam rumah. Kemudian suaminya yang baru markir mobil mereka mendekati dan menyalami lelaki itu dengan erat. Diajaknya tamunya itu masuk rumah.

Wes, di sini ae, Pak Luky”, lelaki itu pengen duduk-duduk di berugak saja, “Enak semilir-semilir”, lanjutnya sambil nyeruput kopinya yang ternyata sudah nggak panas lagi. Kopi yang dibikin Bi Sarah, salah satu tuan rumah bercat hijau itu. Mereka ngobrol di situ dengan akrab.

Tidak lama berselang perempuan yang menyapa dengan panggilan om tadi keluar sambil membawa nampan berisi beberapa toples makanan dan ikut nimbrung.

Sementara itu, di dalam rumah Bi Sarah dibantu Nada sedang membereskan barang-barang bawaannya untuk menunaikan ibadah haji yang sebentar lagi dia laksanakan dengan senang hati, dengan ikhlas, dan kepasrahan, serta yang tidak ia lupakan adalah dengan rasa syukur yang begitu mendalam atas rahmat Alloh yang diberikan kepadanya.

-oOo-

Siapa sebenarnya Bik Sarah? Bik Sarah itu seorang muslimah. Seseorang yang mempunyai kewajiban sama seperti umat muslim dan muslimah lain di seluruh muka bumi ini. Kewajiban untuk menyempurnakan Rukun Islam dan pasti dengan catatan kalau sudah mampu untuk melaksanakannya, baik itu segi fisik, mental, maupun materi. Perempuan baya yang dipanggil Bik Sarah ini juga akan pergi menunaikan ibadah haji. Apa ada yang salah? Sama sekali tidak ada karena dia seorang muslimah.

Bersambung…

About Mochammad

Berpikir dan berkarya sampai tak terbatas masa

Diskusi

10 thoughts on “Bik Sarah (Episode 2)

  1. wowwww…..salam kenalllll massss
    tank…..
    http://www.cafemenix.co.cc

    Posted by cafemenix | Juli 19, 2010, 2:42 pm
  2. Lanjutkan bro. , hoho!XD

    Posted by Adi | Juli 19, 2010, 3:51 pm
  3. sebel sebel sebel
    ternyata bersambung lagi
    huuh

    kaya sinteron. eh sinetron maksudnya

    Posted by almishri | Juli 19, 2010, 9:07 pm
  4. hmm… :rool: nunggu sambungannnya🙂

    Posted by indra1082 | Juli 20, 2010, 8:01 am
  5. jiaaahh.. asyik2 baca lah kokk bersambung lagi..
    hmm.. bakal berapa episode nih bang??

    Posted by kanvasmaya | Juli 20, 2010, 10:04 am
  6. hihihi…bagus ceritanya

    lanjutt…..[kapan ada lanjutannya yah??]

    Posted by puch | Juli 20, 2010, 11:29 am
  7. Terima kasih sebelumnya sudah mampir di blog saya.
    sepertinya abang adalah ahli bahasa? dosen atau guru bidang bahasa..
    maaf jika salah ahaha.
    salam kenal dari saya.

    rully

    Posted by Rully | Juli 21, 2010, 5:11 pm
  8. waduuhh.. belum ada yang baru bang??

    Posted by kanvasmaya | Juli 28, 2010, 11:43 pm
  9. ah aha, tak sabar menanti kelanjutannya🙂

    Posted by sulamit | Agustus 6, 2010, 11:10 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Warung Blogger

RUMPUN

YANG DITULIS HARI INI

Juli 2010
S S R K J S M
« Jun   Agu »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

PERTINGGAL

Klik URL Tertinggi

  • Tak ada

Yang Pernah Mampir

  • 68,891 hits

KLIK SUKA YA…

Twitter

Kuberi Dua Potret

"Selalu Indah" Nuansa Biru
Menuju Madani

Selalu ingin mewujudkan kehidupan yang sakinah,mawadah dan warahmah

jtxman

A fine WordPress.com site

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

E R D Y's W O R D S

catatan-catatan pendek

Arevandriyan

Aku bukan orang pintar, aku bukan orang sempurna..Tapi dibalik ketidaksempurnaaku aku ingin menjadikan diriku seorang yang pintar & sempurna..Apa salahnya bila kita saling berbagi walaupun hanya di dunia maya !!!

Don Charisma

because anything is possible with Charisma

Mujaiyah's Blog

Bacalah dengan Nama Tuhan-Mu yang Maha Agung

Cory Eureikha

Be 100 % For Indonesia

Berbagi Pengetahuan dan Pengalaman

Carilah Ilmu yang banyak dan berguna serta sedekahkanlah ilmu itu

Muzuro's Blog

Just another WordPress.com site

Goedang Ilmoe

Hidup adalah Berkarya

erul9

Smile! You’re at the best WordPress.com site ever

My Cache of Unimportance

A noob's blog, nuff said at this time.....

Kamalinev Inc.

Devoted to Arabic Linguistics

%d blogger menyukai ini: