you're reading...
Intermeso

Kebodohan atau Kelicikan?

Ini pengalaman yang aku alami beberapa hari lalu. Tepatnya dini hari lebaran kedua. Sebetulnya hal sepele yang menyangkut ongkos naik bus yang diwajibkan, tentunya, kepada setiap penumpang kendaraan angkutan umum jenis apa pun, termasuk bus umum. Pengalamanku kali ini terjadi di atas bus yang membawaku pulang ke kampung halaman dari Terminal Purabaya (Bungur Asih), Surabaya. Sebuah pengalaman yang unik dan lucu, namun cukup bikin geli serta dongkol.

Kedongkolan itu sebenarnya sudah aku rasakan sejak mau naik bus ke arah Mojokerto dan seterusnya ke wilayah barat (Madiun) dan barat laut (Tulungagung, Trenggalek, dan Ponorogo) Propinsi Jawa Timur. Seperti biasa pada saat arus mudik menjelang dan saat hari H lebaran Idul Fitri para awak bus umum tidak mau menaikkan penumpang jarak dekat (Surabaya-Mojokerto atau Surabaya-Jombang). Para awak bus itu hanya mau menaikkan penumpang jarak jauh, padahal saat hari-hari biasa penumpang yang naik dengan tujuan Krian (kota kecil di wilayan Kabupaten Sidoarjo yang letaknya di antara Surabaya dan Mojokerto) pun mereka angkut. Para petugas Terminal Purabaya sudah berkali-kali memperingatkan melalui pengeras suara agar awak bus tidak pilih-pilih penumpang; tetap tidak diindahkan. Bagi yang mengerti biasanya asal naik dan menjawab dengan kota tujuan yang lebih jauh. Ketika tiba kondektur menarik ongkos baru dibilang turun Mojokerto. Biasanya diikuti dengan debat dan rasa dongkol sang kondektur. Sang kondektur tentu lebih mengutamakan penumpang jarak jauh karena ongkosnya pasti lebih besar, sedangkan kalau ada penumpang jarak dekat akan meninggalkan bangku kosong sampai kota tujuan akhir padahal Mojokerto itu belum separuh jalan karena tidak jauh dari Kota Surabaya. Apakah ini boleh dibilang kelicikan?

Itu tadi pengalamanku sebelum naik bus. Ketika berada di dalam Bus dan jarak tempuh perjalanan sudah menjelang Kota Krian, kondektur pun mulai menarik ongkos dari setiap penumpang. Kali ini dia mulai memungut ongkos dari deretan bangku bagian belakang. Soal penarikan ongkos untuk sementara kita lupakan dulu sejenak karena ada cerita menjengkelkan yang lain. Nah, Sepanjang perjalanan di antara Terminal Purabaya sampai menjelang Kota Krian, awak bus tidak hentinya menaikkan penumpang, padahal sudah tidak tersedia kursi kosong lagi. Oiya, bus yang aku tumpangi itu bertujuan akhir di Kota Tulungagung yang waktu tempuhnya kurang lebih 5 jam. Yang membuat dongkol lagi ketika penumpang yang naik di luar terminal masuk, kondektur dengan tanpa dosa berteriak dari belakang.

“Yang Mojokerto berdiri saja… yang Mojokerto berdiri saja”, serunya.

Mas kondektur ini tidak berpikir bahwa penumpang yang walaupun hanya naik sampai kota terdekat dengan Ibukota Propinsi Jawa Timur itu juga mempunyai hak untuk mendapatkan kursinya sesuai dengan ongkos yang dia bayar sampai kota tujuannya itu. Apalagi mereka, termasuk saya, naik dari terminal ketika bus dalam keadaan belum penuh. Orang yang naik di jalan ke dalam bus yang sudah penuh seharusnya tahu dia akan mendapat haknya untuk duduk setelah ada penumpang yang terlebih dulu naik itu turun di kota tujuannya. Karena kondektur itu berposisi di belakang, penumpang yang di dekatnyalah yang diusir dari tempat duduknya.Apa ini juga boleh dibilang sebuah kelicikan?

Tidak lama setelah dia berseru itu, serombongan penumpang yang sepertinya satu keluarga dengan tujuan kota Mojokerto pun beringsut ke depan dan duduk di atas mesin di samping sopir. Selang beberapa waktu pun serombongan penumpang mencegat bus di jalan. Akhirnya, aku pun merelakan kursiku karena dari depan kulihat ada seorang ibu muda yang menggendong bayinya.

Ketika berdiri itu, kondektur sudah sampai pada deretan kursi penumpang di belakangku. Setelah itu terdengarlah adu mulut si kondektur dengan seorang bapak yang membawa istri dan dua anaknya. Adu mulut ini berawal dari entah salah paham atau kesengajaan kondektur menghitung ongkos yang harus bapak itu bayar.

Bapak tadi membayar ongkos lima kursi untuk keluarganya yang berjumlah 4 orang. Alasannya tentu karena ingin lega dan supaya anaknya yang kecil bisa tidur dengan nyaman mengingat perjalanan ke Tulungagung lumayan lama.

Anehnya, si kondektur bersikukuh meminta bapak “yang malang” itu membayar enam kursi. Apabila tetap membayar lima kursi anaknya yang satu disuruhnya mangku. Aneh bukan? Jumlah penumpang 4 orang dan berniat membayar ongkos untuk 5 kursi, eh, malahan dusuruh memangku salah satu anak yang dibawa. Kalau begitu yang dimaui kondektur bus, berarti bapak itu hanya dapat 3 kursi pada akhirnya. Si bapak pun nggak terima dengan “kebijakan” kondektur. Dia bilang bahwa dia hanya akan dapat 3 kursi sementara uang yang dia bayarkan itu 5 kursi agar anaknya yang kecil bisa tidur di kursi yang agak lega. Mas kondektur pun ngotot agar si bapak membayar 6 kursi dengan alasan nanti kalau ada kontrol dari pengawas dia yang akan kena karena ada kursi kosong.

Aku yang berdiri di samping deretan bangku bapak tadi akhirnya “gatal” dan ikut menjelaskan kepada kondektur yang keras kepala itu bahwa si bapak itu benar. Memang benarlah dia itu dan sah-sah saja penumpang membayar sejumlah kursi yang melebihi jumlah rombongannya. Bukankah yang terpenting bagi awak bus itu adalah jumlah karcis yang terjual itu sesuai dengan jumlah kursi yang tersedia (tentu termasuk penumpang yang rela berdiri). Namun, penjelasanku pun dimentahkan si kondektur masih dengan alasan kontrol dari pengawas. Akhirnya diamlah aku daripada buang-buang energi berdebat dengan orang keras kepala dengan pendapatnya yang salah. Apa yang ini boleh dibilang sebagai sebuah kebodohan sekaligus kelicikan?

Kalau dibilang kebodohan, dia sebenarnya sudah sangat pandai menghitung uang dari kursi bus dan lantai lorong bus yang dia jual kepada penumpang. Itu kan pekerjaannya sehari-hari. Tetapi, pendapatnya bahwa penumpang 4 orang yang membayar 5 kursi yang menurutnya seharusnya membayar enam kursi dengan alasan kontrol benar-benar tidak masuk akal.

Bapak yang menjadi lawan debat kondektur dengan keluarganya yang berjumlah 4 orang orang itu menempati dua deret kursi. Istri dan seorang anaknnya menempati satu deret yang berjumlah 3 kursi. Sementara sang bapak menempati 2 kursi dari 3 kursi yang tersedia setiap deretnya. 1 kursi yang sederet dengan bapak itu ditempati penumpang lain. Logikanya kan sudah benar kalau dia membayar 5 kursi. Artinya, meskipun ada 1 kursi kosong, tetap terbayar. Jadi, kondektur bisa menghitung uang yang masuk dari potongan karcis yang dia pegang sejumlah kursi yang tersedia dan sejumlah penumpang yang berdiri. Kalau pengontrol dari perusahaan otobus (PO) tempat dia bekerta itu menanyakan perihal kursi kosong yang dipakai tidur salah satu anak bapak yang malang itu, dia tinggal lapor bahwa ada penumpang yang membayar kursi kosong. Aku tidak ingin mengatakan kondektur itu bodoh sebenarnya, tapi sepertinya dia memang bodoh🙂.

Selain bodoh, ada indikasi kondektur itu licik. Barangkali dia ingin mengantongi dari sebuah kursi yang terpaksa dibayar lebih oleh penumpang busnya. Jelas-jelas ada uang lebih dari dua deret yang berisi 6 kursi, tetapi terbayar 7 kursi. Bapak tadi membayar ongkos  6 kursi yang seharusnya hanya 5 kursi. Sementara penumpang yang duduk di samping bapak itu membayar 1 kursi. Sengaja atau tidak sengaja sang kondektur bus berbuat licik.

Itu pendapa pribadiku. Silakan teman-teman menilai dari sudut pandang masing-masing. Yang jelas ini pengalamanku yang sungguh menggelikan sekaligus sangat menjekelkan.

About Mochammad

Berpikir dan berkarya sampai tak terbatas masa

Diskusi

9 thoughts on “Kebodohan atau Kelicikan?

  1. Walah, iya, kalo emang mau duitnya doang kan ya udah bener itu, bayar 5 kursi. Yang perihal kursi kosong, yang penting mereka udah bayar….😦
    Aneh sekali… Yah, yang pasti ada alasan bagi kondektur itu untuk melakukan hal ini.😐

    Posted by Asop | September 18, 2010, 5:30 pm
    • Memang aneh dan jengkelin, Sop. Waktu itu debat mereka lumayan panjang. Akhirnya, penumpang yang ngalah karena dah sangat ingin sampai di rumah untuk berlebaran. Kasihan penumpang itu juga sebetulnya. Kata orang jombang itu namanya “dibogog”. Istilah jakartanya kalau ga salah “dikadalin”.🙂

      Posted by Mochammad | September 20, 2010, 12:31 pm
  2. hallo mas mochamad, minal aidzin wall faidzin sebelumnya ya,,menurut saya, ada dua faktor dalam kejadian ini yang saling berkaitan, yang pertama faktor ekonomi, yang kedua faktor kesopanan..sayangnya dalam kondisi ekonomi serba sulit sekarang ini, manusia mudah sekali melupakan faktor kesopanan..momentum mudik tak bisa dilepaskan begitu saja oleh para pelaku usaha transportasi bis untuk meraup untung,namun sayangnya usaha2 mereka tak dibarengi kesopanan dan “keramahan” , sementara penumpang yang dalam kondisi terpaksa, tak pnya pilihan selain mengikuti tekanan para kernet2 itu, makanya bisnis transportasi di kita, mayoritas masih jauh dari kesan profesionalisme, dengan mengutamakan servis dan kenyamanan bagi penumpang…hehe maaf ikut nimbrung mas, salam

    Posted by Tedy Kurniawan | September 23, 2010, 8:42 pm
  3. hehe..sepertinya para kondektur itu memang benar-benar memanfaatkan moment lebaran, toh paling mikirnya, “orang-orang yang mudik itu yang lebih membutuhkan mereka, jadi mau gag mau pasti menurut.”
    Saran saya kalau berpergian sby-mojokerto atau sby-jombang, mending naik bus yg memang trayeknya itu, memang lebih lama sih ketimbang bus yg jarak jauh..cuma pengalaman dan menarik membaca tulisan, sampeyan..masalahnya saya dulu sering ngalaminnya.

    Posted by ItikItem | September 28, 2010, 10:08 am
  4. sepertinya mereka benar-benar memanfaatkan moment, dalam keadaan seperti itu pemudik memang benar-benar membutuhkan mereka, akhirnya mau gag mau nurut juga dengan “kondektur yang nakal”
    pengalaman yg dulu sering saya alami, mending kalo perginya cuma jarak dekat, sby-mojokerto atau sby-jombang, naik bus sesuai trayeknya, meski lebih lama ketimbang bus yg jarak jauh..hehe cuma pengalaman, mas..
    sebelumnya mohon maaf lahir batin..

    Posted by ItikItem | September 28, 2010, 10:47 am
  5. kebodohan mas…

    Posted by gusrohman | September 28, 2010, 11:47 pm
  6. assalamu’alaikum. selamat malem…
    salam kenal. baru pertama kali maen ke sini. hehehehe…🙂.

    ckckckck…hal seperti di postingan itu layak terjadi di bus terutama kelas ekonomi.apalagi kalo jarak jauh.
    memang terkadang kondektur suka maen seenaknya dan ndak mikir kenyamanan penumpang. yang penting gue dapet duit banyak..hemmm….

    tapi kalo masalah bayar kursi, saya malah baru denger. menjengkelkna banget sepertinya.huhh….

    humm..oya saran : gmana kalo background image nya dibuat agak soft?biar bacanya lebih adem???mohon maaf. thanks

    Posted by annisadwianggraini | Oktober 8, 2010, 7:39 pm
  7. assalamu’alaikum. selamat malem…
    salam kenal. baru pertama kali maen ke sini. hehehehe…🙂 .

    ckckckck…hal seperti di postingan itu layak terjadi di bus terutama kelas ekonomi.apalagi kalo jarak jauh.
    memang terkadang kondektur suka maen seenaknya dan ndak mikir kenyamanan penumpang. yang penting gue dapet duit banyak..hemmm….

    tapi kalo masalah bayar kursi, saya malah baru denger. menjengkelkna banget sepertinya.huhh….

    humm..oya saran : gmana kalo background image nya dibuat agak soft?biar bacanya lebih adem???mohon maaf. thanks

    *) maaf repost. blog linknya salaaah.😀

    Posted by Nissa Dwi | Oktober 8, 2010, 8:00 pm
  8. Aku termasuk kategori (bodoh) si kondektur nih mas…karena pas baca tulisan ini aku baru tau Mojokerto itu di Jawa Timur hahaha…..ampuuunnnn dehh bukan peta buta nih tapi buta peta😦

    Posted by aryanti arbian | Oktober 24, 2010, 8:56 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Warung Blogger

RUMPUN

YANG DITULIS HARI INI

September 2010
S S R K J S M
« Agu   Okt »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

PERTINGGAL

Klik URL Tertinggi

  • Tak ada

Yang Pernah Mampir

  • 68,891 hits

KLIK SUKA YA…

Twitter

Kuberi Dua Potret

"Selalu Indah" Nuansa Biru
Menuju Madani

Selalu ingin mewujudkan kehidupan yang sakinah,mawadah dan warahmah

jtxman

A fine WordPress.com site

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

E R D Y's W O R D S

catatan-catatan pendek

Arevandriyan

Aku bukan orang pintar, aku bukan orang sempurna..Tapi dibalik ketidaksempurnaaku aku ingin menjadikan diriku seorang yang pintar & sempurna..Apa salahnya bila kita saling berbagi walaupun hanya di dunia maya !!!

Don Charisma

because anything is possible with Charisma

Mujaiyah's Blog

Bacalah dengan Nama Tuhan-Mu yang Maha Agung

Cory Eureikha

Be 100 % For Indonesia

Berbagi Pengetahuan dan Pengalaman

Carilah Ilmu yang banyak dan berguna serta sedekahkanlah ilmu itu

Muzuro's Blog

Just another WordPress.com site

Goedang Ilmoe

Hidup adalah Berkarya

erul9

Smile! You’re at the best WordPress.com site ever

My Cache of Unimportance

A noob's blog, nuff said at this time.....

Kamalinev Inc.

Devoted to Arabic Linguistics

%d blogger menyukai ini: