you're reading...
Intermeso

Satu di Bulan Oktober

Bulan Oktober, salah satu bulan dari dua belas bulan dalam setahun, bagi bangsa di negara yang alhamdulillah sampai sekarang masih berdiri dengan nama Indonesia ini merupakan bulan yang memiliki arti penting. Setidaknya ada tiga hari peringatan pada bulan itu, Hari Kesaktian Pancasila (1 Oktober), Hari TNI (5 Oktober), dan Hari Sumpah Pemuda (28 Oktober). Bahkan bulan Oktober dicanangkan sebagai Bulan Bahasa. Secara tidak kita sadari, peringatan-peringatan dan pencanangan di bulan ini kalau diamati, semua berkaitan dengan angka satu (dan kata-kata yang duturunkan dari kata dasar itu). Kata satu dalam bulan Oktober bukan hanya sekedar angka, tapi bilangan yang sarat dengan makna. Sarat makna? Hmmm…., seperti apa ya?

Pertama mari kita tengok tanggal 1 Oktober. Setiap tanggal ini selalu diperingati sebagai Hari Kesaktian Pancasila. Singkat kata, bicara-bicara soal Pancasila yang kembali sakti pada tanggal itu setidaknya ada dua kata yang berunsur kata satu. Kata pertama terdapat dalam sila ketiga Pancasila, kata persatuan dalam kelompok kata persatuan Indonesia. Yang kedua, ada kata lain yang bermakna ‘satu’, kata i(e)ka dalam slogan bhineka tunggal ika yang terdapat dalam banner yang dicengkeram kaki burung garuda, lambang negara yang sering disebut dengan Garuda Pancasila.

Apa yang tertulis dalam banner itu mempunyai pemaknaan yang mendalam yang seharusnya membuat seluruh lapisan dan unsur bangsa sadar bahwa negara ini memang terkodratkan berbeda-beda bangsa, agama, bahasa, dan adat kebiasaan sebagaimana terekspresikan dalam kata bhineka. Meskipun bersifat kebhinekaan tetap menjadi satu kesatuan yang terwakili dengan kelompok kata tunggal ika. “Seruan” untuk tetap manunggal itu pun dikukuhkan dalam sila ketiga pancasila, persatuan Indonesia, yang ekspresi bahasa sederhananya barangkali seperti ini, “Bersatulah wahai rakyat dan bangsa Indonesia”. Pertanyaannya, mengapa pernah terjadi dan masih ada peristiwa bentrokan antaretnis, antaragama, dan antarkelompok, seperti terjadi di Jalan Ampera (Jakarta) atau Tarakan (Kalimantan Timur) beberapa tahun lalu? Sampai tiga tahun terakhir pun masih juga terjadi konflik antaretnis yang “meletus” di Lampung (2012) dan Sumbawa Besar (awal 2013) lalu. Tidak terhitung pula peristiwa-peristiwa konflik kecil lain di berbagai wilayah di Bumi Pertiwi ini. Toleransi dan rasa saling mencintai perbedaan yang dikandung Pancasila sepertinya sudah dilupakan. Sila ketiga Pancasila bukankah bunyinya masih sama sampai detik ini, persatuan Indonesa, dan belum terganti oleh kelompok kata lain, semisal perceraiberaian Indonesia.

Empat hari kemudian, tapatnya tanggal 5 Oktober, setelah peringatan Hari Kesaktian Pancasila, diperingati sebagai hari TNI yang dulu lebih dikenal dengan Hari ABRI. Ini lebih merupakan acara seremonial dalam rangka HUT TNI. Hari peringatan ini bolehlah dibilang sebagai “hari raya”nya TNI, sebuah institusi militer yang bertugas menjaga keutuhan dan persatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Keutuhan dan persatuan NKRI memang harus tetap dijaga karena wilayahnya yang terpisah-pisah dalam bentuk kepulauan serta ras, suku, agama, dan bahasanya yang berbagai ragam. Situasi dan kondisi yang seperti itu membutuhkan pengamanan yang ekstra ketat oleh siapa lagi kalau bukan TNI kita (terutamanya). Institusi ini memiliki tugas berat untuk membuat Indonesia tetap satu dan bersatu.

Lagi-lagi satu hari dalam bulan Oktober ini memiliki makna ‘satu’. Unsur utuh dari kata keutuhan mengandung makna satu di samping kata persatuan yang jelas-jelas berkata dasar satu. Dengan kekuatan TNI yang kita miliki itu semestinya negara yang terbangun dari beraneka ragam unsur akan terjaga dari suatu perpecahan karena memang negara ini rentan akan hal itu. Lalu, mengapa masih saja terjadi konflik-konflik antarberbagai unsur yang berbeda itu dan juga sewaktu-waktu pertentangan semacam itu bisa saja muncul?

Nah, menjelang berakhirnya hari dalam bulan Oktober, tepatnya tanggal 28 Oktober, masih ada satu peringatan lagi. Peringatan Hari Sumpah Pemuda yang merupakan tonggak kesadaran akan adanya suatu persatuan. Kesadaran itu muncul karena untuk mengusir “penjajah” pada waktu (dicetuskannya Sumpah Pemuda tahun 1928) itu dipikirkan tidak mungin berhasil dilakukan sendiri-sendiri. Karenanya pada tahun itu diselenggarakan kongres pemuda yang berhasil merumuskan sebuah sumpah yang dinamakan Sumpah Pemuda. Sumpah Pemuda itu terdiri dari tiga ikrar yang berbunyi kami putera dan puteri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu tanah air Indonesia, kami putera dan puteri Indonesia mengaku berbangsa yang satu bangsa Indonesia, serta kami putera dan puteri Indonesia menjunjung bahasa persatuan bahasa Insonesia.

Hebat sekali, bertahun-tahun sebelum sebuah negara berdiri dengan nama Indonesia, angkatan mudanya yang terdiri dari berbagai latar belakang daerah asal, suku bangsa, bahasa, dan adat istiadat sudah memiliki tekad dan kesadaran penuh akan adanya tiga hal yang satu. Pertama, sebuah tanah air (barangkali bisa dimaknai sebuah negara) yang satu, kedua, berbangsa-bangsa yang merasa satu, dan ketiga berkomunikasi dengan satu bahasa di atas berbagai ragam bahasa daerah yang tersebar di pulau-pulau yang disebut nusantara. Sebuah kesadaran akan pentingnya makna ‘satu’ yang terangkum dalam sebuah kata persatuan yang sudah lama tertanam. Apakah di era modern Indonesia ini semua itu akan dinafikan, diingkarkan?

Berkali-kali kejadian konflik antaretnis, antaragama, dan antarkelompok yang masih aktual sampai sekarang menunjukkan betapa kesadaran itu mulai mengalami pergeseran. Dalam kaitan dengan peringatan lahirnya Sumpah Pemuda, barangkali kata satu pada waktu dicetuskan sumpah itu demikian disadari dan diinginkan perwujudannya karena ada kesamaan keinginan, pikiran, dan pandangan, yakni terlepas dari belenggu penguasaan bangsa lain di wilayah nusantara. Konflik-konflik dan pertentangan-pertentangan yang terjadi dewasa ini barangkali disebabkan perbedaan latar belakang atau kepentingan. Latar belakang politik? Mungkin saja bisa begitu. Ada pula yang berpendapat disebabkan kesenjengan sosial atau keyakinan tertentu yang juga bisa dibenarkan.

Melihat kenyataan seperti di atas, bulan Oktober yang sarat dengan makna ‘satu’ ini seyogyanya dapat dijadikan momentum untuk memperkuat kesadaran akan pentingnya persatuan dan kesatuan dalam bermasyarakat dan bernegara. Masyarakat Indonesia terkodratkan terdiri dari berbagai macam bangsa, beraneka ragam adat istiadat dan budaya, wajib memeluk satu agama dari beberapa agama yang diakui secara resmi di negara ini, serta berbicara sehari-hari dengan bervariasi bahasa daerah. Kita ini bangsa yang di satu pihak terlahir sebagai masyarakat kesukuan dan kedaerahan, tapi di pihak lain harus memiliki rasa nasionalisme yang tinggi. Hidup di Indonesia sebenarnya gampang-gampang susah. Di satu sisi orang-orang Indonesia harus mencintai suku bangsa dan berbagai macam atribut lain yang mereka sandang; di sisi lain mereka harus dan wajib (di atas segala perbedaan yang ada) memiliki rasa kesatuan dan persatuan dalam “payung” yang bernama nasionalisme sebagai warga negara NKRI.

Pada bulan Oktober yang juga dicanangkan sebagai Bulan Bahasa ini seluruh rakyat Indonesia bisa introspeksi diri untuk melihat kembali seberapa besar rasa toleransi mereka akan segala sesuatu (baca SARA) yang berbeda dari yang mereka masing-masing miliki. Jangan perbedaan dijadikan sebagai sumber atau bahkan alasan pertentangan yang berujung pada konflik.

Bangsa Indonesia mestinya sadar bahwa segala perbedaan bisa disatukan. Kalau ada pergesekan mestinya bisa dimusyawarahkan jalan keluarnya. Pertentangan bisa diselesaikan jika komunikasi berjalan lancar. Komunikasi bisa dilaksanakan dengan satu bahasa yang seragam, baik bahasa dalam arti sepikiran maupun bahasa dalam arti alat komunikasi. Itulah makanya bulan ini dijadikan sebagai bulan bahasa. Bulan Oktober seharusnya merupakan bulan pemersatu. Kalau setiap orang di Indonesia memahami dan melaksanakan makna tiga hari peringatan di bulan Oktober pasti tidak akan terjadi konflik-konflik. Namun, seperti biasanya, peringatan tinggal hanya sebagai seremonial yang hanya dimaknai sebatas serangkaian kegiatan upacara belaka (tentang topik ini baca juga “Hari Per(tidak)ingatan”). Itu pun pesertanya tidak jarang mengeluh karena kalau ikut upacara kepanasan. Padahal, setiap bulan Oktober bisa dijadikan sarana untuk, ibarat baterai, recharge kesadaran akan perlunya kesatuan dan persatuan dalam bermasyarakat dan bernegara. Kesadaran akan kedua hal itu yang terus tumbuh di hati dan pikiran masyarakat Indonesia bisa mempertebal rasa nasionlisme mereka pula.

Semua hari penting di bulan Oktober itu berkaitan dengan kata satu. Satu dalam isi dan lambang negara (Kesaktian Pancasila), satu dalam tujuan pengamanan negara (Hari TNI), serta satu dalam bermasyarakat dan bernegara (Hari Sumpah Pemuda). Satu di bulan Oktober.

About Mochammad

Berpikir dan berkarya sampai tak terbatas masa

Diskusi

14 thoughts on “Satu di Bulan Oktober

  1. wah…. di bln Oktoaber ada bln Bahasa juga toh mas, (doh) ketinggalan inpo nih gw hehehe… salam kenal ya masπŸ™‚ salam blogger

    Posted by yanto | Oktober 20, 2010, 8:52 am
    • Salam kenal juga @yanto.
      Iya, bulan oktober dicanangkan sebagai bulan bahasa. Ternyata itu kurang populer ya, tapi bukan salahmu juga. Itu artinya lembaga yang berwenang dalam perbahasaan yang kurang sosialisasi. Sekarang dah tahu kan? Biasanya pada bulan ini di pusat bahasa diselenggarakan berbagai kegiatan. Ya itu tadi, masyarakat umum, di luar orang-orang yang berkecimpung dalam bidang bahasa, kurang dilibatkan. Begitulah…πŸ™‚
      πŸ™‚ Salam blogger juga…

      Posted by Mochammad | Oktober 20, 2010, 1:35 pm
  2. Luar biasa..πŸ˜€

    Kita Indonesia adalah satu, satu bahasa, satu tanah air, dan satu jiwa raga kita.πŸ˜›

    Posted by Asop | Oktober 20, 2010, 2:57 pm
  3. halo bung Mochammad..
    thx bwt komennya sebelumnya..

    mm.. sy jg belakangan nih pny pikiran ttg Indonesia, yg sy dapat di bln Oktober nih. melihat semua (khususnya di berita) kenyataan di Indonesia yg masih susah bwt sy pribadi membanggakannya, menjadikan sy berpikir Indonesia tuh “kotak pandora”.

    siapa aja tertarik bwt buka tuh kotak, tapi bwt nutupnya ampun sembah sujud dah :p

    pertama baca blog ini, halaman ini, paragraf 1, sy jadi teringat pak Ma’arif di wawancara salah satu tivi berita berlambang burung, kalo cita2nya ttg Indonesia katanya: paling nggak sehari sebelum kiamat bangsa Indonesia tuh masih ada..

    tapi semakin kebawah bc tulisan bung n’ keinget kata2 Ma’arif, berasa telanjang. sangsi kalo Indonesia bs bertahan. harap maklum bloggers, bung, kalo saya agak pesimis. soalnya, konflik di Indonesia rada berlanjut n’ paling utama, masih susah nerima BHINEKA TUNGGAL IKA aKa PANCASILA.

    (semoga komentar sy masih up to date n’ gak salah tempat)

    salam, nimhut.
    http://nimhut.wordpress.com

    Posted by nimhut | Oktober 21, 2010, 2:53 am
    • Komentar tetap up to date kok dan lebih lagi ga salah tempat.

      Sebenarnya orang-orang yang tetap memikirkan nasib bangsa ini, seperti @nimhut, adalah orang-orang yang masih cinta kepada bangsa dan negaranya. Sayangnya rasa cinta seperti itu dikubur dalam2 bahkan tidak dimiliki oleh orang-orang yang mengaku peduli atas nasib bangsa dan negara mereka, namun praktiknya mereka hanya ongkang2 di “kursi” empuk masing2.

      Kebanggaan akan negara ini yang mulai menipis atau mungkin malah sirna, tidak bisa disalahkan kerena saat ini agak susah mencari hal-hal tetang Indonesia yang bisa dipamerkan dengan dada membusung dan kepala tegak kepada dunia luar. Akan tetapi, rasa psimis tentu tidak dibenarkan juga karena psimistis itu mendekati sikap menyerah.

      Yah, mungkin kita bisa memberi sumbangsih atas terwujudnya Indonesia yang satu meski dalam bentuk perbuatan sekecil apa pun, misalnya dengan menulis seperti ini. Siapa tahu dibaca orang dan membuat orang lain tergerak untuk berpikir pula akan kelangsungan hidup bermasyarakat dan bernegara yang ideal menurut karakteristik yang dimiliki bangsa ini.

      Terima kasih dah mau mampir ke blog ini.
      G’luck buat skripsimu…πŸ™‚

      Posted by Mochammad | Oktober 21, 2010, 5:06 am
  4. Indonesia satu harus kita mulai dari kesadaran dari dalam diri sendiri, masuk kedalam diri keluarga dan akan menyadari betapa kita ini memiliki bangsa yang harus dijaga rasa persatuannya.

    artikelnya sangat membangun dan memotivasi…

    salam kenaldan salam hormat

    Posted by jumialely | Oktober 22, 2010, 2:43 pm
  5. baru baca……tapi suka banget dengan pembahasan ini, secara aku kebetulan lahir di salah satu tanggal yang disebut di atas…..hehe

    tapi beda banget yaa makna hari2 itu sekarang ini dibandingkan doeloe waktu masih duduk di SD……

    Sekarang hampir terlupakan…..

    Posted by Poezz Phietha | November 22, 2010, 12:33 pm
    • Mungkin bukan terlupakan, tapi terabaikan tepatnya. Orang semua tahu akan pentingnya (per)satu(an) di negeri yang seba majemuk ini. Mungkin juga orang sudah mulai hidup nyaman. Kita sepertinya merasa tidak perlu lagi memikirkan bagaimana memupuk satu visi dan misi yang sama seperti waktu pendahulu-pendahulu kita memikirkan bagaimana rasanya menjadi sebuah bangsa yang merdeka yang akhirnya mereka wujudkan dengan dasar sebuah kata, SATU.
      Terima kasih, Non, menyempatkan diri mampir di blogku yang sekarang agak sepi tulisan iniπŸ™‚

      Posted by Mochammad | November 24, 2010, 12:11 am
  6. Baru saja selesai bahas soal bahasa Indonesia yang memang memiliki potensi untuk menyatukan bangsa penggunanya, yang terbukti ketika melihat fenomena afiksasi. Sebagai contoh, kata ‘bangun’, ketika bertemu dengan meN-, peN, ter-, di-, peN-an, di-kan, dan imbuhan lainnya, kata ‘bangun’nya tetap tergunakan, meski arti berubah karena terlekati afiks. Hal ini berarti dari sekian banyak afiks yang melekatinya, ‘bangun’ tetap kembali pada kata dasarnya.
    Bisa dibandingkan misalnya dengan bahasa Inggris, bangun (=wake up), pembangunan (development), bangunan (=building), dll.

    Hanya saja, kaidah-kaidah kebahasaan Indonesia ini seringkali diterjang justru oleh kalangan pejabat tinggi Negara, sehingga tidak heran jika kini terlihat banyak pejabat yang terjaring KPK. Di sisi lain, banyak para remaja dengan bangga menggunakan bahasa-bahasa yang menjauhi kaidah kebahasaan Indonesia, sehingga tak heran pula jika mereka kadang merasa bangga melanggar aturan-aturan yang sudah diberlakukan (lalu lintas misalnya).

    Satu hal lagi yang menarik ketika mengajar tentang afiks.
    Sebuah kata yang mengalami morfofonemis, akan selalu mengalami adaptasi dengan morf yang melekatinya, dan proses adaptasi itu terjadi dengan teratur. Bias dibayangkan, sebuah kata, ya…, sebuah kata mampu beradaptasi, bagaimana dengan penggunanya?

    Posted by Syahrul Q | Oktober 7, 2013, 11:11 pm
  7. Hari batik ada di bulan oktober… tapi tanggal 2…

    Posted by Adi Pradana | Oktober 1, 2014, 10:05 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Warung Blogger

RUMPUN

YANG DITULIS HARI INI

Oktober 2010
S S R K J S M
« Sep   Nov »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

PERTINGGAL

Klik URL Tertinggi

  • Tak ada

Yang Pernah Mampir

  • 68,891 hits

KLIK SUKA YA…

Twitter

Kuberi Dua Potret

"Selalu Indah" Nuansa Biru
Menuju Madani

Selalu ingin mewujudkan kehidupan yang sakinah,mawadah dan warahmah

jtxman

A fine WordPress.com site

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

E R D Y's W O R D S

catatan-catatan pendek

Arevandriyan

Aku bukan orang pintar, aku bukan orang sempurna..Tapi dibalik ketidaksempurnaaku aku ingin menjadikan diriku seorang yang pintar & sempurna..Apa salahnya bila kita saling berbagi walaupun hanya di dunia maya !!!

Don Charisma

because anything is possible with Charisma

Mujaiyah's Blog

Bacalah dengan Nama Tuhan-Mu yang Maha Agung

Cory Eureikha

Be 100 % For Indonesia

Berbagi Pengetahuan dan Pengalaman

Carilah Ilmu yang banyak dan berguna serta sedekahkanlah ilmu itu

Muzuro's Blog

Just another WordPress.com site

Goedang Ilmoe

Hidup adalah Berkarya

erul9

Smile! You’re at the best WordPress.com site ever

My Cache of Unimportance

A noob's blog, nuff said at this time.....

Kamalinev Inc.

Devoted to Arabic Linguistics

%d blogger menyukai ini: