you're reading...
Intermeso

ONE STOP SHOPPING: Potensial Jadi Objek Wisata?

One Stop Shopping. Istilah dalam bahasa Indonesianya apa ya? Terpaksa, deh,  aku pakai istilah dalam bahasa Inggris itu. Terjemahan bebasnya mungkin belanja bermacam-macam di satu tempat. Terjemahan itu tentu kurang pas dipakai sebagai istilah padanannya; tidak memenuhi syarat ekonomis pembentukan istilah. Yang jelas one stop shopping ini tidak berkaitan dengan toko serba ada alias toko ada ini ada itu. Shopping dalam catatan ini tergolong belanja yang unik. Bolehlah dibilang juga mobile shopping. Aktivitas kehidupan yang satu ini bahkan memungkinkan dijadikan objek wisata budaya. Mau tahu ceritanya?

Ini ceritanya di Kereta Rel Listrik (KRL) Jabodetabek, khususnya jalur Jakarta-Bogor. Seperti sudah diketahui umum, jasa pelayanan angkutan kereta, termasuk KRL, dibagi menjadi beberapa kelas. Untuk kereta antarkota antarpropinsi (orang Jakarta menyebutnya Kereta Jawa) dikenal tiga kelas, eksekutif, bisnis, dan ekonomi. Kelas KRL pun, dengan istilah berbeda, dibagi menjadi tiga, KRL ekspres, KRL ekonomi-AC, dan KRL ekonomi. Hal yang paling membedakan dari ketiga jenis kelas KRL ini tidak lain terletak pada diperbolehkan atau tidak diperbolehkannya pedagang asongan masuk dalam kereta. Sudah barang tentu KRL ekspres yang tergolong “kasta” tertinggi dan KRL ekonomi-AC yang terbilang “kasta” menengah terbebas dari pengasong yang hilir-mudik dari gerbong satu ke gerbong lain. Alasannya pasti DEMI KENYAMANAN penumpang. Mungkin karena pihak PT KAI bermaksud “mengahargai” para penumpang yang rela (barangkali juga terpaksa) membayar tiket dengan harga lebih mahal.

Nah, di KRL ekonomi inilah one stop shopping terjadi. Betapa tidak. Di KRL yang harga tiketnya dari Depok-Jakarta, misalnya, cuma 1500 rupiah terbentuk fungsi laten (fungsi di luar fungsi semestinya sebagai alat transportasi), yaitu fungsi ekonomi, karena di rangkaian gerbong KRL kelas ini para pedagang asongan dibebaskan (baca diperbolehkan) menawarkan dagangan mereka dan melakukan transaksi di atas gerbong yang sedang berjalan. Puluhan pedagang asongan dengan berbagai dagangan yang dibawa dari mulai aneka jenis minuman, mainan, pernak-pernik asesoris perempuan, berbagai jenis alat rumah tangga kecil-kecil, buku dan media cetak, sampai dengan buah-buahan. Pokoknya semua ada, deh, di KRL ekonomi bak pasar berjalan. Fungsi laten yang muncul (secara kebetulan)  benar-benar selaras dengan kelas KRL itu, KRL Ekonomi. KRL yang rangkaian gerbongnya bisa dijadikan tempat berkegiatan ekonomi.

Seperti pengalamanku beberapa hari lalu. Dari Stasiun Manggarai aku berniat naik KRL Ekonomi-AC dan sudah membeli tiketnya. Sebelum masuk areal peron-peron, kutanyakan dulu jadwal pemberangkatan KRL itu dan ternyata masih 1,5 jam lagi. Lumayan lama juga, tetapi di salah satu jalur tampak ada rangkaian gerbong KRL Ekonomi yang ngetem dan dalam keadaan longgar penumpang. Ketika diberitahu petugas stasiun KRL itu berangkat ke Bogor beberapa menit lagi, kuputuskan naik ekonomi biar tidak terlalu lama nunggu.

Tak lama kemudian berangkatlah keretaku. Seperti biasa di dalam gerbong pun mondar-mandirlah para pedagang asongan. Beberapa barang dagangan pun ditawarkan kepadaku dan penumpang lain. Ketika seorang pengasong menawarkan sandal, teringatlah aku akan niat beli sandal untuk kamar mandi. Singkat kata belilah aku sepasang sandal plastik seharga 5000 rupiah. Lumayan murah pikirku. Satu barang terbeli. Tidak lama melintas pengasong lain menawarkan pelapis anti gores untuk kaca monitor handphone. Murah juga cuma seharga goceng. Dua barang pun  terbeli.

Tiba-tiba, menjelang Stasiun Lenteng Agung hidungku mulai “nakal” karena mencium bau harum buah nangka. Tumben-tumbenan, nih, ketemu nangka. Tengok sana tengok sini akhirnya tertangkap matalah sekeranjang buah nangka yang sudah dikemas rapi dengan plastik di dekat pintu gerbongku. Ketika mau turun di Stasiun UI belilah aku dua bungkus nangka yang masing-masing seharga 10000 rupiah. Lumayanlah buat “obat kepingin” dan oleh-oleh untuk para “penghuni tetap” warkop depan kos-kosan. Alhasil, ketika turun di stasiun tujuan, bagasiku tambah tiga jenis barang yang aku beli di dalam satu gerbong kereta. Benar-benar one stop shopping. Dari sandal jepit plastik sampai buah-buahan aku beli di satu tempat mobile seperti KRL yang kutumpangi.

Mengasyikan bukan? Terkadang sebuah barang kecil, seperti gunting kuku atau peniti dan sebagainya, yang kita butuhkan sering lupa terbeli kalau pergi ke supermarket atau pasar. Tetapi, di KRL ekonomi barang-barang semacam itu bisa kita dapatkan tanpa harus keliling ruangan supermarket karena ketika para pengasong menawarkan barang dagangan mereka dengan suara yang dari jauh sudah terdengar, cukup membuat kita teringat akan barang yang sering lupa kita beli itu. Jadilah didapatkan barang yang dibutuhkan dan bahkan bisa beberapa jenis barang seperti pengalaman yang kuceritakan tadi. Itulah gambaran fenomena one stop shopping di KRL.

Berkaitan dengan kehadiran para pengasong tersebut, bagaimana dengan kenyamanan penumpang yang sangat diperhatikan pada dua kelas di atasnya? Jawabannya tergantung situasi juga. Pada saat penumpang padat kehadiran para pengasong ini bisa dibilang mengganggu. Tetapi, ketika penumpang kereta sedang normal atau jarang, kehadiran mereka malah menguntungkan bagi penumpang yang ingin membeli pernik-pernik yang dibutuhkan.

Karena aku termasuk penumpang yang sempat diuntungkan oleh kehadiran para pengasong KRL Ekonomi, di atas ojek yang membawa ke kos-kosan aku sempat melamun dan sok memikirkan keberadaan KRL Ekonomi dan para pengasong yang menjadikan KRL kelas itu sebagai tempat mencari nafkah yang kabarnya akan dihapuskan “peredarannya” di atas rel-rel kereta Jabodetabek.

Seperti biasa tiba-tiba muncullah ide yang nggak jelas. Terpikir untuk menjadikan KRL Ekonomi lengkap dengan pengasong-pengasongnya yang tergolong unik (tentu unik karena  di negara lain aktivitas sosial seperti itu tidak ada) itu sebagai objek wisata DKI Jakarta, yah, seperti keberadaan pasar terapung di Kalimantan (Banjarmasin). Nama yang keren untuk objek wisata baru ini kira-kira one stop shopping mobile atau belanja di atas kereta. Kegiatan sekelompok masyarakat yang bisa dimasukkan sebagai bagian budaya Jakarta itu barangkali bisa ditawarkan kepada wisatawan untuk mendukung pariwisata di ibukota negara ini. Keberadaan KRL Ekonomi sebagai alat transportasi tetap dipertahankan sebagaimana biasa, tetapi aktivitas “perdagangan” di dalamnya yang unik bisa dijual untuk objek wisata. Begitu kira-kira.

Untuk mendukung itu, gerbong KRL ekonomi perlu  direnovasi agar sedikit lebih “cantik” dan tidak terkesan kumuh seperti sekarang ini. Jadi, pada jam-jam kereta ini tidak padat penumpang, para wisatawan yang berkunjung ke Jakarta bisa diajak naik KRL Ekonomi Jakarta-bogor (pergi-pulang). Kalau sudah begitu, selain barang-barang yang biasa dijual di kereta, ditambah lagi jenis barang dagangan lain yang berupa suvenir yang beratribut kejakartaan, seperti kaos, gantungan kunci, dan lain-lain.

“Kukusan mana, Mas”, tiba-tiba suara tukang ojek membuyarkan lamunanku. Ternyata asyik juga berkhayal.

🙂 Berawal dari khayalan siapa tahu bisa jadi kenyataan. One stop shopping di KRL Ekonomi sebagai objek wisata baru di DKI Jakarta, belanja-belanja di KRL yang unik seperti ilustrasi di atas, bisa dijadikan objek wisata budaya. Kenapa tidak? Lazimnya banyak orang ketika berkunjung ke daerah atau negara lain selalu ingin melihat hal-hal unik dan nyleneh yang di tempat asal mereka tidak ada.

About Mochammad

Berpikir dan berkarya sampai tak terbatas masa

Diskusi

18 thoughts on “ONE STOP SHOPPING: Potensial Jadi Objek Wisata?

  1. Kirain di mall, eh ternyata di KRL

    Posted by Adi | Oktober 21, 2010, 6:27 am
  2. good idea, bang. eh mas.

    salam kenal dari org yg lg belajar nulis dan ngeblog…

    tabik,
    hay

    Posted by izoruhai | Oktober 22, 2010, 1:47 pm
    • Terima kasih apresiasinya, Bung @izoruhai.
      Ayuk, kita belajar nulis bersama-sama. Untuk melatih keterampilan menulis kita, cukuplah dengan satu cara: menulis semua apa kita pikirkan berdasarkan pengalaman panca indera kita. Menulis itu seperti berbicara. Perbedaannya, berbicara kita menggunakan mulut; menulis tangan yang digunakan. Dua2nya sama2 bertujuan mengekspresikan ide-ide yang ada di pikiran kita untuk diketahui orang lain (pendengar atau pembaca).
      Salam kenal balik…🙂

      Posted by Mochammad | Oktober 22, 2010, 5:14 pm
  3. Idenya boleh juga tuh, sapa tau bisa buka lapak disana juga😀

    Posted by Diah Prabowo | Oktober 23, 2010, 1:27 am
  4. objek wisata tidak harus kepantai ke gunung ke taman.. dll ya mas

    pemandangan sekitar jika dinikmati sudah menjadi objek wisata..

    keren

    salam hangat dari kota medan

    Posted by jumialely | Oktober 23, 2010, 10:15 am
    • hmmm.. Iya, Mbak… Aktivitas kehidupan yang unik-unik juga bisa dijadikan objek wisata budaya. Asal dikelola dengan baik. Soal KRL itu kan hanya sebatas pemikiran “nakal” aja. Karena menurutku kalau keberadaannya yang membudaya itu diatur dan diarahkan dengan baik sebenarnya bisa memberikan solusi yang bijaksana. Kaum kecil seperti pengasong tidak tergusur, pengguna KRL memperoleh layanan akngutan murah dan nyaman, dan KAI mungkin juga diuntungkan. halah… ngayal lagi nih😀

      Posted by Mochammad | Oktober 23, 2010, 2:10 pm
  5. menghayal itu memang asyik..apalagi menghayalkan sesuatu yang bisa membangun negeri.. dan.. actioonnnn !

    salam dari negeri anak

    Posted by negerianak | Oktober 23, 2010, 10:16 am
    • kalau gitu, ngayal yuk..🙂 tapi yang bermanfaatlah tentunya. khayalan atau mimpi terkadang bisa terwujud sebuah mahakarya. ketika orang berkhayal ingin terbang seperti burung, terciptalah pesawat udara. itu berarti terwujudnya impian atau khayalan harus dibarengi berpikir dan bekerja keras ya..
      🙂 salam hangat juga…

      Posted by Mochammad | Oktober 23, 2010, 2:13 pm
  6. pembenahan dan renovasi memang sangat dibutuhkan saat ini, selain untuk kenyamanan juga untuk keselamatan …..

    terima kasih atas tulisannya

    salam hangat dan semoga selalu sukses

    Posted by mbak jum | Oktober 23, 2010, 10:18 am
  7. Makasih ya Bos, dah mau mampir di propertycirebon.wordpress.com

    Posted by PropertyCirebon | Oktober 23, 2010, 3:20 pm
  8. Itulah Indonesia…unik dan cenderung ‘aneh’ karna seakan melegalkan sesuatu yg melanggar koridor hukum, bukannya dilarang ya berjualan di atas kereta tp toh tapi seru juga…gak perlu ke mall untuk mendapatkan sesuatu, cukup naik KRL dan bersiaplah untuk menawar hahaha…

    Posted by gumilardwi | Oktober 24, 2010, 12:25 pm
  9. Pengalaman pribadi nih mas….untuk belanja di KRL ketika menggunakan KRL dengan jarak terjauh sekalipun pasti akan lebih mahal shoppingnya drpd tiketnya..:)

    Posted by aryanti arbian | Oktober 24, 2010, 8:06 pm
  10. Jakarta adalah kota one stop shopping. Mau berhenti sebentar harus belanja. Ya, gak harus sih, tapi ada tuntutan ekspektasi sosial. Iya gak sih?

    Posted by Ghani Kunto | Oktober 26, 2010, 11:04 am
  11. Benar juga, tradisi one stop shopping mobile (kalau kata Anda dalam tulisan) sepertinya merupakan fenomena yang menarik. Karena seolah-olah telah menjadi budaya di negeri kita ini. Salam kenal dan Salam Nusantara!!!

    Posted by ronanusantara | Oktober 26, 2010, 1:10 pm
  12. @gumilardwi, ini tips untuk belanja di kereta: (1) belilah barang yang dibutuhkan ketika kereta menjelang sampai di stasiun tujuan terakhir, (2) supaya dapat barang dengan harga miring (bahkan bisa “roboh”), belanjalah di sore hari atau malam hari (aturan nomor 2 tidak berlaku untuk buah2an karena dijamin kulitas sudah menurun)…🙂

    @aryanti, yup, memang berdasarkan pengalaman pribadi ide tulisan di atas🙂

    @Gahni Kunto, mungkin karena jakarta kota mall ya.. sejauh mata memandang bisa menangkap objek yang berupa gedung pusat perbelanjaan bahkan (maaf) pipis pun harus “belanja”…🙂

    @ronanusantara, kegiatan ekonomi (baca: jual-beli) di KRL memang fenomena unik karena keunikan itu merupakan salah satu penyimpangan fungsi alat transportasi itu (fungsi laten). salam kenal juga…🙂

    Posted by Mochammad | Oktober 27, 2010, 3:04 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Warung Blogger

RUMPUN

YANG DITULIS HARI INI

Oktober 2010
S S R K J S M
« Sep   Nov »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

PERTINGGAL

Klik URL Tertinggi

  • Tak ada

Yang Pernah Mampir

  • 68,891 hits

KLIK SUKA YA…

Twitter

Kuberi Dua Potret

"Selalu Indah" Nuansa Biru
Menuju Madani

Selalu ingin mewujudkan kehidupan yang sakinah,mawadah dan warahmah

jtxman

A fine WordPress.com site

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

E R D Y's W O R D S

catatan-catatan pendek

Arevandriyan

Aku bukan orang pintar, aku bukan orang sempurna..Tapi dibalik ketidaksempurnaaku aku ingin menjadikan diriku seorang yang pintar & sempurna..Apa salahnya bila kita saling berbagi walaupun hanya di dunia maya !!!

Don Charisma

because anything is possible with Charisma

Mujaiyah's Blog

Bacalah dengan Nama Tuhan-Mu yang Maha Agung

Cory Eureikha

Be 100 % For Indonesia

Berbagi Pengetahuan dan Pengalaman

Carilah Ilmu yang banyak dan berguna serta sedekahkanlah ilmu itu

Muzuro's Blog

Just another WordPress.com site

Goedang Ilmoe

Hidup adalah Berkarya

erul9

Smile! You’re at the best WordPress.com site ever

My Cache of Unimportance

A noob's blog, nuff said at this time.....

Kamalinev Inc.

Devoted to Arabic Linguistics

%d blogger menyukai ini: