you're reading...
Di Balik Gambar Ada Cerita, Intermeso

di Mana Harus Kami Berjalan

Sepuluh ribu langkah sehari.

Itu slogan sebuah iklan produk susu kalsium yang sangat persuasif untuk mengajak orang paling tidak dalam sehari melakukan aktivitas jalan kaki dalam satuan sekian ribu langkah itu. Sebuah ajakan untuk berpola hidup sehat dengan berolahraga murah meriah. Tentu saja murah meriah. Berjalan kaki sebagai aktivitas sehari-hari dan pula sebagai olahraga tidak perlu menggunakan alat, kecuali  beli sepatu. Sepatu pun bisa dikatakan pilihan karena bergantung keinginan pejalan kaki itu mau bersepatu, pake sandal, atau cekeran (tanpa alas kaki).

Begitulah. Selain murah meriah, aktivitas menyehatkan yang tidak perlu alat tambahan itu juga tidak terikat ruang dan waktu karena bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja. Jalan kaki dapat dilakukan pagi, siang, sore, malam, atau kapan saja kita mau, baik itu di rumah, di halaman, di kebun, di kantor, di sekolah, atau bahkan di jalan raya. Berjalan kaki di jalan raya? Mengapa tidak?

Melakukan aktivitas jalan kaki di jalan raya memang bisa menimbulkan tanda tanya. Dapatlah dimaklumi karena jalan raya memang diperuntukkan buat kendaraan, terutama kendaraan bermotor, dan bukan untuk pejalan kaki. Tapi, yang dimaksud jalan raya dalam hal ini bukanlah jalan tol atau jalan bebas hambatan yang khusus dibangun untuk mobil. Jalan raya yang ini menghubungkan antartempat dalam sebuah kota yang fungsinya bukan hanya untuk pengguna kendaraan bermotor atau orang yang bermobil. Pejalan kaki memiliki pula hak memakai fasilitas  jalur di sebuah jalan raya untuk akses mereka dari satu tempat ke tempat lainnya.

Jalur untuk pejalan kaki di jalan raya disebut dengan pedestrian yang bentuknya berupa trotoar yang terletak di sebelah kiri-kanan badan jalan. Di situlah seharusnya para pejalan kaki menggunakan haknya memakai fasilitas jalan raya. Tentu akan nyaman sekali bila kita bisa berjalan kaki menuju suatu tempat yang akan kita datangi di atas trotoar yang dinaungi pohon-pohon yang rindang. Ho ho… Nyaman? Tunggu dulu. Itu mungkin di negeri impian. Tapi tidak di sini, di Jakarta atau kota-kota lain di Indonesia.

 

Parkir Sembarangan

Ups!!! Awas nabrak mobil!

Mengapa kenyamanan berjalan kaki di pedestrian hanya ada di negeri impian? Pemandangan yang selama ini berlaku adalah fasilitas pedestrian (jalur pejalan kaki) yang berupa trotoar di sebelah kiri-kanan jalan raya sering berubah fungsi jadi areal parkir motor dan mobil atau untuk tempat berjualan para pedagang kaki lima. Bahkan terkadang trotoar pun menjadi sasaran para pengendara motor kala jalanan lagi macet.

 

Parkir mas

Parkir resmi tapi ilegal

Pemandangan seperti di atas dianggap sebagai suatu hal yang lumrah. Parkir motor atau mobil di atas trotoar itu seolah bukan merupakan perbuatan yang melanggar peraturan. Selain itu, juga jelas-jelas sangat mengganggu kenyamanan pejalan kaki yang hendak melintas. Kalau menemukan “aral” seperti itu, mau nggak mau para pejalan kaki pun turun ke badan jalan. Karena parkir sembarangan seperti itu tidak hanya di satu tempat (biasanya di depan gedung-gedung perkantoran yang hanya menyediakan lahan parkir di halamannya yang sempit), orang lebih memilih jalan di badan jalan raya daripada capek naik turun trotoar menghindari mobil atau deretan motor yang parkir di atas trotoar.

Berjalan kaki di badan jalan tentu mengandung resiko terserempet kendaraan yang melintas. Tapi apa boleh buat. Mobil yang parkir pun sudah barang tentu tidak bisa diloncati kalau ingin tetap jalan di trotoar yang penuh dengan kendaraan parkir. Lain halnya kalau trotoar yang dipakai berdagang kaki lima, seperti warung tenda. Meskipun terganggu, orang masih bisa melintas menerobos di bawahnya.

Masih Macet di Margonda, Depok

Jalan Margonda masih macet juga meski sudah dilebarin dengan mengorbankan trotoar untuk pejalan kaki.

Selain fakta-fakta di atas, tidak jarang fasilitas pedestrian di jalan raya malah dikorbankan untuk pelebaran jalan. Alasannya tentu sebuah hal yang klise, untuk mengurangi kemacetan. Kenyataan ini menunjukkan betapa pemerintah kota (misalnya Depok dengan pelebaran Jalan Margonda) sangat tidak memperhatikan kenyamanan pejalan kaki. Yang dipikirkan hanya pengguna jalan dengan kendaraan bermotor yang semakin membludak dan menambah polusi. Yang terjadi? Fasilitas pejalan kaki semakin menghilang; kemacetan pun tetap tak terelakkan. Satu ruas jalan hasil pelebaran akhirnya juga menjadi tempat parkir. Pekerjaan yang sia-sia.

Margonda Tambah Lebar

Hasil pelebaran Jalan Margonda, Depok akhirnya lebih banyak dipakai pejalan kaki dan parkir.

Begitulah nasib para pejalan kaki. Pemerintah sebagai pelayan masyarakat sepertinya tidak seimbang dalam hal perhatiannya kepada lapisan-lapisan masyarakat. Yang terperhatikan seolah-olah hanya pengguna jalan dengan kendaraan bermotor. Bagaimana dengan pejalan kaki? Barangkali mereka itu luput dari pemikiran dan perhatian.

Memang hubungan dari satu tempat menuju ke tempat lain bisa termediasi dengan fasilitas transportasi. Itu kalau jarak antartempat itu jauh. Persoalnnya kan tidak semua orang selalu bepergian jauh dan menggunakan kendaraan. Ada pejalan kaki. Orang-orang yang ingin berjalan kaki ini juga membutuhkan fasilitas yang nyaman dan aman.

Fasilitas seperti itu bukannya tidak disediakan di setiap ruas jalan raya di kota-kota di Indonesia. Tapi, pada umumnya pedestrian itu berubah fungsi seperti digambarkan di atas. Penggunaan jalur pedestrian untuk fungsi lain, berdagang dan parkir kendaraan, jelas-jelas melanggar peraturan. Pertanyaan besarnya, mengapa pemandangan seperti itu masih dengan sangat mudah kita jumpai dan bahkan kita alami sendiri bagaimana tidak nyamannya kita sebagai pejalan kaki.

Akhirnya….

Di Mana Harus Kami Berjalan? Jalan di trotoar sesuai dengan peraturan, harus capek naik-turun menghindari pedagang kaki lima dan kendaraan parkir. Sebaliknya, berjalan di badan jalan mesti siap-siap menghadapi resiko kesrempet atau kesenggol kendaraan yang melaju di samping kita.

Yah, itulah nasibmu pejalan kaki di kota-kota di Indonesia. Sepuluh ribu langkah sehari? Mimpiiiii…!!!

About Mochammad

Berpikir dan berkarya sampai tak terbatas masa

Diskusi

3 thoughts on “di Mana Harus Kami Berjalan

  1. jangan takut berjalan perlahan-lahan takutlah berdiri diam-diam,, salam kenal,maksih atas kunjungannya🙂

    Posted by Hendry Ferdinan | Maret 6, 2011, 2:15 am
  2. dari pada jalan-jalan mending juga diam ajach..

    he”..

    Posted by nuraeni | September 19, 2011, 11:30 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Warung Blogger

RUMPUN

YANG DITULIS HARI INI

Maret 2011
S S R K J S M
« Jan   Jul »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

PERTINGGAL

Klik URL Tertinggi

  • Tak ada

Yang Pernah Mampir

  • 68,891 hits

KLIK SUKA YA…

Twitter

Kuberi Dua Potret

"Selalu Indah" Nuansa Biru
Menuju Madani

Selalu ingin mewujudkan kehidupan yang sakinah,mawadah dan warahmah

jtxman

A fine WordPress.com site

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

E R D Y's W O R D S

catatan-catatan pendek

Arevandriyan

Aku bukan orang pintar, aku bukan orang sempurna..Tapi dibalik ketidaksempurnaaku aku ingin menjadikan diriku seorang yang pintar & sempurna..Apa salahnya bila kita saling berbagi walaupun hanya di dunia maya !!!

Don Charisma

because anything is possible with Charisma

Mujaiyah's Blog

Bacalah dengan Nama Tuhan-Mu yang Maha Agung

Cory Eureikha

Be 100 % For Indonesia

Berbagi Pengetahuan dan Pengalaman

Carilah Ilmu yang banyak dan berguna serta sedekahkanlah ilmu itu

Muzuro's Blog

Just another WordPress.com site

Goedang Ilmoe

Hidup adalah Berkarya

erul9

Smile! You’re at the best WordPress.com site ever

My Cache of Unimportance

A noob's blog, nuff said at this time.....

Kamalinev Inc.

Devoted to Arabic Linguistics

%d blogger menyukai ini: