you're reading...
Esai, Intermeso

Ujian tapi Nggak Mau Ada (Banyak) “Soal”

Marhaban, ya, Ramadhan

Tidak berasa sebentar lagi sudah masuk bulan suci Ramadhan, 1432 H (2012 M). Awal bulan yang selalu ditunggu-tunggu umat Islam di seluruh dunia itu tinggal beberapa hari lagi. Umat Islam di seluruh Indonesia  dan wilayah-wilayah lain di muka bumi ini) pun mulai mempersiapkan diri untuk menjalankan ibadah puasa dan segala rangkaian ibadah yang mengiringinya di bulan suci itu.

Lho, kalau mau bahas puasa, kok judulnya seperti itu. Apa hubungannya?

Ibadah dalam bulan Ramadhan yang paling umum dikenal semua orang (termasuk orang non-Islam) dan wajib dilaksanakan , kecuali bagi yang tidak mampu menjalankannya, adalah puasa yang dilakukan dengan cara tidak makan dan minum sejak sebelum subuh sampai dengan waktu maghrib. Tidak hanya menahan lapar-dahaga, dalam menjalankan puasa seseorang juga harus mampu menahan nafsu. Selain berpuasa, tentu masih ada ibadah-ibadah yang lain, seperti sholat tarawih, tadarusan, membayar zakat fitrah dan mal, sodaqoh, serta amalan-amalan baik yang lain. Bolehlah semua rangkaian ibadah di bulan Ramadhan ini disebut ujian.

Seperti sudah disinggung sebelumnya,  menahan lapar dan haus mulai menjelang subuh hingga sore pada saat maghrib merupakan ujian paling umum dikenal dalam berpuasa. Karena umumnya itu, pada praktiknya tidak makan dan minum itu seolah-olah dianggap sebagai inti dari ibadah puasa di bulan suci Ramadhan. Padahal, itu hanya salah satu dari latihan menahan keinginan, menahan nafsu. Dalam diri manusia setiap hari selalu muncul nafsu untuk  makan dan minum. Dengan terlatih melakukan pengendalian diri untuk keinginan-keinginan yang berupa nafsu lapar-dahaga diharapkan umat muslim akan terbiasa dengan pengendalian diri atas nafsu-nafsu yang lain, seperti hasrat seksual, amarah, membicarakan orang lain, dan lain-lain perbuatan, sikap, dan perasaan negatif.

Itulah ujian-ujian yang harus dihadapi setiap umat Islam yang sudah diwajibkan menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan. Kalau mengendalikan nafsu-nafsu dari mulai menahan lapar dan haus sampai dengan menahan hasrat seksual, amarah, bergunjing, dan sejenisnya dikatakan sebagi ujian orang berpuasa, lalu yang menjadi soal-soalnya itu apa? Ketahanan orang-orang berpuasa akan nafsu makan-minum akan teruji ketika mereka mampu mengendalikan keinginan untuk itu meskipun dia melihat makanan atau melihat orang sedang makan di depan mereka. Ketahanan mereka yang berpuasa atas nafsu amarah atas perbuatan orang lain akan teruji saat orang-orang itu tetap menjalankan sosialisasi dengan sekitar mereka. Demikian pula, kemampuan pasangan suami-istri menahan hasrat seksual akan teruji ketika mereka tetap bersosialisai selayaknya dalam kehidupan berumah tangga sebelum memasuki bulan puasa. Itulah sebagian hal yang akan menjadi “soal-soal” dalam “ujian” waktu menjalani ibadah puasa. Hal itu berarti ujian-ujian di bulan itu bagi orang-orang yang berpuasa akan terasa lebih berasa kalau kehidupan berjalan normal sebagaimana bulan-bulan lain.

Kenyataannya, orang akan berpikiran bahwa seseorang tidak menghormati orang berpuasa ketika pada bulan suci Ramadhan pemilik warung makan membuka warungnya sejak pagi hari dan tidak menggunakan tirai penutup sehingga orang yang berpuasa bisa melihat makanan yang dipajang atau melihat orang yang sedang makan di situ. “Puasa-puasa, kok, buka warung terang-terangan”, begitula kiranya yang orang pikiran, “Tidak ada toleransinya”. Lucu bukan? Bagaimana akan teruji keimanannya dalam menahan lapar-dahaga kalau melihat makanan atau orang lain yang sedang makan saja tidak mau. Salain itu, ketika sepasang suami istri ingin teruji bagaimana mereka manahan nafsu seks atas pasangan resminya itu, ya mereka harus tetap berada dalam satu rumah. Barangkali contoh ini terlalu berlebihan, tetapi untuk menahan nafsu seks atas suami atau istri, kan, mereka tidak harus terpisah ranjang atau bahkan rumah. Selanjutnya, bagaimana orang-orang yang berpuasa mengetahui mereka tahan uji terhadap nafsu amarah kalau mereka berdiam diri di rumah atau mengurung diri di kamar dan tidak bersosialisasi dengan keluarga, tetangga, atau teman sekolah (atau kantor).

Penekanannya di sini adalah bahwa bulan puasa seharusnya tidak menghalangi orang untuk menjalankan kehidupannya secara normal seperti sebelum dan sesudah bulan suci ini. Kalau pada bulan suci Ramadhan demi alasan menghormati orang yang berpuasa warung-warung makan harus menutup bagian depan mereka, mestinya iklan makanan yang justru lebih banyak frekuensinya di bulan Ramadhan juga dilarang untuk ditayangkan selama jam-jam orang berpuasa. Tayangan-tayangan yang menimbulkan nafsu syahwat, seperti video klip, film-film, dan sejenisnya tentunya harus dilarang juga ditayangkan pada siang hari. Demikian pula, dengan pengurangan jam kantor (terutama instansi pemerintah) dan jam belajar anak sekolah mengesankan bulan puasa ini orang boleh menurunkan kinerjanya atau anak-anak  sekolah bisa mengurangi waktu belajar mereka bahkan diliburkan meskipun tidak sebulan penuh.

Seperti diceritakan di atas, puasa yang dijalankan dengan menahan makan dan minum selama setengah hari dari menjelang subuh hingga maghrib itu hanya dijalani selama sebulan penuh. Dalam waktu yang singkat itu, orang-orang yang berpuasa seperti terkesan “manja” karena harus ada toleransi dari orang yang tidak berpuasa atau memang tidak wajib berpuasa di bulan Ramadhan. Toleransi itu, misalnya, dalam bentuk penutupan bagian depan warung dengan tirai atau menyarankan seseorang untuk tidak makan di depan orang yang sedang berpuasa. Kalau seperti itu, apakah benar seperti yang dikatakan para ustad bahwa puasa itu sebagai bentuk toleransi atas penderitaan orang miskin yang kerap menahan lapar? Orang-orang yang tidak beruntung sehingga kerapkali menahan lapar bahkan setiap hari mau-tidak-mau selalu harus merasakan laparnya itu sementara di depannya terhampar makanan yang dipajang di etalase-etalase warung-warung makan atau dalam keadaan haus matanya melihat minuman beraneka ragam yang terpajang di kios-kios pinggir jalan yang mereka lalui. Yang bisa mereka lakukan hanya melihat sambil menahan perut lapar dan tenggorokan kering kehausan sementara untuk mendapatkan yang dia lihat itu belum tentu kesampaian.

Bagaimana kita bisa merasakan seperti itu kalau pada saat kita berpuasa yang hanya kurang-lebih 12 jam selama satu bulan saja, kita harus meminta banyak permakluman. Dengan banyak “toleransi” yang diminta seperti digambarkan di atas, apa yang dikatakan ustad-ustad bahwa puasa itu untuk memahami apa yang dirasakan orang-orang yang sehari-harinya kelaparan tidak akan tertanamkan. Seyogyanya dalam bulan puasa seperti yang akan kita sambut sekarang ini biarlah kehidupan berjalan secara normal. Biarkan warung-warung makan dan restoran-restoran buka secara normal tanpa ada tirai-tiraian. Bukankah dengan tirai seperti itu malah terkesan lebih melindungi orang yang mengaku berpuasa, tetapi diam-diam makan di siang hari🙂. Ada, kan, orang seperti itu? Atau, sekolah-sekolah tetap masuk sebagaimana jadwal normal seperti bulan-bulan selain bulan Ramadhan. Kantor-kantor (biasanya instansi pemerintah) tetap menjalankan jam-jam pelayanan seperti pada bulan-bulan lain. Dengan menjalani kehidupan secara normal, tentu dalam bulan puasa kita benar-benar akan teruji karena akan lebih banyak “soal-soal” berupa hal-hal yang dapat membatalkan puasa muncul di hadapan kita dan harus “dikerjakan” dengan benar. Dari situlah bisa diukur sejauh mana kita mampu melakukan pengendalian diri atas nafsu-nafsu yang ada dalam diri kita. Apa tantangan berpuasa kalau hal-hal yang sekiranya dapat menjadi “soal-soal” bagi “ujian” dalam puasa kita seperti dicontohkan di atas, sengaja dihindarkan dari hadapan kita. Ibaratnya sedang menjalani ujian, kita justru tidak mau menghadapi soal-soal yang akan menentukan lulus-tidaknya kita dalam ujian itu.

Marhaban, ya, Ramadhan. Selamat menjalankan ibadah puasa.

About Mochammad

Berpikir dan berkarya sampai tak terbatas masa

Diskusi

42 thoughts on “Ujian tapi Nggak Mau Ada (Banyak) “Soal”

  1. Marhaban, ya, Ramadhan…

    SMOGA KITA DIBERI UMUR PANJANG SEHINGGA BISA bertemu dengan bulan suci RAMADHAN…

    dan keluar darinya,,,, dosa2 kita di ampuni oleh ALLAH SWT…

    aamiiin…
    🙂

    Posted by WR | Juli 27, 2011, 8:10 am
  2. Setuju, sepakat.🙂
    Gak usahlah saat puasa kita memaksa menutup warung2 dan tempat makan. Masa’ jadi muslim manja amat.😐 Masalahnya, warung ‘kan tempat bekerja orang2, kalo ditutup (dengan paksa), mau kerja apa mereka? Dapet duit dari mana?😐

    Saya harap ormas2 islam tahun ini tidak berbuat sesuatu yang berlebihan.😐

    Posted by Asop | Juli 27, 2011, 8:53 am
    • Iya, mudah2an tidak tindakan yang lebay..🙂
      Semua pada akhirnya kembali kepada diri masing-masing dalam menjalankan ibadah di bulan puasa itu. Mampu apa tidak kita menjaga “pertahanan” kita.
      Terima kasih apresiasinya, Asop.🙂

      Posted by Mochammad | Juli 27, 2011, 4:42 pm
  3. Artikel yang menarik mas. Memang sudah menjadi semacam karakter kalau bangsa kita ini bangsa yang tidak mau susah, kebanyakan kepengennya instan. Dan yang dipikirkan hanya hasil akhir, tanpa melihat proses. Sama juga dg puasa, yg dipikirkan hanya saat berbuka, atau mungkin juga saat lebaran, tanpa memikirkan apa esensi utama berpuasa. Yah, semoga ke depan kita bisa menjadi bangsa yang lebih baik. Amiin.

    Posted by rxfadillah | Juli 27, 2011, 10:35 am
    • Amin ya rabbal alamin. Semoga kita tidak termasuk yang manja dan minta banyak dispensasi dalam menjalankan ibadah puasa bulan Ramadhan yang akan datang.
      Terima kasih tulisanku dah diapresiasi…🙂

      Posted by Mochammad | Juli 27, 2011, 4:53 pm
  4. Salam kenal mas Mochammad..!

    Menyimak mas…!

    Masih banyak pemikiran di dalam masyarakat kita bahwa puasa itu bukan hanya ibadah yang hubungannya hanya antara umat dan Tuhannya. Padahalkan Puasa itu di lakukan semata-mata kerena Allah, dan ganjaran pahalanyapun juga langsung dari Allah..!
    Tapi karena di dalam masyarakat kita berkembang yang namanya TOLERANSI…maka inilah yang kemudian di gunakan sebagai ALAT untuk menjalankan sifat tenggang rasa..!

    maaf bila OOT…!

    Terimaksih atas kunjungannya
    maklum niebie dalam ngeblog….:D

    __salam nan hangat mas Mochammad____

    E r w i n

    Posted by Erwin-Zulkifli-Nasution | Juli 27, 2011, 11:01 am
    • Wah, terima kasih apresiasinya, Mas Erwin…🙂
      Masuk dalam koridor toleransi memang seharusnya. Tapi, kapan kita bisa teruji keimanan kita dalam berpuasa kalau diberi toleransi dalam bentuk penghilangan hal-hal yang dikhawatirkan mengganggu puasa kita seperti diilustrasikan di atas.
      Kita yang berpuasa juga mesti tenggang rasa juga kepada mereka yang buka warung dalam rangka mencari rejeki atau kepada orang yang tidak berpuasa dan butuh tempat untuk makan ketika di luar rumah. Bukankah sepanjang hari selama puasa kita diiming-imingi visualisasi yang menggiurkan dalam iklam-iklan produk makanan dan minuman di semua stasiun televisi yang ada, tentu kecuali TVRI..

      Begitulah…🙂

      Salam kenal juga dari saya…🙂

      Posted by Mochammad | Juli 27, 2011, 4:50 pm
  5. setuju pak ustadz🙂

    tapi memang berat ya godaannya.. rasanya selalu disibukkan hal lain..

    Posted by syifa | Juli 27, 2011, 5:45 pm
    • Waduh… dipanggil pak ustadz nih…🙂
      Ya begitulah, memang berat karena puasa kan menguji keimanan kita. Dalam keadaan berpuasa kita dituntut beraktivitas sebagaimana sebelum dan sesudah puasa dengan berbagai “rambu” yang harus kita ikuti dan patuhi kalau ingin lulus ujian keimanan ini.

      Terima kasih apresiasinya, Syifa…🙂

      Posted by Mochammad | Juli 27, 2011, 7:07 pm
  6. nice artikel……..

    Posted by bundaradit | Juli 27, 2011, 10:48 pm
  7. bsakah saya n bpak share mslh tulis mnulis..
    krim email ke fu_15.playmaker@yahoo.co.id

    Posted by ernestkai | Juli 28, 2011, 8:29 am
  8. tantangan terberat saat puasa adalah mengendalikan hawa nafsu kita sendiri, bener gk pak??

    Posted by Dhenok | Juli 28, 2011, 11:09 am
    • Iya betul. Tidak hanya bulan puasa aja kan sebetulnya. Sepanjang hidup kita yang terberat ya mengalahkan hawa nafsu sendiri. Kata para ustads kan justru di bulan puasa itu waktu kita untuk melatihnya.
      Terima kasih, Dhenok, dah berkunjung.🙂

      Posted by Mochammad | Juli 28, 2011, 12:14 pm
  9. akhirnya…bisa kembali berkunjung ke rumahnya Pak Mochammad setelah sekian lama gak nengok2 sini.
    😀

    Posted by puchsukahujan | Juli 29, 2011, 1:13 am
  10. 🙂 masalahnya g semua orang berpikiran kritis kayak Mas Mochamad y bisa di katakan minoritas lah.
    seperti dikelas kan yang juara kan lebih sedikit dibanding yang g juara.
    dan satu lagi, memang setiap daerah bahkan negara berbeda-beda dalam menghadapi soal ujiannya. Hal itu ya karna dilihat dari pengaruh dari berbagai aspek seperti ekonomi, pendidikan dsb.

    ok Mas salam kenal, semoga blognya bermanfaan bagi banyak orang🙂.

    Posted by explorewawasan | Juli 29, 2011, 4:28 am
  11. 🙂 y itu kayaknya berlaku mayoritas di daerah atau negara kita, bisa dikatakan yang berfikir kritis untuk kaum minoritas.
    ok salam kenal Mas, semoga blognya bermanfaat bagi banya orang🙂.

    Posted by explorewawasan | Juli 29, 2011, 4:33 am
  12. Good post om ditunggu post berikutnya ya…

    Posted by munirmuthohar | Juli 29, 2011, 6:52 pm
  13. makanan yang kelihatan di siang hari boleh ya dianggap ‘evil’? he,he… bercanda aja; warung kalau mau jualan, jualan ‘aja hear no evil, see no evil, say no evil… 😀

    Posted by rioseto | Juli 30, 2011, 4:41 am
    • Evil? Ah, siapa bilang… biarkan aja kelihatan… kalau sedang puasa dan tergiur makanan yang dilihat di siang hari kemudian membatalkan puasanya, ya segala konsekuensi ditanggung sendiri.🙂

      Posted by Mochammad | Juli 30, 2011, 5:06 am
  14. menyimak ini kang, kyknya dalam banget topiknya

    Posted by widjar | Juli 30, 2011, 7:02 am
  15. Yuks, saling memfollow🙂

    Posted by betasukabacarita | Juli 30, 2011, 8:50 am
  16. Dan Ramadhan itu berkah… Biarlah Allah yang menilai hasil akhir dari ujian kita….

    Happy Ramadhan pak🙂

    Posted by dheeasy | Agustus 7, 2011, 9:47 pm
  17. Pemikiran yg menarik Mas. Sebenarnya yg berkepentingan dalam puasa kan kit ya, bukan orang lain.

    Posted by Evi | Agustus 9, 2011, 6:55 pm
    • Terima kasih apresiasinya, Mbak. Ya, puasa itu ibadah yang sifatnya pribadi. Hanya kita dan Alloh SWT yang tahu bagaimana kita menjalankan puasa kita. Apa pun keadaan di sekitar kita, kalau kita niat puasa ya ga akan terganggu kok.

      Posted by Mochammad | Agustus 10, 2011, 5:19 am
  18. siiippp….
    salam kenal ya bang..

    Posted by khoirony1985 | Agustus 9, 2011, 6:56 pm
  19. Thanks Pakde…Aku jadi dpt jamu rohani. Salut…

    Posted by pusakaherbal | Agustus 21, 2011, 1:04 pm
  20. Hhmm,,, itu aja baru sebulan ya, orang2 udah pada ‘keok’ sama soal2 ujian yang dikasih Allah. Nah, gimana coba kalau ujiannya diperpanjang. ALias Ramadhan ga cuma 30 hari, tapi maybe sampe 365 hari. Bwahahahaa…
    kebayang konyolnya ya pak…

    Salam,
    Rizma Nurani

    Posted by rizmanurani | Agustus 27, 2011, 12:44 pm
  21. ujian gax ada soal..???

    terus masa hanya lihat sikapanya ajach yang di nila gitu,…

    Posted by nuraeni | September 19, 2011, 11:18 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Warung Blogger

RUMPUN

YANG DITULIS HARI INI

Juli 2011
S S R K J S M
« Mar   Agu »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

PERTINGGAL

Klik URL Tertinggi

  • Tak ada

Yang Pernah Mampir

  • 68,891 hits

KLIK SUKA YA…

Twitter

Kuberi Dua Potret

"Selalu Indah" Nuansa Biru
Menuju Madani

Selalu ingin mewujudkan kehidupan yang sakinah,mawadah dan warahmah

jtxman

A fine WordPress.com site

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

E R D Y's W O R D S

catatan-catatan pendek

Arevandriyan

Aku bukan orang pintar, aku bukan orang sempurna..Tapi dibalik ketidaksempurnaaku aku ingin menjadikan diriku seorang yang pintar & sempurna..Apa salahnya bila kita saling berbagi walaupun hanya di dunia maya !!!

Don Charisma

because anything is possible with Charisma

Mujaiyah's Blog

Bacalah dengan Nama Tuhan-Mu yang Maha Agung

Cory Eureikha

Be 100 % For Indonesia

Berbagi Pengetahuan dan Pengalaman

Carilah Ilmu yang banyak dan berguna serta sedekahkanlah ilmu itu

Muzuro's Blog

Just another WordPress.com site

Goedang Ilmoe

Hidup adalah Berkarya

erul9

Smile! You’re at the best WordPress.com site ever

My Cache of Unimportance

A noob's blog, nuff said at this time.....

Kamalinev Inc.

Devoted to Arabic Linguistics

%d blogger menyukai ini: