you're reading...
Intermeso

PENGEMUDI MAUT sebagai Satu Bentuk PELABELAN

Pengemudi maut. Istilah itu mengemuka kembali awal tahun 2013. Julukan seperti itu kembali menghiasi halaman berbagai surat kabar cetak dan daring (dalam jaringan=online) serta siaran berita televisi sejak peristiwa kecelakaan di ruas Tol Jagorawi (Selasa, 1/1/2013, 05.45 WIB) dan apalagi belakangan diketahui melibatkan putra seorang menteri yang sedang aktif menjabat sekarang. Kecelakaan itu menyebabkan dua orang meninggal dan tiga orang terluka. Karena kejadiannya membawa korban lebih dari satu orang, serta merta pengendara mobil yang menabarak pun disebut pengemudi BMW maut. Ini tentu menjadi “label” yang akan selalu melekat bagi siapapun yang mendapat julukan demikian. Apakah ungkapan berupa dua atau tiga kata seperti itu hanyalah persoalan mudah, semudah seseorang atau institusi menyebutkannya untuk orang lain?

Istilah-istilah itu muncul kembali dan menjadi produksi tuturan sehari-hari karena kecelakaan demi kecelakaan yang menelan lebih dari dua korban meninggal. Beberapa peristiwa di antaranya menimpa para pejalan kaki. Satu peristiwa yang sangat menghebohkan terjadi di kawasan Tugu Tani, Jakarta, pada awal tahun 2012. Delapan orang meninggal dan beberapa lagi menderita luka-luka pada saat itu. Sejak itu media massa ramai-ramai memberi julukan pengemudi naas itu dengan sebutan pengemudi maut atau pengemudi xenia maut. Setelah berita-berita tentang pengemudi Xenia mulai sepi, publik disentakkan dengan berita yang hampir sama di bulan kesepuluh tahun 2012 lalu. Satu kecelakaan lagi menjadi berita utama di berbagai surat kabar karena membuat tujuh orang luka-luka dan salah seorang di antaranya adalah polisi. Berita semakin menghebohkan karena pengemudinya seorang perempuan cantik yang juga seorang model saat itu mengemudi hanya mengenakan pakaian dalam (nyaris telanjang). Serta-merta sang pengemudi mobil itu pun dijuluki pengemudi maut dengan embel-embel “nyarir bugil”, pengemudi maut nyaris bugil. Julukan serupa pun muncul kembali di penghujung tahun 2012 setelah terjadi kecelakan mobil menabrak warung pecel lele dan menewaskan dua orang di Jalan Ampera Jakarta (18/12). Sebutan pengemudi maut semakin menjadi bahan pembicaraan lagi setelah diketahui pengemudi mobil yang mengalami kecelakaan di ruas Tol Jagorawi pada awal tahun ini adalah putera seorang menteri yang sedang menjabat aktif sekarang.

Kelompok kata pengemudi maut dan segala embel-embelnya sebagaimana dipaparkan sebelumnya adalah sebuah julukan. Itu sama seperti kita menyebut gadis paling cantik di desa tempat kita tinggal dengan ungkapan bunga desa atau kembang desa. Tidak berbeda pula ketika orang memanggil orang dengan si cantik atau si ganteng. Di lain tempat,  ada orang yang menjuluki seseorang karena ciri fisiknya. Orang menyebut seseorang di sekitarnya dengan sebutan si pincang karena yang disebut seperti itu memiliki sepasang kaki yang tidak sempurna. Hal itu merupakan bagian dari budaya berbahasa. Karena masyarakat Indonesia sudah akrab dengan kata-kata julukan demikian, beberapa di antaranya bahkan diangkat sebagai judul film, seperti Si Buta dari Gua Hantu atau Sang Jawara.

Dalam paragraf di atas telah dinyatakan bahwa memberi sebutan kepada seseorang merupakan bagian dari budaya berbahasa. Dengan kata lain, menyebut seseorang dengan kata atau kelompok kata tertentu adalah sebuah peristiwa bahasa. Dalam bahasa Indonesia istilah yang mewakili untuk itu disebut dengan julukan. Memberi julukan kepada seseorang dengan kata atau kelompok kata tertentu sama dengan memberi label kepada seseorang sehingga peristiwa seperti ini diistilahkan juga dengan pelabelan (labelling). Dalam konteks tertentu pelabelan sama dengan memberi “cap” kepada seseorang dan biasanya berkonotasi negatif.

Pelabelan biasanya dilakukan atas dasar perbuatan, sifat, dan ciri-ciri fisik seseorang. Karena perbuatannya, para sopir mobil yang mengalami kecelakaan disebut dengan pengemudi maut. Disebabkan tidak pernah mengindahkan nasihat, seseorang bisa dijuluki dengan kepala batu. Sebuah film diberi judul Si Buta dari Gua Hantu karena tokoh utama dalam film itu adalah seorang pendekar buta yang tinggal di sebuah gua. Seorang artis bahkan memakai nama Ely Sugigi. Kata Sugigi dia pakai sebagai tambahan nama keartisannya karena dia memiliki kelebihan pada giginya, yakni tongos. Tidak jarang pula pelabelan terjadi karena profesi seseorang, misalnya mbok jamu, abang bakso, pembunuh bayaran, kuli tinta, dan sebagainya.

Pelabelan-pelabelan seperti disebutkan di atas bukan sekedar kata-kata yang dituturkan. Akan tetapi, pelabelan merupakan bentuk bahasa yang diproduksi seseorang untuk ditujukan kepada orang lain sebagai lawan bicara atau orang yang dibicarakan. Tentu hal itu akan memberi kesan, baik negatif maupun positif. Label atau julukan kembang desa, si cantik, dan si ganteng sudah barang tentu akan menimbulkan kesan positif karena bersifat memuji atau sebagai ungkapan ekspresi kekaguman kepada yang dijuluki semacam itu. Bagaimana dengan si pincang? Panggilan seperti itu akan membawa kesan negatif karena orang dijuluki atas kekurangan yang dimilikinya. Anak kecil usia SD yang takdirnya dikarunia sepasang kaki tidak sempurna, misalnya, kemudian teman-temannya menjuluki dia dengan istilah si pincang. Bisa jadi anak itu akan tidak mau pergi ke sekolah karena merasa malu dan minder dengan kekurangannya.

Dampak-dampak sebuah label tersebut akan menimbulkan sebuah persepsi positif dan negatif. Persepsi pada orang yang dijuluki dan orang lain yang mengenalnya. Persepsi positif akan menimbulkan kesan yang positif. Sang dermawan, misalnya, akan membuat orang lain respek kepada orang yang dijuluki seperti itu karena julukan itu atas sifat baik seseorang. Sebaliknya, persepsi negatif akan dapat menimbulkan respon negatif. Julukan si pincang bisa dipakai sebagai bahan ejekan dan olok-olok yang membuat seseorang merasa rendah diri dan minder sehingga membuat seseorang yang dijuluki negatif semacam itu terhambat dalam memunculkan potensi positif yang dimilikinya. Itu semua merupakan efek pragmatik dari produk tuturan sebagaimana setiap bentuk tuturan dalam peristiwa komunikasi dengan bahasa memilikinya.

Efek sebuah julukan seperti dipaparkan di atas dapat pula terjadi karena produk tuturan oleh sebuah institusi yang berupa surat kabar dan televisi. Surat kabar atau televisi sebagai media komunikasi adalah  komunikator (pelaku) peristiwa komunikasi. Dalam hal ini dia berperan sebagai pengirim (sender) pesan atau informasi yang disampaikan melalui media bahasa dalam bentuk berita. Karena surat kabar atau televisi merupakan komunikator dalam komunikasi massa, produk tuturan mereka memiliki efek pragmatik yang sangat luas. Efek seperti itu dalam ilmu komunikasi dinamakan efek komunikasi.

Berita-berita kecelakaan dalam berbagai media, baik surat kabar maupun televisi, yang menggunakan istilah pengemudi maut untuk pelaku peristiwa tabrakan mobil seperti dipaparkan pada bagian-bagian awal tentu membawa efek yang sangat luas. Hal itu terjadi karena pesan yang disampaikan oleh kedua media massa tersebut dapat dibaca dan disaksikan-didengarkan oleh masyarakat banyak.

Pengemudi maut sebagai istilah yang dibaca dan didengarkan masyarakat secara berulang-ulang akan menimbulkan kesan negatif pada masyarakat luas. Tanpa mengetahui segala latar belakang peristiwa kecelakaan itu, persepsi masyarakat dibentuk dengan sebuah label, sang pengemudi maut, kepada pelakunya. Dengan kelompok kata itu pikiran masyarakat dibentuk menjadi satu opini seragam, yakni sang pengemudi adalah seseorang yang menebarkan maut kepada banyak orang. Ini merupakan efek komunikasi dari sebuah informasi yang disampaikan media massa dengan berbagai gaya (style) bahasa, namun dengan satu kesamaan berupa keseragaman pelabelan, pengemudi maut.

Terlepas dari berbagai penyebab kecelakaan dan pelakunya orang biasa atau orang ternama, pelabelan seperti pengemudi maut oleh media massa bisa membawa efek pragmatik negatif bagi orang yang dilabeli seperti itu dan memiliki efek komunikasi negatif pula bagi masyarakat luas yang menerima informasi melalui berita-berita yang mereka baca dan dengar. Kecuali pembunuh berdarah dingin dan psikopat, tidak ada seorang pun yang berniat menghilangkan nyawa orang lain melalui berbagai cara, termasuk menabrakkan mobilnya kepada orang-orang yang tidak berdosa dan tidak dikenal sehingga pelabelan seperti itu bisa membawa dampak negatif secara psikologis. Karena label sebagai pengemudi maut akan bisa melekat pada diri seseorang sepanjang hayatnya. Tidak mengherankan jika pengemudi BMW pada kecelakaan di awal tahun ini yang ternyata seorang menteri mengalami depresi setelah peristiwa kecelakaan itu. Tentu tidak ada seorang pun yang mau menerima label atau “cap” negatif seperti itu atas dirinya. Sementara itu, efek komunikasi melalui berita-berita yang memuat pelabelan pengemudi maut akan menimbulkan persepsi negatif kepada masyarakat luas. Berbagai macam reaksi berupa kecaman masyarakat atas pengemudi yang mengalami naas adalah bukti kedahsyatan efek komunikasi dari sebuah berita yang disampaikan surat kabar dan televisi.

Fakta-fakta seperti di atas menunjukkan kebenaran pepatah lidah itu lebih tajam daripada pedang. Kata-kata bisa membunuh karakter seseorang karena pelabelan yang disebarluaskan oleh media massa bisa menyulut kebencian masyarakat luas atas institusi atau pribadi seseorang. Oleh karena itu, dalam segala jenis pemberitaan, media massa hendaknya memilih kata-kata yang tepat sehingga tidak menimbulkan efek pragmatik dan efek komunikasi negatif bagi individu atau masyarakat luas.

About Mochammad

Berpikir dan berkarya sampai tak terbatas masa

Diskusi

43 thoughts on “PENGEMUDI MAUT sebagai Satu Bentuk PELABELAN

  1. saya sangat setuju dengan ungkapan bapak pada kutipan ini.

    “Tidak mengherankan jika pengemudi BMW pada kecelakaan di awal tahun ini yang ternyata seorang menteri mengalami depresi setelah peristiwa kecelakaan itu. Tentu tidak ada seorang pun yang mau menerima label atau “cap” negatif seperti itu atas dirinya. Sementara itu, efek komunikasi melalui berita-berita yang memuat pelabelan pengemudi maut akan menimbulkan persepsi negatif kepada masyarakat luas. Berbagai macam reaksi berupa kecaman masyarakat atas pengemudi yang mengalami naas adalah bukti kedahsyatan efek komunikasi dari sebuah berita yang disampaikan surat kabar dan televisi.”

    Ini yang harusnya dikoreksi. kemarin juga ada yang sempat membahas penggunaan yang salah dari kata “pencitraan” di media, padahal pada dasarnya citra itu adalah hal yang positif, artinya branding, promosi, memberikan gambaran yang sesuai dengan produk. tapi karena bahasa media yang sering melekatkan kata citra pada hal yang negatif. maka pencitraan kini berubah makna menjadi hal yang dilakukan untuk menarik simpati, padahal sebuah kepalsuan. jauh dari yang seharusnya.

    Semakin cepat informasi berkembang, semakin kontennya tidak diperhatikan. padahal, di sisi korban. apapun yang melekat bisa menjadi beban seumur hidup. pesan moralnya mungkin ‘bijak dalam berbahasa’

    Posted by Citra Taslim | Januari 10, 2013, 9:36 am
    • Wah, Setuju sekali dengan komentar Citra Taslim. Memang begitulah kedahsyatan efek media. Pernah terpikirkah bahwa kolaborasi itu di kamus bermakna kerjasama untuk hal negatif, tetapi karena dipopulerkan media dengan makna positif, kata itu semakin “menjauh” dari makna denotatifnya. Mudah-mudahan kesalahan seperti itu disadari oleh para penutur bahasa Indonesia. Terima kasih apresiasinya.🙂

      Posted by Mochammad | Januari 10, 2013, 9:47 am
  2. cek kondisi kendaraan dan kelengkapan,berdoa dan hati hati di jalan serta jaga jarak

    Posted by My Aqilladotcom | Januari 10, 2013, 11:12 am
  3. Lugas dan langsung mencerahkan.
    Betul, kita harus hati-hati dengan julukan/label, karena julukan itu akan jadi identitas bagi yang dijuluki. Menempel dan membangun persepsi.

    Terima kasih sudah mampir dan berkomentar di blog saya. Salam kenal kembali, Mas.

    Posted by Eki Akhwan | Januari 10, 2013, 11:53 am
  4. Ngeri juga ya membaca tentang pelabelan seperti contoh dalam postingan di atas

    Posted by Ely Meyer | Januari 10, 2013, 1:22 pm
  5. Itulah salah satu dari kebebasan media dalam membuat berita biar pembaca tertarik.

    Posted by ary widodo | Januari 10, 2013, 2:30 pm
  6. Sedih sekali ya… Demi menarik perhatian melakukan seperti itu🙂

    Posted by kahuripan | Januari 10, 2013, 6:34 pm
  7. Terima kasih atas konten dan info yg menarik dan menginspirasi….thk u

    Posted by Eva | Januari 11, 2013, 9:13 am
  8. Kalau labelisasi teroris gimana, Mas…

    Posted by anu10 | Januari 11, 2013, 9:59 am
    • Wow, ini pertanyaan kritis dan sensitif🙂
      Semua orang bisa disebut teroris kalau sudah melakukan tindakan peneroran kepada orang lain. Labeling itu berlaku ketika istilah itu dipakai untuk menyebut atau memberi “cap” kepada sekelompok orang dan disebarluaskan sebagai satu bentuk propaganda untuk anti kepada kelompok itu.

      Posted by Mochammad | Januari 11, 2013, 10:17 am
      • Hehe… setahu saya, Mas, label teroris ini sering dilekatkan pada sekelompok masyarakat dengan CIRI tertentu. Tetapi kalau tindak teror ini dilakukan oleh anggota masyarakat dengan CIRI acak, tidak dilabelisasi sebagai teroris. Lagi nyoba mikir tengah-tengah aja, Mas…

        Posted by anu10 | Januari 11, 2013, 10:30 am
      • Itulah tadi kubilang kelompok. Sejumlah orang dengan ciri-ciri tertentu kan, agamanya, prinsipnya, kegiatannya, dll…

        Posted by Mochammad | Januari 11, 2013, 10:32 am
      • menjadi tugas para ahli (termasuk ahli bahasa macem sampeyan Mas) buat mbagi ilmu. biar masyarakat kita gak mudah ketipu…

        Posted by anu10 | Januari 12, 2013, 6:49 am
      • siap…🙂

        Posted by Mochammad | Januari 12, 2013, 5:15 pm
  9. kunjungan balik,, pak🙂

    Posted by vonarief | Januari 11, 2013, 9:35 pm
  10. dan parahnya lagi pak..media sekarang itu cenderung provokatif dalam urusan pencitraan, terutama di beberapa stasiun TV swasta (mohon koreksi kalau pernyataan saya salah)

    Posted by omanfaqod | Januari 16, 2013, 6:53 am
  11. Saya sendiri menyadari bahwa saya memiliki tingkat kepo yang cukup tinggi. Jika mendengar atau melihat atau mendapat secuil informasi yang menggugah, biasanya saya bisa menghabiskan berjam-jam mancari tahu tentang informasi tersebut. Menggali sana, menggali sana, baca ini baca itu, buka ini buka itu, tanya sini tanya situ, semua saya lakukan demi mendapat informasi yang lebih detail. Lalu apa untungnya saya kepo seperti itu? Kalau saya sih, kepuasan diri saja. Saya puas kalau merasa memiliki pengetahuan lebih banyak dari orang lain. Saya puas kalau saya selalu update dengan berita yang ada. Seperti misalnya baru-baru ini, di malam hari saya membaca sebuah twit dari seseorang yang saya follow, isinya himbauan untuk membaca timeline seseorang yang baru saja mengalami kejadian tidak mengenakkan. Tidak hanya berhenti di akun twitter yang disarankan, saya membaca twit2 dari orang2 yang berinteraksi dengan orang tersebut, membaca conversation mereka, membaca twit orang lain yang membicarakan topik yang sama, semua saya lakukan sampai mata saya mengantuk dan saya tertidur…sayangnya handphone saya bukan Samsung Galaxy SIII, jadinya HP saya tidak ikutan hibernasi saat saya tertidur…hahahaha. Lanjut, keesokan malamnya, saat di meja makan, dinner time, ayah mertua saya mencoba bercerita tentang berita yang ada di televisi. Baru beberapa potong kata, saya sudah bisa menyimpulkan bahwa itu berita yang sama yang saya dapat semalam. Memang benar, berita yang dimaksud adalah berita yang saya baca banyak di twitter malam sebelumnya, dan saya tahu lebih banyak mengenai persoalan itu diantara penghuni rumah.

    Posted by Gus Munoz | Januari 23, 2013, 3:18 pm
  12. Depresi makan coklat aja jangan langsung nabrak seseorang😀

    Posted by jual beli sepatu futsal | Februari 5, 2013, 1:00 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Warung Blogger

RUMPUN

YANG DITULIS HARI INI

Januari 2013
S S R K J S M
« Jul   Mar »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

PERTINGGAL

Klik URL Tertinggi

  • Tak ada

Yang Pernah Mampir

  • 68,891 hits

KLIK SUKA YA…

Twitter

Kuberi Dua Potret

"Selalu Indah" Nuansa Biru
Menuju Madani

Selalu ingin mewujudkan kehidupan yang sakinah,mawadah dan warahmah

jtxman

A fine WordPress.com site

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

E R D Y's W O R D S

catatan-catatan pendek

Arevandriyan

Aku bukan orang pintar, aku bukan orang sempurna..Tapi dibalik ketidaksempurnaaku aku ingin menjadikan diriku seorang yang pintar & sempurna..Apa salahnya bila kita saling berbagi walaupun hanya di dunia maya !!!

Don Charisma

because anything is possible with Charisma

Mujaiyah's Blog

Bacalah dengan Nama Tuhan-Mu yang Maha Agung

Cory Eureikha

Be 100 % For Indonesia

Berbagi Pengetahuan dan Pengalaman

Carilah Ilmu yang banyak dan berguna serta sedekahkanlah ilmu itu

Muzuro's Blog

Just another WordPress.com site

Goedang Ilmoe

Hidup adalah Berkarya

erul9

Smile! You’re at the best WordPress.com site ever

My Cache of Unimportance

A noob's blog, nuff said at this time.....

Kamalinev Inc.

Devoted to Arabic Linguistics

%d blogger menyukai ini: