you're reading...
Esai, Intermeso, serba-serbi

SBI: Tekan 1 untuk Bahasa Indonesia; Tekan 2 untuk Bahasa Inggris

Mahkamah Konstitusi (MK) akhirnya membuat keputusan atas pembubaran status Sekolah Bertaraf Internasional (SBI). Tentu yang dibubarkan bukan sekolahnya sebagai lembaga pendidikan. Dalam hal ini status sekolah seperti itu ditiadakan. Saya termasuk yang gembira menyambut produk hukum MK itu. Dalam pikiran saya, SBI itu lebih banyak minusnya daripada plusnya. Apa sajakah yang menjadi minusnya?

Status SBI itu sebuah predikat yang tidak ringan sebenarnya. Akan tetapi, selama ini sepertinya dipakai sebagai gaya-gayaan belaka. Lebih-lebih selama ini sudah menjadi rahasia umum bahwa status demikian bisa dipakai untuk mengeruk dana dari orang tua atau wali murid. Faktanya, hanya SBI-SBI yang selama ini diperbolehkan memungut sumbangan pendidikan, sedangkan sekolah-sekolah lain yang tidak berstatus separti itu tidak boleh. Selain itu, taraf internasional yang diberlakukan juga tidak jelas karena tidak kita ketahui standar internasional mana yang dipakai atau masyarakat juga belum tentu mengetahui hakikat status bertaraf internasional itu apa. Lagipula kalau memang bertaraf internasional, lulusan dari SBI-SBI seharusnya bisa diterima dengan mudah di sekolah-sekolah bermutu di seluruh dunia, baik SMP, SMA, maupun perguruan tinggi. Jaminan spserti itu sepertinya selama ini tidak ada dan bahkan tidak sedikit lulusan SMA bertaraf internasional tidak diterima di perguruan tinggi negeri di negerinya sendiri.

Hal-hal seperti diuraikan di atas itulah menjadi “dosa-dosa” yang dilakukan SBI. “Lho, di SBI kan digunakan dua bahasa alias bilingual”. Tidak disalahkan pendapat seperti itu. Akan tetapi, apakah hanya itu parameter status bertaraf internasional. Hanya karena menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris tidak serta-merta sebuah sekolah dapat dikatakan bertaraf internasional. Justru bilingual ini menjadi masalah tersendiri yang sangat potensial muncul dan bahkan menjadi kendala.

Bilingual memang bisa menjadi potensi masalah. Masalah bagi guru-guru dan lebih-lebih bagi para peserta didik. Apakah semua guru di SBI mampu menyampaikan materi pelajaran dalam bahasa Inggris. Tentu jawabannya tidak. Bagaimana pula dengan para peserta didik? Sudah barang tentu siswa-siswi di SBI tidak semuanya lancar berbahasa Inggris apalagi untuk kepentingan akademis. Kalau pun ada, barangkali hanya satu-dua orang. Lalu, persentasi penggunaan kedua bahasa itu perlu juga dipikirkan. Berapa persen dari jumlah jam pelajaran atau pertemuan diselenggarakan dalam bahasa Inggris dan berapa persen pula digunakan bahasa Indonesia.

Itulah sedikit pandangan saya tentang SBI. Saya jadi membayangkan dengan geli dan berandai-andai kalimat apa yang pertama kali diucapkan para guru di SBI ketika akan mengawali pelajaran. Barangkali seperti ini. “Anak-anak, mari kita mulai pelajaran hari ini. Tekan tombol 1 untuk bahasa Indonesia dan tekan tombol 2 untuk bahasa Inggris”.

Dalam pengandaian saya, seluruh pembelajar ramai-ramai menekan tombol 1 dan pelajaran pun disampaikan dalam bahasa Indonesia. Sang guru lega dan para murid dapat belajar dengan pemahaman atas materi pelajaran dengan mudah karena tidak perlu lagi membuka-buka kamus Inggris-Indonesia atau mencerna kalimat-kalimat bahasa Inggris dari sang guru yang sukar sekali mereka pahami. Kalau sudah seperti itu, apanya yang bisa disebut berstandar internasional? Rasa-rasanya program SBI kok hanya merupakan program basa-basi untuk uji-coba. Yang tertinggal adalah perasaan sedih karena dana besar untuk program itu tidak menghasilkan produk seperti yang diidamkan.

SELAMAT TINGGAL SBI

About Mochammad

Berpikir dan berkarya sampai tak terbatas masa

Diskusi

33 thoughts on “SBI: Tekan 1 untuk Bahasa Indonesia; Tekan 2 untuk Bahasa Inggris

  1. Terima kasih atas konten dan info yg menarik dan menginspirasi….thk u

    Posted by jtxtop | Januari 14, 2013, 7:14 am
  2. Saya sangat setuju dengan SBI dihapuskan. Terutama istri saya yang kebetulan juga guru fisika di sebuah sekolah RSBI di daerah Sumatra. Dia sering stress karena beban kerja yang terlalu banyak, sampai2 urusan keluarga harus dikesampingkan. Kalau pengasaan bahasa Inggris dia memang tidak masalah. Siswa juga stress, tiap hari harus bawa buku yang lumayan berat bagi siswa. Pengalaman tetangga sebelah saya anak orang tidak punya yang kebetulan ibunya pengasuh anak saya dan ayahnya bekerja serabutan akan tetapi anaknya sangat pintar. Karena tidak mempunyai biaya maka dia tidak bisa masuk ke sekolah RSBI. Pada hal yang masuk ke RSBI belum tentu anaknya pintar. Di tempat istri saya mengajar siswa yang sekolah di situ kebanyakan anak pejabat dan pengusaha yang banyak duit.

    Posted by cauchymurtopo | Januari 14, 2013, 8:03 am
  3. Semoga dunia pendidikan di Indonesia lebih maju.

    Posted by ARY WIDODO | Januari 14, 2013, 8:34 am
  4. *maaf tombol yang anda tekan salah,,:mrgreen:

    Posted by vonarief | Januari 14, 2013, 2:41 pm
  5. untuk kembali ke menu utama tekan pagar sekolah.

    Posted by asep rohendi | Januari 14, 2013, 10:22 pm
  6. SBI = mahal pak, kurang terasa hasilnya..

    Posted by ahsanfile | Januari 16, 2013, 8:07 pm
  7. Saya juga setuju Mas, SBI malah menjadikan sekolah di Indonesia ber’kasta’. Hanya golongan tertentu yang bisa sekolah di sana.

    Posted by juzzyoke | Januari 17, 2013, 12:08 am
  8. Semoga Mau itu sekolah SBI atau RSBI dicabut sekalipun tidak akan mempengaruhi semangat belajar siswa siswi Indonesia… amiinπŸ˜€ hehehe

    Posted by Tsumasaga Rainbow | Januari 20, 2013, 6:14 am
  9. Manakala kita mau berbagi sekesil apapun, maka dunia akan menjadi indah,,, menulis dan menulislah terus untuk mencerdaskan bangsa

    Posted by Balchi Bara | Januari 20, 2013, 11:19 pm
  10. Tombol yang ada tuju tidak menjawab…(soale si tombol bingung kok orang indonesia mencetnya tombol bahasa inggris…gak cinta tanah air dong) hehehe…

    Posted by fitriahpurnomo | Januari 30, 2013, 10:03 am
  11. On the journey to pursue internationally standardized education, Indonesia should first Increase the quality of the educators. By this bottom-up approach, the education will eventually prevail.
    Being internationally recognized is important, but the approach should be better.
    Salam Kenal pakπŸ™‚

    Posted by ganendraawang | Juni 13, 2013, 9:11 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Warung Blogger

RUMPUN

YANG DITULIS HARI INI

Januari 2013
S S R K J S M
« Jul   Mar »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

PERTINGGAL

Klik URL Tertinggi

  • Tak ada

Yang Pernah Mampir

  • 68,891 hits

KLIK SUKA YA…

Twitter

Kuberi Dua Potret

"Selalu Indah" Nuansa Biru
Menuju Madani

Selalu ingin mewujudkan kehidupan yang sakinah,mawadah dan warahmah

jtxman

A fine WordPress.com site

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

E R D Y's W O R D S

catatan-catatan pendek

Arevandriyan

Aku bukan orang pintar, aku bukan orang sempurna..Tapi dibalik ketidaksempurnaaku aku ingin menjadikan diriku seorang yang pintar & sempurna..Apa salahnya bila kita saling berbagi walaupun hanya di dunia maya !!!

Don Charisma

because anything is possible with Charisma

Mujaiyah's Blog

Bacalah dengan Nama Tuhan-Mu yang Maha Agung

Cory Eureikha

Be 100 % For Indonesia

Berbagi Pengetahuan dan Pengalaman

Carilah Ilmu yang banyak dan berguna serta sedekahkanlah ilmu itu

Muzuro's Blog

Just another WordPress.com site

Goedang Ilmoe

Hidup adalah Berkarya

erul9

Smile! You’re at the best WordPress.com site ever

My Cache of Unimportance

A noob's blog, nuff said at this time.....

Kamalinev Inc.

Devoted to Arabic Linguistics

%d blogger menyukai ini: