you're reading...
Esai, Intermeso

Andai Sangkuriang, Bandung Bondowoso, atau Joko Seger yang Jadi Gubernur DKI

Semua media saat ini lagi ramai melaporkan liputan tentang banjir di Jakarta yang kali ini rupanya tergolong besar meski ada yang mengatakan lebih besar banjir tahun 2007 lalu. Berbagai sudut pandang laporan tentang banjir menjadi berita utama di berbagai media massa cetak dan elektronik. Tak kalah ramainya, di jejaring-jejaring sosial pun semua orang membicarakan banjir Jakarta. Liputan yang menarik tentu yang dikait-kaitkan dengan Gubernur DKI terbaru, Jokowi, dan segala sepak terjangnya. Selain pandangan yang memuji kepemimpinan Jokowi, tak jarang pula yang menagih kenerja 100 hari pertama mantan Walikota Surakarta itu. Banyak orang berharap Gubernur Ibukota NKRI yang ceking itu segera menguraikan kemacetan di Jakarta yang sudah “stadium lanjut” dan lebih-lebih keadaan sekarang, Jakarta terendam air alias banjir. Semua berharap Jokowi berkata (seperti Pak Tarno), “Sim salabim prok… prok… prok… jadi apa hayo…”. Lalu, jreeeeng… Banjir  pun hilang dan Jakarta jadi kinclong kembali. Hmmm… imposible. Mana bisaaaa? Memangnya Gubernur DKI itu Sangkuriang, Bandung Bondowoso, atau Joko Seger?

(Mengapa Sangkuriang dan cs-nya itu diandaikan jadi Gubernur DKI, ceritanya baca dulu paragraf yang banyak ini ya… Diskip juga boleh kok)

Yah, itulah yang diharapkan oleh segenap warga Jakarta setelah Jokowi-Ahok terpilih dan kemudian dilantik menjadi Gubernur-Wakil Gubernur DKI mulai tahun 2012 lalu. Sejak awal menjelang pelantikan sampai sekarang, pasangan gubernur-wagub itu semakin menarik simpati waga Jakarta. Semua pun berharap kemacetan dan banjir yang menjadi masalah utama Jakarta segera tersolusikan. Kedua problem yang seakan tidak bisa diselesaikan Gubernur demi Gubernur DKI sebelumnya serta-merta dibebankan ke pundak gubernur-wagub baru yang sebelum terpilih terbilang sukses memimpin di daerah mereka masing-masing itu.

Jokowi, Gubernur DKI

Jokowi, Gubernur DKI

Harapan seperti itu wajar ketika segenap warga Jakarta melihat cara kepemimpinan duet Jokowi-Ahok. Ekspektasi tinggi muncul karena warga Jakarta bagaikan melihat selubang cahaya ketika berada di satu ruang yang gelap setelah lelah menunggu realisasi janji gubernur-gubernur sebelumnya atas solusi kemacetanan dan kebanjiran. Pun tidak berlebihan kalau dikatakan masyarakat Jakarta sudah kelewat jenuh dengan keadaan Jakarta yang berkembang tak terkendali. Jakarta menjadi pusat segalanya sehingga memiliki daya tarik kuat masyarakat dari berbagai penjuru tanah air untuk mengadu nasib di dalamnya. Akibatnya, Jakarta semakin padat. Kemacetan sebagai salah satu imbas kepadatan warga kota ini semakin sulit diurai dan ditertibkan. Kesadaran masyarakat untuk tidak bertindak yang menyebabkan banjir susah diwujudkan.

Nah, ketika sudah banjir seperti sekarang ini (dan tentu banjir-banjir lain yang rajin “nyambangi” Jakarta), semua orang serentak berbicara banyak hal tentang seluk-beluk perbanjiran. Berbagai teori dan pendapat tentang penyebab banjir dan penanggulangannya bermunculan. Bermacam sikap juga ditujukan kepada pasangan gubernur-wagub mereka. Sampai-sampai ada yang mempertanyakan hasil kerja Gubernur-Wagub DKI yang baru menjabat selama hitungan hari. Ada suara yang menagih kenerja 100 hari pertama mereka. Kebetulan sekali musibah banjir kali ini bertepatan dalam durasi 100 hari yang selalu dibebankan kepada setiap pemimpin baru di setiap daerah. Karenanya, pertanyaan seperti “Apa yang dikerjakan Jokowi-Ahok selama ini?” atau “Mana janji mereka untuk menangani banjir?” muncul.

Menurut saya itu pertanyaan-pertanyaan naif dan bodoh. Pertanyaan-pertanyaan seperti itu sangat tidak tepat ditanyakan kepada pasangan Jokowi-Ahok atau siapapun yang terpilih jadi pengganti Gubernur-Wagub DKI. Bagaimana mungkin dua manusia biasa yang baru menjabat dalam waktu 100 hari dapat membuat Jakarta bebas macet dan banjir. Itu diperlukan kerja keras dan dukungan semua pihak, terutama warga Jakarta, serta waktu yang tidak sebentar seperti mengedipkan mata.

Bagaimanapun Jokowi-Ahok bukan tukang sulap seperti Pak Tarno. Kalau istilah Pak Prabowo, “Jokowi bukan Nabi Musa” (baca ini). Ketua HKTI itu juga tidak sepaham dengan konsep 100 hari pertama kinerja. Saya juga setuju dengan pendapat itu karena memang kinerja seorang pemimpin di negara dan daerah manapun harus dinilai dari awal hingga akhir masa jabatannya. Tidak hanya dinilai menggunakan parameter 100 hari pertama karena dalam setiap pelaksanaan organisasi seorang pemimpin baru pasti harus melakukan kordinasi dan konsolidasi, baik ke dalam maupun ke luar organisasi. Jadi, tentu dalam 100 hari seorang pemimpin baru belum tampak kinerjanya. Apa yang dilakukan seorang pemimpin seperti Jokowi dan pasangannya sejak dilantik bisa dipakai sebagai tolok ukur keseriusannya bekerja. Memang betul apa kata salah satu putra begawan ekonomi Indonesia itu, “Jokowi bukan Nabi Musa”. Jokowi juga bukan tukang sulap atau ilusionis.

(Nah, ini dia bagian yang berisi cerita Sangkuriang dkk. yang saya dijanjikan di awal)

Masih ingat legenda Gunung Tangkuban Perahu di Jawa Barat, Candi Sewu di Prambanan, atau terjadinya Gunung Batok di Gunung Bromo? Beginilah ceritanya. Tetapi, ini singkat cerita saja.

Sangkuriang diberi waktu untuk membuat perahu dalam waktu semalam.

Sangkuriang diberi waktu untuk membuat perahu dalam waktu semalam.

Ketika pada akhirnya Dayang Sumbi menerima cinta putranya, si Sangkuriang, ada syarat yang harus dipenuhi anak lelaki yang jatuh cinta pada ibu kandungnya itu. Sangkuriang diminta membuat perahu dalam waktu semalam. Pemuda itu pun menyanggupi dan hampir jadilah perahu itu sebelum fajar menyingsing. Karena takut anaknya bisa menyanggupi permintaannya, Dayang Sumbi pun membuat api buatan sehingga cahayanya menyerupai warna fajar dan ini membuat ayam-ayam terkecoh lalu berkokok bersahutan. Karena marah dengan ulah wanita pujaannya, Sangkuriang pun menendang perahu yang hampir jadi itu sekuat-kuatnya dan jatuh di suatu tempat yang sekarang dikenal dengan Gunung Tangkuban Perahu di Jawa Barat.

Kisah Roro Jonggrang dan Bandung Bondowoso. Tapi di gambar ini Monas Seribu hehehe

Kisah Roro Jonggrang dan Bandung Bondowoso. Dalam gambar ini Candi Sewu “diplesetkan” menjadi Monas Seribu🙂

Akan halnya Bandung Bondowoso. Tokoh ksatria ini mencintai seorang perempuan bernama Roro Jonggrang. Singkat cerita, Roro Jonggrang mau menerima cinta Bandung Bondowoso dengan syarat lelaki yang “ngebet” ini harus membuatkan candi berjumlah 1000 dalam waktu semalam. Sama dengan kisah Sangkuriang-Dayang Sumbi, Bandung Bondowoso menyanggupi dan dengan bantuan para jin dia bisa menyelsaikan 999 candi sebelum fajar menyingsing. Ketika tinggal satu candi lagi, Roro Jonggrang pun panik dan membuat pagi buatan dengan membakar segala yang ada sehingga nyala api menyerupai fajar. Karena itu, ayam-ayam pun tertipu dan berkokok bersahutan. Dengan begitu, gagallah sang Bandung Bondowoso. Dia pun marah besar kepada Roro Jonggrang dan berucap bahwa Roro Jonggranglah yang akan menjadi candi ke-1000. Gadis cantik pujaan sang ksatria itu pun berubah jadi batu sehingga candi itu lengkap berjumlah 1000. Itulah legenda asal-usul Candi Sewu (Candi Seribu) di Prambanan, Klaten, Jawa Tengah.

Joko Seger mulai membuat telaga dengan batok (tempurung) kelapa.

Joko Seger mulai membuat telaga dengan batok (tempurung) kelapa.

Bagaimana dengan kisah Joko Seger dan asal mula Gunung Batok (anak Gunung Bromo) di Jawa Timur? Itu adalah kisah yang sama, kisah tentang bukti cinta seseorang yang “bertepuk sebelah tangan”. Dalam legenda itu dikisahkan Joko Seger dan Roro Anteng. Singkat cerita lagi, Roro Anteng bersedia menerima pinangan Joko Seger degnan satu persyaratan. Joko Seger harus mampu membuat telaga dalam waktu semalam dengan alat berupa hanya batok (tempurung) kelapa. Tentu tidak mungkin Roro Anteng meminta Joko Seger menggunakan Eksavator untuk mengeruk tanah menjadi sebuah telaga🙂. Bisa-bisa anak Gunung Bromo itu dinamakan Gunung eskavator😀. Singkat cerita lagi, Joko Seger ternyata nyaris mampu membuat telaga yang diminta Roro Anteng sebelum fajar menyingsing. Roro anteng pun gusar dan membuat fajar buatan (ternyata cewek-cewek dalam legenda-legenda ini curang semua) dengan nyala api sehingga ayam-ayam pun berkokok bersahutan menandakan pagi. Karena Joko Seger mengerahkan jin untuk membantunya, jin-jin itu lari tunggang langgang karena tidak mau bekerja sampai pagi. Sang kesatria pun marah besar. Dilemparkannya batok kelapa itu sehingga menjadi Gunung Batok seperti yang ada di tengah-tengah kawawan puncak Gunung Bromo. Itulah kisah awal mula Tengger di Jawa Timur.

Begitulah kisah legenda tiga ksatria (Sangkuriang, Bandung Bondowoso, dan Joko Seger) yang dengan segala daya dan cara mereka mampu mewujudkan hal yang sebenarnya tak mungkin menjadi mungkin. Selain Alloh SWT, hanya ketiganya yang mampu membuat perahu (bahtera), 1000 candi, dan telaga dalam sekejap (semalam).

Itu kan legenda. Macet, banjir, dan segala keruwetan di Jakarta adalah nyata dan tentu tidak bisa diselesaikan dalam waktu 100 hari apalagi hanya semalam. Gubernur DKI dan segenap jajarannya hanyalah manusia biasa yang punya keterbatasan. Mereka tentu bisa menyelesaikan masalah di Jakarta yang selama ini seolah tak terpecahkan sampai-sampai ada usul untuk memindahkan Ibukora Negara RI ke kota lain, tetapi mereka perlu diberi kesempatan dalam hal waktu dan memikirkan solusi yang paling cepat (ukuran manusia) dan tepat. Tanggung jawab memperbaiki DKI Jakarta pun tidak selayaknya hanya dibebankan kepada pejabat di wilayah itu karena Jakarta adalah ibukota negara maka Pemerintah Pusat tentu harus berperan besar. Selain itu, peran serta masyarakat Jakarta juga lebih-lebih diharapkan dalam menjaga kota yang mereka tempati untuk menjalankan segala sendi kehidupan.

Sepak terjang Jokowi sejak resmi dilantik menjadi Gubernur DKI Jakarta setidaknya menunjukkan rasa cintanya kepada Jakarta. Meskipun tidak sama dengan cara dan waktu yang dimiliki oleh ketiga kesatria yang diceritakan di atas, cinta gubernur baru DKI kepada daerah yang dipimpinnya sekarang sepertinya akan dibuktikan dengan bekerja keras.  Dibuktikannya dengan cara memperbaiki kota yang menjadi wajah Indonesia tersebut menjadi lebih baik daripada kondisinya sekarang. Untuk itu, semua warga Jakarta harus menunggu.

Menuntut Jokowi atau siapa pun yang jadi gubernur untuk mengubah wajah DKI Jakarta menjadi tertib, aman, dan nyaman dalam waktu 100 hari atau setahun dan bahkan dua tahun ke depan tentu tidak dan sangat tidak mungkin. Kalau ada yang menuntut seperti itu, mengapa waktu Pemilukada lalu mereka tidak mencalonkan Sangkuriang, Bandung Bondowoso, atau Joko Seger saja untuk menjadi Gubernur DKI. Andai salah satu dari mereka terpilih dan dilantik jadi Gubernur DKI, bukan hanya dalam waktu 100 hari, semalam pun bisa mereka ubah Jakarta sesuai yang diinginkan banyak pihak.

Akhirnya, seharusnya semua menyadari Gubernur DKI adalah manusia biasa; bukan tukang sulap atau ilusionis apalagi Nabi Musa, Sangkuriang, Bandung Bondiwoso, atau Joko Seger. Semoga banjir di Jakarta kali ini segera surut sehingga roda kehidupan berjalan normal kembali. Semoga pula tahun depan si banjir bandel itu tidak main-main lagi di Jakarta atau daerah-daerah lainnya.

(Untuk seluruh warga Jakarta, tetap semangat!!!)

Semua gambar dalam tulisan ini diambil dari google image (bebas akses) dan blog tetangga (gambar Jokowi)

About Mochammad

Berpikir dan berkarya sampai tak terbatas masa

Diskusi

27 thoughts on “Andai Sangkuriang, Bandung Bondowoso, atau Joko Seger yang Jadi Gubernur DKI

  1. ha ha ha ha rasional juga pemikirannya, walau andai tp kalau dipikir ya iya juga hahah

    Posted by denipositif | Januari 19, 2013, 1:24 am
  2. Memang, mereka bukan tokoh legenda, dan kita di dunia nyata

    Posted by khairunnisa | Januari 19, 2013, 12:42 pm
  3. Terima kasih atas konten dan info yg menarik dan menginspirasi….thk u

    Posted by jtxtop | Januari 19, 2013, 6:09 pm
  4. betul sekali pak, orang yg menuntut gubernur berhasil dalam seratus hari tuh gak mikir.
    itu orang yg mau enaknya saja, atau masih belum terima Jokowi menjadi gubernur.

    tulisannya mengena banget buat penuntut Jokowi..🙂

    Posted by Heri Purnomo | Januari 20, 2013, 11:02 pm
  5. andai kata jokowi berhasil menuntaskan banjir dan macet dalam 100 hari pun kiranya masih akan muncul tuntutan yang lain🙂

    Posted by q.thrynx | Januari 21, 2013, 8:10 am
  6. Pak Jokowi mikir keras.
    tolong di bantu ya???😉

    Posted by Ridho Akhmad | Januari 21, 2013, 2:09 pm
  7. wow !!

    Posted by lovaida | Januari 24, 2013, 3:10 pm
  8. Manusia terlalu banyak Tuntutan….

    Posted by karangtarunamilikkitasemua | Februari 1, 2013, 12:59 am
  9. semangaattt bung Joko….🙂

    Posted by tatangwahyudi@rocketmail.com | Februari 5, 2013, 12:01 pm
  10. ide unik mas..🙂

    Posted by aflahulabidin | Februari 5, 2013, 6:27 pm
  11. Tulisan berikut adalah analisa berdasarkan timeline dari berita-berita di media massa dan pengalaman menghadapi banjir 2013. Tanpa mengurangi rasa hormat kepada korban banjir di Kampung Pulo Jatinegara, Daan Mogot, Rawa Buaya, Jelambar, Teluk Gong dan lain-lain yang rutin banjir tinggi tanpa mengeluh; pembahasan akan difokuskan pada tsunami di gedung UOB dan banjir Pluit.

    Posted by Ernest X. Roberts | Februari 5, 2013, 6:40 pm
  12. bukan sulap, bukan sihir.. bukan pula pak Tarno kan beliau berdua itu, Pak.
    biarlah Jokowi-Ahok berusaha.. dan saya melunasi kewajiban, mengirimkan sesuatu untuk dijemput oleh Pak Asyhar hehe
    http://asree84.wordpress.com/2013/02/06/sunshine-award/

    Posted by Phie | Februari 6, 2013, 12:11 pm
  13. warga jakarta rasional tdk ada yg menuntut 100 hari selesai yg ada janji jokowi ahok menyelesaikan banjir sudah 1,8 blan tidak ada tanda2 banjir bisa ditangani,janji2 yg muluk2 jokwi-ahok mnjadikan warga DKI kecewa atas kinerja jokowi-ahok

    Posted by joko mursodo | Februari 14, 2014, 1:38 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Warung Blogger

RUMPUN

YANG DITULIS HARI INI

Januari 2013
S S R K J S M
« Jul   Mar »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

PERTINGGAL

Klik URL Tertinggi

  • Tak ada

Yang Pernah Mampir

  • 68,891 hits

KLIK SUKA YA…

Twitter

Kuberi Dua Potret

"Selalu Indah" Nuansa Biru
Menuju Madani

Selalu ingin mewujudkan kehidupan yang sakinah,mawadah dan warahmah

jtxman

A fine WordPress.com site

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

E R D Y's W O R D S

catatan-catatan pendek

Arevandriyan

Aku bukan orang pintar, aku bukan orang sempurna..Tapi dibalik ketidaksempurnaaku aku ingin menjadikan diriku seorang yang pintar & sempurna..Apa salahnya bila kita saling berbagi walaupun hanya di dunia maya !!!

Don Charisma

because anything is possible with Charisma

Mujaiyah's Blog

Bacalah dengan Nama Tuhan-Mu yang Maha Agung

Cory Eureikha

Be 100 % For Indonesia

Berbagi Pengetahuan dan Pengalaman

Carilah Ilmu yang banyak dan berguna serta sedekahkanlah ilmu itu

Muzuro's Blog

Just another WordPress.com site

Goedang Ilmoe

Hidup adalah Berkarya

erul9

Smile! You’re at the best WordPress.com site ever

My Cache of Unimportance

A noob's blog, nuff said at this time.....

Kamalinev Inc.

Devoted to Arabic Linguistics

%d blogger menyukai ini: