you're reading...
Di Balik Gambar Ada Cerita, Esai, Intermeso, rileks, santai

Kucing Bingitz, Deh!!!!

1391153_593003370767637_1248888262_nJudulnya alay (lebih tepatnya imut) kali, ya? Kucing memang imut dan lucu kok; bikin gemes. Betapa tidak imut. Kucing-kucing sering memandang kita dengan tatapan sangat manis, sayu, dan tanpa dosa. Terkadang seekor kucing bisa sok imut karena suara aslinya yang berbunyi meooong dia ganti dengan miauu (kalau ada maunya). Siapa yang berani menyangkal kucing itu lucu. Buktinya anak-anak, terutama cewek-cewek balita dan anak-anak, pada umumnya suka kucing karena perilakunya yang lucu; suka lompat-lompat dan colek-colek dengan tapak kakinya yang dingin itu mengajak becanda.  Tidak jarang para manusia dewasa (dan pada umumnya tentu kaum hawa) ikut-ikutan pula terpesona dengan kelucuan si pus ini. Bikin gemes? Apa iya? Coba diam-diam perhatikan kucing yang melintas di depan Anda! Anda harus setuju kalau saya katakan bahwa para kucing itu berjalan lenggak-lenggok menggemaskan yang megingatkan bagaimana Halle Berry berjalan di atas genteng ketika memerankan catwoman. Sampai-sampai lenggak-lenggok peragawati pun disebut catwalk. Singkat kata, binatang piaraan satu ini memang multipersepsi. Selain (sok) imut, lucu, dan menggemaskan, para kucing ini sering mengesalkan, menyeramkan, dan menggemparkan. Di atas semua persepsi itu, satu hal yang tidak pernah dibayangkan adalah kucing-kucing sekarang mengalami kemerosotan moral. Wow, seperti apa itu?

Ketika membaca preambule di atas, barangkali para pembaca yang budiman sempat berpikir atau bahkan bergumam, “Kurang kerjaan banget, sih, hari gini ngrasani (ngomongin) kucing. Salah apa binatang unyu-unyu itu?”. Bukannya kurang kerjaan atau si pusnya yang salah, tetapi ini gara-gara saya sebel dengan kucing-kucing di sekitar tempat tinggal saya. “Apa juga manfaat hewan satu ini?” pikir saya. Dimakan ndak boleh. Tidak seperti musuh bebuyutannya, binatang piaraan satu ini tidak mampu pula dipakai sebagai penuntun “tuan”nya kalau kebetulan tunanetra. Suaranya tidak semerdu kicauan burung. Pun dia tidak bisa dipakai sebagai penjaga rumah yang baik; kerjaannya malas-malasan tidur di sofa atau berjemur di teras rumah.  Ulahnya cuma bikin sekitar rumah jadi bau, meninggalkan bulu-bulunya di seantero rumah, dan merusak kursi karena cakaran-cakaran isengnya. Kucing bahkan hanya menghabiskan biaya bagi yang memeliharanya. Saya pada akhirnya dengan sadar sedar-sadarnya berusaha mengidentifikasi perilaku hewan yang oleh para empunya sering dinamakan si belang, si putih, item, bejo, bondet, cipluk, nina, gracy, lucy dan sederetan nama lain yang tak terhitung jumlahnya. Perilaku? Barangkali lebih tepat tabiat untuk binatang yang salah satu sifat buruknya dijadikan label untuk para lelaki hidung belang ini. Eh, terkadang kasihan juga melihat nasib kucing-kucing karena yang berjenis kelamin cewek juga ikut-ikutan kumisan.

Ada satu hal lagi dan ini berkaitan kuncing “asing”; apakah itu anggora, persia, tiongkok, dan lain-lain negeri asal mereka. Kucing-kucing jenis ini pada umumnya pendiam; mereka sering seolah berbicara melalui bahasa kalbu. Saya menduga mereka belum belajar bahasa kucing pribumi atau hanya sebagai penutur pasif sehingga hanya mampu memahami, tetapi tidak mampu memproduksi bahasa kucing lokal. Akibatnya, kucing-kucing “bule” ini hanya bisa tengak-tengok sambil memandang manusia di sekitarnya dengan pandangan matanya yang sayu serta aneh-aneh bentuk dan warnanya.

Yang amat mengherankan sehubungan dengan itu, mengapa banyak orang suka kucing, ya, terutama kucing-kucing jenis “bule” alias londo (orang-orang Jawa tempoe doeloe menyebut belanda dengan istilah londo dan semua orang bule dibilang londo, londo inggris, londo strali alias londo australia, atau londo amerika :-D). Aneh menurut saya karena saya belum berhasil menemukan manfaat memelihara kucing selain buat kesenangan yang konsekuensinya berbiaya mahal buat urusan salon-menyalon kucing-kucing piaraan mereka. Akan tetapi, sudahlah. Itu urusan mereka. Lagipula itu juga duit-duit mereka dan asal tidak melakukan tindak korupsi hanya gara-gara mebiayai keperluan kucing, kecuali kucing peliharaan berjumlah ratusan yang berasal dari berbagai belahan dunia ini (sepertinya tidak mungkin sampai segitunya ya hehehe).

Setelah selesai menyelesaikan paragraf di atas, saya kok ndak merasa heran lagi dengan fenomena hobi memelihara kucing “bule” alias kucing londo. Saya jadi berpikir bahwa menyukai produk-produk luar negeri itu kan tipikal orang Indonesia banget. Orang Indonesia itu bangga mengenakan sesuatu yang bermerek dagang luar negeri. Orang Indonesia rela menahan kantuk demi menonton klub kesayangan mereka yang berasal dari negara-negara Eropa dan Amerika Latin, padahal Liga Indonesia yang tayang sore-sore malas mereka tonton. Orang Indonesia sering bilang, “Ah, film Indonesia itu gampang ditebak; berbeda dengan film barat”. Orang Indonesia pada hapal lagu-lagu berbahasa Inggris dan bahkan berbahasa Korea sementara kalau ditanya tentang lagu dangdut dan keroncong yang sangat Indonesia, mereka tidak tahu. Ini sungguh menyedihkan. Lagu “Aku Cinta Indonesia” cipataan Bimbo sepertinya hanya tinggal sebagai lagu saja; tidak meninggalkan bekas. Lagu itu bahkan sudah tidak dikenal oleh anak-anak jaman sekarang. Orang Indonesia bangga karena sudah berfoto ria di Menara Kembar Petronas atau di dekat patung singa, tetapi mereka bertanya, “Mataram itu di mana ya” atau “Ooooo di Lombok ada Pantai Kuta juga ya” (heloooo…). Tidak hanya itu, makna iklan “Cintailah ploduk-ploduk Indonesia” (memang dilafalkan sedikit kurang Indonesia) yang didutakan kepada Bos salah satu perusahaan elektronik terbesar di Indonesia bersama artis senior Titiek Puspa pun bagaikan lenyap tersedot masa. Apakah berlebihan kalau saya membuat analogi seperti itu? Apakah tergolong alay jika orang-orang yang bangga dengan keluarnegerian mereka saya komentari, “Aduuuh… kucing bingitz, deh.

Kembali ke paragraf paling awal di atas, saya mengatakan kucing-kucing sekarang mengalami kemerosotan moral. Apa betul kucing itu hewan bermoral? Kalau Anda sering mengamati perilaku kucing, barangkali akan sependapat dengan saya. Namun demikian, mengenai hal ini akan diceritakan di akhir-akhir tulisan ini saja karena saya masih belum puas melampiasan pembahasan tentang sifat-sifat buruk si pus yang kumisnya bersifat unisex itu. Bagi saya (dan boleh disangkal) sifat-sifat negatif kucing kok ya mirip manusia, khususnya sebagian orang Indonesia. Dengan alay bisa saya katakan, “Kucing itu Indonesia bingitz, deh, atau malah sebaliknya, “Indonesia itu kucing bingitz, deh. Kok Bisa(-bisanya)? Tentu saja ini bisa karena sengaja dibisa-bisakan.

Coba dijawab pertanyaan ini! Hewan apa yang suka mencuri? Kancil? Saya tidak percaya karena tidak pernah memergoki seekor kancil yang sedang mencuri ketimun. Yang sering saya tangkap basah justru si kucing yang sedang nyolong pindang tongkol, ikan asin, daging ayam, dan bahan-bahan makanan berprotein hewani lainnya. Kebiasaan buruk kucing yang ini sangat membuat jengkel manusia dan bahkan manusia yang memeliharanya. Betapa tidak jengkel? Ikan atau daging itu kan mahal harganya. Gara-gara kucing jatah gizi anggota keluarga jadi berkurang. Sadis memang. Andai yang kucing curi itu kangkung atau tauge, bisalah itu dimaklumi. Lha, ini… Yang enak-enak dan untuk kepentingan kesehatan keluarga malah yang diembat. Huh, kucing bingitz, deh.

Tabiat kucing yang suka nyuri itu pantas dianalogikan kepada kelakuan para koruptor di negeri ini. Analogi yang tepat karena kawanan kucing suka nyuri di rumah-rumah tempat mereka dipiara dan para koruptor suka ngembat, nilep, atau nyolong di instansi-instansi yang harusnya dipimpinnya dengan amanah. Kucing nyuri bahan makan untuk seluruh anggota keluarga manusia yang memiaranya dan koruptor ngembat uang rakyat. Klop sudah keduanya benar-benar sadis. Karena kemiripan tabiat ini, istilah “tikus-tikus berdasi” sebagai julukan pencuri uang rakyat lebih tepat diganti dengan “kucing-kucing berdasi”. Tikusiawi memang kalau para tikus suka diam-diam nyuri makanan di lemari karena kehadiran mereka tidak diharapkan oleh pemilik rumah sehingga tidak pernah diberi makan layaknya kucing. Kucing diharapkan oleh pemiaranya sebagai kesenangan; pejabat diharapkan sebagai pemimpin yang amanah. Akan tetapi, kalau ada kesempatan, keduanya malah mencuri di tempat masing-masing. Sungguh tepat seruan ini, “Wahai para koruptor… Kelakuan kalian memang kucing bingitz, deh“.

Satu pertanyaan lagi, binatang apa yang paling malas? Kucinglah jawabannya. Secara spesifik boleh dibilang kucing piaraan. Kucing piaraan kerjaannya makan dan tidur-tiduran. Tidur pun maunya di tempat-tempat yang hangat dan empuk, seperti kasur, sofa, atau karpet. Sudah begitu, pagi-pagi pula sering kita lihat mereka sudah tidur-tiduran dengan mata memicing atau sambil menjilat-njilat bulunya. Kucing sehari-harinya enggan melakukan beraktivitas bisa jadi karena “kebijakan” pemiaranya yang “tidak tepat”. Karema dimanjakan, kucing jadi malas. Kucing bingitz, deh.

Lagi-lagi kok ya serupa dengan keadaan di Indonesia. Karena kebijakan pemerintah, para petani, pegaram, nelayan, sampai para insinyur seolah dipaksa untuk bermalas-malasan dan tidak produktif. Pemikiran tersebut tentu beralasan. Bukankah beberapa tahun belakangan negeri ini diserbu beras impor, ikan impor, dan bahkan garam pun juga impor? Selama ini apa yang dilakukan petani dengan sawah-ladang mereka; apa yang dilakukan para nelayan dengan kekayaan laut kita yang sangat luas; apa yang dilakukan para pegaram dengan kekayaan air laut dan limpahan sinar matahari untuk menghasilkan garam. Lalu, apa yang dilakukan para insinyur teknik di nusantara ini? Pada faktanya semua alat yang digunakan oleh orang Indonesia berlabel negara asing. Giliran ada karya anak bangsa dengan mobil SMK yang spektakuler beberapa waktu lalu, berita dan tanggapan pun menghebohkan dan cenderung tanggapan-tanggapan negatif dan memandang sebelah mata yang muncul. “Kemalasan” ini gara-gara kebijakan pengelola negara yang apa masih boleh dibilang gemah ripah loh jinawi ini. Singkat kata, kucing bingitz, deh.

Dari tadi sisi negatif kucing yang dibicarakan dan memang sisi positifnya cuma sedikit. Setidaknya para kucing itu terlihat anggun; terlihat lucu ketika masih “balita”; dan terlihat cantik dan imut sehingga banyak yang menyukainya. Itu semua ibarat keindahan alam dan budaya Indonesia yang dikagumi orang-orang dari berbagai belahan bumi. Indonesia memang cantik dan “lucu”. Kucing bingitz, deh. (Bagian ini maksa bingitz, deh :-D).

Itulah kucing. Dia dikagumi, disayang, dan tidak jarang dibenci atau bahkan “dilecehkan”. Dilecehkan karena pribadi kawanan kucing jantan nan liar bermuka gahar berkelakuan binal dipakai untuk melabeli para manusia berjenis kelamin pria yang suka mempermainkan wanita melalui kelompok kata kucing garong, para pejantan songong yang doyan perempuan brondong hingga babon. Kucing bingitz, deh.

Itulah si kucing. Statusnya sungguh complicated. Akan tetapi, terlepas dari perilakunya yang berstatus itu, kucing derajadnya juga ditinggikan manusia sebagai hewan yang dikeramatkan. Anda semua takut menabrak atau melindas seekor kucing bukan? Semua orang tentu mengetahui dan menghindari konsekuensi apabila sampai mengalami kejadian dimaksud, menabrak atau melindas kucing. Amit-amit jabang bayi, jangan sampai mengalami. Bisa-bisa… Kucing bingitz, deh.

Di balik tabiat negatif dan kelebihan mereka, termasuk eksistensinya yang dikeramatkan oleh makhluk termulia di bumi ini, kucing sesungguhnya termasuk binatang yang berkarakter. Kucing memiliki etika dan tenggang rasa tinggi kepada manusia. Kucing juga punya wibawa di kalangan para tikus dan bahkan disegani. Boleh dikatakan bahwa kucing itu bermoral. Akan tetapi, itu dulu. Kok? Iya, itu dulu. Lalu, moral seperti apa yang dimiliki para kucing? Kucing memiliki kebiasaan menutup kotorannya agar baunya tidak tercium. Tentu bukan tercium oleh kucing lain maksudnya; melainkan tercium oleh manusia (mungkin juga bukan itu tujuannya). Biasanya setelah menimbun kotorannya, seekor kucing akan mencium tempat menimbun kotoran itu untuk meyakinkan masih tercium bau tak sedap atau tidak. Apabila dia rasa masih tercium, biasanya dia lakukan penimbunan sekali lagi sampai benar-benar sempurna. Uniknya, sebelum buang hajat, seekor kucing akan membuat lubang di tanah. Benar-benar seekor kucing bertenggang rasa tinggi. Selain itu, pada masa jayanya seekor kucing dipiara di rumah-rumah dengan tujuan untuk mengusir tikus dan tikus memang takut pada kucing. Salut, kucing bingitz, deh.

Sekarang? Perilaku kucing seperti itu sudah mengalami pergeseran rupanya. Jika di sekitar Anda banyak kucing, pasti sering tercium bau menyengat kotoran mereka dan melihatnya di atas rumput atau tumpukan pasir. Para kucing sudah tika lagi beretika. Di samping etika mereka sekarang tidak dipertahankan lagi, mereka juga tidak ditakuti oleh para tikus. Biarpun di rumah Anda ada dua atau tiga kucing, tikus-tikus masih berkeliaran di lemari makan Anda. Ini namanya sudah terjadi dekadensi moral dan kewibawaan di kalangan kucing. Bisa begitu ya? Itu berarti sekarang para kucing sudah ndak bingitz lagi, deh.

Lagi-lagi fenomena terakhir si pus ini kok ya bisa dianalogikan kepada keadaan di Indonesia sekarang ini. Suatu keadaan yang memprihatinkan karena hukum dijalankan tidak dengan sungguh-sungguh dan disalahgunakan. Para pejabat “selingkuh” dari sumpah jabatan yang diikrarkan dengan kitab suci di atas kepala mereka. Itu tidak hanya ingkar kepada rakyat yang dipimpinnya, tetapi juga kepada Tuhan yang disembahnya. Pun orang-orang Indonesia dewasa ini dengan tanpa merasa bersalah sering melakukan perbuatan melanggar hukum. Oknum-oknum dengan tertawa merusak alam tidak ubahnya seperti kucing yang mengotori rumput halaman yang tertata rapi sambil mengeong. Para pemimpin kehilangan kewibawaan seperti kucing yang taring dan cakarnya tidak lagi ditakuti oleh para tikus.

Entah kapan mulai terjadi kemorosotan moral para kucing ini. Yang jelas saya bisa membedakan bagaimana kucing yang dulu saya kenal sebagai hewan yang beretika dan kucing sekarang yang kalau meminjam judul lagu Dewi yull “kau bukan kucing yang dulu lagi”. Apakah pergeseran moral kucing ini seiring dengan menburuknya keadaaan Indonesia sebagaimana sekarang ini? Jangan-jangan ini merupakan tanda-tanda alam bahwa kondisi Indonesia belum benar-benar membaik. Dengan demikian, kalau dipikir-pikir kucing itu Indonesia bingitz, deh. Ah, setelah saya pikir-pikir lagi ternyata Indonesia itu kucing bingitz, deh.

1169687_238635916304328_1367048554_n

 

About Mochammad

Berpikir dan berkarya sampai tak terbatas masa

Diskusi

3 thoughts on “Kucing Bingitz, Deh!!!!

  1. hihihi… kucing pun bermoral?
    kalau kucing saya sukanya nyolong krupuk😀
    Bisaaaa aja nulis kayak gini, great!

    Posted by argalitha (@argalitha) | Agustus 27, 2014, 8:19 am
  2. Semua akan lebih baik kalau kita berusaha, kita harus punya keyakinan untuk bisa maju..

    Posted by Linda | September 8, 2014, 8:40 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Warung Blogger

RUMPUN

YANG DITULIS HARI INI

Agustus 2014
S S R K J S M
« Sep   Sep »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

PERTINGGAL

Klik URL Tertinggi

  • Tak ada

Yang Pernah Mampir

  • 68,795 hits

KLIK SUKA YA…

Twitter

Kuberi Dua Potret

Nuansa Biru Kelihatan banget lantainya kotor 😀
Menuju Madani

Selalu ingin mewujudkan kehidupan yang sakinah,mawadah dan warahmah

jtxman

A fine WordPress.com site

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

E R D Y's W O R D S

catatan-catatan pendek

Arevandriyan

Aku bukan orang pintar, aku bukan orang sempurna..Tapi dibalik ketidaksempurnaaku aku ingin menjadikan diriku seorang yang pintar & sempurna..Apa salahnya bila kita saling berbagi walaupun hanya di dunia maya !!!

Don Charisma

because anything is possible with Charisma

Mujaiyah's Blog

Bacalah dengan Nama Tuhan-Mu yang Maha Agung

Cory Eureikha

Be 100 % For Indonesia

Berbagi Pengetahuan dan Pengalaman

Carilah Ilmu yang banyak dan berguna serta sedekahkanlah ilmu itu

Muzuro's Blog

Just another WordPress.com site

Goedang Ilmoe

Hidup adalah Berkarya

erul9

Smile! You’re at the best WordPress.com site ever

My Cache of Unimportance

A noob's blog, nuff said at this time.....

Kamalinev Inc.

Devoted to Arabic Linguistics

%d blogger menyukai ini: