you're reading...
Esai, Intermeso

Mengapa Harus Ada Polisi Tidur?

Sudah lama saya ingin menulis tentang polisi tidur dan akhirnya kesampaian juga. Ini setelah kejengkelan membuncah gara-gara beberapa hari terakhir  saya sering melewati jalan-jalan umum yang berpolisi tidur. Kalau satu-dua keberadaannya dan jarak masing-masing cukup jauh, tentu tidak menjengkelkan seperti yang saya rasakan. Ini “tidurnya” berderet-berderet macam para pengungsi yang tidur di penampungan bencana alam. Kalau sudah begitu, keberadaan polisi yang tidak pernah bergaji ini tentu sangat mengganggu kelancaran berkendaraan karena sebentar-sebentar harus injak rem dan turun-naikkan gigi. Pertanyaan pun seketika muncul, mengapa harus ada polisi tidur?

Apa Itu Polisi Tidur?

Semua orang tentu mengenal istilah polisi tidur. Selain mengenal, setiap pengendara pernah melintasinya juga, baik dengan santai-santai tanpa omelan maupun, sebaliknya, melewatinya sambil ngedumel. Yang tidak pakai ngedumel mungkin yang dilewati hanya satu dua polisi tidur dengan jarak yang relatif jauh. Sebaliknya, pengendara melintasinya sambil mengomel bila keberadaan polisi tidur itu berderet-deret atau dibuat tidak sesuai standar karena kurang landai. Coba bayangkan jika Anda melintasi polisi tidur seperti di gambar (sumber: blog sebelah) berikut ini!

Polisi TidurApa yang Anda pikirkan atau rasakan ketika melintasi jalan berpolisi tidur seperti pada gambar di atas? Tetap melintas dengan santai sambil senyum-senyum sms-an atau ngomel-ngomel dalam hati? Tentu saja tidak semua polisi tidur pada suatu ruas jalan bentuk dan jumlahnya seperti itu. Ada yang dibuat dengan standar tata cara pembuatan rambu lalu lintas, misalnya gambar (sumber: blog tetangga) di bawah ini.

Ini baru bener.Polisi tidur seperti itulah yang seharusnya ada. Keberadaannya cukup mengurangi laju kendaraan dan ditempatkan sesuai kebutuhan, misalnya di jalan kompleks perumahan atau di depan sekolah (terutama SD).

Apa sebenarnya benda yang dinamakan polisi tidur itu? Menurut saya polisi tidur itu sejenis rambu lalu lintas yang diletakkan di bawah seperti posisi seseorang sedang tidur melintang seukuran lebar jalan. Karena fungsinya mengatur pengendara seperti tugas seorang polisi, rambu itu dinamakan polisi tidur.

Apakah kelompok kata polisi tidur sudah masuk dalam daftar kosa kata dalam bahasa Indonesia? Sebagaimana fakta penggunaannya yang meluas di kalangan masyarakat, kelompok kata itu sudah dipakai sebagai istilah dalam bidang lalu lintas. Selain itu, gabungan kata polisi tidur yang dipakai sebagai istilah tersebut tercantum  dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sebagai salah satu sublema dari lema polisi. Keberadaan istilah polisi tidur sebagai kosa kata bisa diperiksa dalam KBBI Daring (ketuk di sini). Dalam kamus resmi bahasa Indonesia versi daring itu, polisi tidur dipakai dalam ragam percakapan (berkode cak) dengan makna bagian permukaan jalan yg ditinggikan secara melintang untuk menghambat laju kendaraan. Itulah polisi tidur.

Mengapa Polisi Tidur?

Sebelum sampai pada pokok persoalan tulisan ini, perlu diluruskan terlebih dahulu mengapa nomina polisi dipasangkan dengan verba tidur untuk membentuk istilah rambu-rambu lalu lintas itu. Penggunaan istilah polisi tentu didasarkan pada hubungan asosiasi, yakni polisi dan bagian jalan yang ditinggikan itu sama-sama menjaga lalu lintas di jalan raya; memberi peringatan kepada para pengendara agar berhati-hati di lintasan yang berpolisi tidur. Perbedaan di antara keduanya adalah yang pertama berwujud manusia dan yang kedua berupa benda mati. Dengan kalimat lain dapat dikatakan bahwa tugas seorang polisi untuk mengingatkan pengendara agar memperlambat laju kendaraannya digantikan oleh bagian jalan yang ditinggikan tersebut. Mengapa pula verba (kata kerja) tidur tidak disandingkan saja dengan selain kata polisi? Gedebok yang diartikan ‘batang pisang’,  misalnya, lebih pas dan pantas sehingga membentuk istilah gedebok tidur ‘batang pisang yang ditidurkan’. Pada prinsipnya diganti dengan benda apalah selain polisi. Dengan demikian, istilah itu tidak berkesan –kalau boleh dibilang– “melecehkan” sosok tertentu. Ungkapan itu bahkan dalam perkembangannya dijadikan bahan candaan sampai bahan olokan. Menurut pandangan pribadi saya terkesan melecehkan karena polisi kok dilindes-lindes. Walaupun hanya dipakai dalam makna kiasan sehingga istilah polisi tidur memiliki acuan sebuah benda berbentuk bagian jalan yang ditinggikan, kata polisi di benak kita tetap mengacu kepada sosok manusia dengan profesi tertentu. Sementara pula, sosok yang dikatakan tidur itu tidak tersinggung. Itulah sekelumit tentang telaah ungkapan polisi tidur.

Mengapa Harus Ada Polisi Tidur?

Apakah perlu keberadaan polisi tidur? Jawaban pertanyaan itu bisa bias karena bisa dijawab iya dan bisa pula dijawab tidak. Masing-masing jawaban tentu ada alasannya.

Baiklah, sebelum memaparkan pandangan saya tentang kedua alasan untuk jawaban yang tersebut pada paragraf sebelum ini, saya berikan gambaran perdebatan yang terjadi di kompleks saya berkaitan dengan polisi tidur. Itu hanya sekedar perdebatan kecil ketika diadakan rapat warga kompleks dalam rangka membahas pranata yang berlaku di dalam kompleks kami.

Sebetulnya kompleks perumahan yang saya tinggal di dalamnya itu berkonsep satu pintu gerbang (istilah kerennya one gate) alias satu pintu untuk keluar-masuk warga kompleks dan juga tamu yang berkunjung. Karena konsepnya seperti itu, semua rumah di dalam kompleks perumahan saya itu tidak berpagar dan oleh pengembang memang dilarang pendirian pagar di setiap rumah. Akan tetapi, entah mengapa jadi ada dua pintu gerbang satu di depan dan satu lagi di belakang. Singkat kata, keberadaan gerbang itu menjadi bahan perdebatan seru di setiap rapat warga kompleks. Sebagian besar warga mempertanyakan status pintu belakang dan bagaiman mekanisme buka-tutupnya kalau gerbang itu tetap dipertahankan. Pertanyaan itu muncul karena di dalam kompleks banyak anak kecil yang bermain di arena jalan kompleks (karena vasilitas umum berupa taman masih di PHP oleh pengembang). Apabila gerbang belakang tetap terbuka dan dipakai akses oleh warga di luar kompleks yang pada umumnya kurang memiliki etika berkendara (salah satunya ngebut padahal peraturan kecepatan berkendara di dalam kompleks hanya 30 km/jam). Akhirnya, dalam satu rapat ada warga yang mengusulkan pemasangan polisi tidur di beberapa titik. Usulan itu mendap penolakan secara serempak dengan alasan yang nyaris seragam. Alasannya adalah yang merasa dibuat kurang nyaman dengan keberadaan rambu itu adalah warga kompleks karena setiap hari dan setiap saat melintasi  ruas-ruas jalan dalam kompleks perumahan. Sebaliknya, warga di luar kompleks perumahan (misalnya tamu) hanya sesekali melintasinya. Ada juga yang beralasan demi keamanan dan kenyamanan anak-anak kecil di kompleks perumahan ketika mereka sedang bermain sepeda.  Sementara itu, pengusung usul pemasangan polisi tidur tadi beralasan agar pengendara memelankan laju kendaraannya ketika melintasi beberapa polisi tidur. Nah, bagaimana dengan rambu peringatan kecepatan kendaraan 30 km/jam yang sudah dipasang di beberapa titik lokasi strategis? Rambu-rambu itu seperti tidak mempunyai kekuatan untuk memperingati para pengendara yang melintasinya.

Jawaban iya untuk pertanyaan mengapa harus ada polisi tidur tentu seperti alasan yang dikemukakan oleh pengusung usul pemasangan polisi tidur sebagaimana diilustrasikan di atas. Sebaliknya, jawaban tidak dapat dijelaskan dengan alasan-alasan yang dikemukakan penentang usulan pemasangan polisi tidur. Ada apa sebetulnya di balik pemasangan polisis tidur ini?

Keberadaan polisi tidur yang tidak jarang sangat lebai itu (lihat kembali gambar-gambar di atas) menandakan kesadaran dan kepedulian pengendara akan rambu yang dipasang itu tidak ada kekuatannya. Kalimat-kalimat seperti hati-hati banyak anak kecil atau harap pelan-pelan seakan tidak mampu membuat orang menjadi sadar akan lingkungannya; menjadi sadar perilaku berkendaranya akan bisa membahayakan orang lain. Padahal, peringatan yang berupa tulisan itu disampaikan secara langsung sehingga tidak perlu proses pemaknaan yang rumit, namun tidak mampu membangkitkan kepekaan para pengendara akan lingkungan yang dilintasinya. Bagaimana dengan peringatan secara tidak langsung dengan tanda 30 km/jam atau 40 km/jam? Sepertinya para pengendara lebih sulit memaknai tanda-tanda seperti itu. Kenyataan seperti ini seharusnya hanya berlaku bagi orang-orang yang masih buta huruf karena tidak mampu membaca tulisan dan angka. Jadi, ini sungguh ironis karena terjadi pada peradaban Indonesia yang sudah maju; zaman yang sudah sangat jarang orang tidak melek huruf. Rupanya orang-orang yang kurang memiliki etika berkendara ini hanya bisa di”terapi kejut” dengan dihalangi laju kendaraannya oleh polisi tidur sehingga tersadar ngebutnya serta mengurangi tarikan gas kendaraan dan menginjak pedal rem untuk memelankan laju kendaraannya. Ini kan cara yang sudah tidak seharusnya diberlakukan kepada manusia yang mengaku dirinya beradab karena sudah berpendidikan. Manusia berpendidikan itu seharusnya bisa membaca dan mampu memaknai isi bacaannya itu sehingga tidak perlu lagi tebaran polisi tidur di ruas-ruas jalan yang ada, baik jalan umum maupun jalan dalam kompleks perumahan.

Apa yang digambarkan di atas menandakan para pengendara ini belum memiliki kedisiplinan dan kesadaran untuk berkendara dengan “cerdas” sehingga tidak membahayakan orang lain. Cerdas dalam hal ini adalah mampu membaca rambu dan memahaminya dengan baik serta dipatuhi. Barangkali fenomena ini terjadi karena para pengendara ini masih sangat awam dengan peraturan lalu lintas. Awam yang dimaksud bisa diartikan rambu-rambu itu belum pernah dilihatnya atau sudah diketahui tapi diabaikan alias dicueki. Oleh karenanya, sosialisasi sejak dini akan peratulan lalu lintas sangat diperlukan untuk memutus mata rantai ketidakpedulian kepada etika berkendara. Dimasukkan sebagai muatan pembelajaran di SD merupakan ide yang patut dipertimbangkan. Program-program institusi kepolisian memberi pemahaman kepada anak sekolah dasar dengan program Polisi Cilik sangat layak diberlakukan kepada SD-SD di seluruh Indonesia. Dengan demikian, pada masa mendatang sudah tidak ada lagi pengendara yang “ugal-ugalan” di jalanan. Dengan begitu pula sudah tidak akan terdengar atau terbaca lagi ungkapan “pengemudi maut” di berbagai media pemberitaan. Semoga dan pasti bisa karena INDONESIA BISA.

Pengendara moderen dan beradab adalah manusia-manusia yang mampu membaca dan memahami isi rambu-rambu lalu lintas dengan baik serta menerapkannya dengan penuh kepatuhan dan kedisiplinan.

 

 

About Mochammad

Berpikir dan berkarya sampai tak terbatas masa

Diskusi

2 thoughts on “Mengapa Harus Ada Polisi Tidur?

  1. Biar nggak ngebut mas yang jelas

    Posted by ahsanfile | Februari 17, 2016, 7:08 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Warung Blogger

RUMPUN

YANG DITULIS HARI INI

Februari 2016
S S R K J S M
« Nov   Nov »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
29  

PERTINGGAL

Klik URL Tertinggi

  • Tak ada

Yang Pernah Mampir

  • 68,891 hits

KLIK SUKA YA…

Twitter

Kuberi Dua Potret

"Selalu Indah" Nuansa Biru
Menuju Madani

Selalu ingin mewujudkan kehidupan yang sakinah,mawadah dan warahmah

jtxman

A fine WordPress.com site

The Daily Post

The Art and Craft of Blogging

E R D Y's W O R D S

catatan-catatan pendek

Arevandriyan

Aku bukan orang pintar, aku bukan orang sempurna..Tapi dibalik ketidaksempurnaaku aku ingin menjadikan diriku seorang yang pintar & sempurna..Apa salahnya bila kita saling berbagi walaupun hanya di dunia maya !!!

Don Charisma

because anything is possible with Charisma

Mujaiyah's Blog

Bacalah dengan Nama Tuhan-Mu yang Maha Agung

Cory Eureikha

Be 100 % For Indonesia

Berbagi Pengetahuan dan Pengalaman

Carilah Ilmu yang banyak dan berguna serta sedekahkanlah ilmu itu

Muzuro's Blog

Just another WordPress.com site

Goedang Ilmoe

Hidup adalah Berkarya

erul9

Smile! You’re at the best WordPress.com site ever

My Cache of Unimportance

A noob's blog, nuff said at this time.....

Kamalinev Inc.

Devoted to Arabic Linguistics

%d blogger menyukai ini: