you're reading...
Esai, fiksi, Intermeso

Kucing kok Dibilang Anjing

Ada apa dengan kucing nih? Kucing memang menarik digosipin. Kali ini pun saya ingin nulis perihal kucing dan ini tulisan ketiga dengan topik kucing. Inspirasi ini datang mungkin karena setiap hari saya lihat kucing di sekitar bahkan di lingkungan rumah saya. Kadang kulihat kucing-kucing itu malas-malasan di depan rumah. Suatu kali saya lihat kucing-kucing yang itu-itu juga menyelinap ke dalam rumah saya. Yang sering saya saksikan adalah kucing-kucing itu dikejar-kejar oleh dua bocah tetangga, Afkar dan Zangki, terutama si Zangki. Momen lainnya adalah setiap malam saya lihat kucing berjalan di atas tembok belakang rumah dari genteng tetangga belakang, lenggak-lenggok bak peragawati. Itu mengingatkan saya akan Halle Berry berjalan dari atap satu gedung ke gedung lainnya ketika berperan sebagai Cat Woman, seksi (mau pasang gambarnya, tapi takut disensor dan diblur). Halle Berry yang seksi dong, bukan si kucing. Miau… hmmmm suaramu memang ngegemesin, Cing…

Kucing ini imut banget kan. Coba perhatikan ekspresinya itu. Pandangannya matanya itu seperti minta disayang. Kucing memang sering manja sama yang peiaranya. Dia suka gesek-gesekin badannya sambil bunyi, “miau… miau”. Tapi,giliran mereka sedang bercinta, suaranya berisik sampai sekampung. (foto koleksi pribadi)

Kucing memang tergolong hewan istimewa. Dia disukai para cewek, dari balita hingga emak-emaknya. Tak jarang para cowok juga menyukainya. Ini biasanya cowok bungsu (bukan hasil survei juga sih). Hewan berbulu ini dipeluk-peluk, dicium-cium, diajak tidur bareng, dan bahkan ditimang-timang. Perlakuan istimewa terakhir itu, ditimang-timang, bisa bikin seorang anak kandung merasa tersisih atau pacar bisa terbangkitkan rasa cemburunya. Lucu juga sih jeles sama kucing hehehe. Lalu, karena istimewanya pula, diriwayatkan bahwa Rosululloh pun menyayangi hewan satu ini. Sebagai binatang istimewa, si kucing pun punya banyak nama panggilan, dari panggilan imut sampai julukan yang gahar. Nama-nama lain kucing yang tergolong imut itu ya sperti si pus, si pussy, si meong dan julukan gaharnya adalah binatang yang memiliki nyawa sembilan (sangar kan kalau punya nyawa cadangan). Pokoknya, sungguh kucing itu adalah mahluk yang beruntung, kecuali si Thomas atau si Tomy karena dia sering dipecundangi oleh Jerry yang tidak lain adalah tikus.

Selain diistimewakan itu, kedudukan kucing juga ditinggikan dengan mitosnya yang masih dipercaya. Ketika kucing tiba-tiba melintas di depan kendaraan yang sedang melaju, serta-merta sang pengendara alias sopir mengerem mendadak motor atau mobilnya. Jangan sampai menabrak si kucing. Kalaupun terlanjur menabraknya dan sampai kucing meninggal (tewas kali ya), pengendara itu harus membawanya untuk dikuburkan dengan layak. Jika tidak diikuti sangsi mitos itu, akan mendapat celakalah bagi orang yang sudah menabraknya. Begitulah eksistensi kucing di dunia manusia.

Tapi…

Lain pula kisah pengalaman kami, saya dan teman-teman kos waktu kuliah di Jember. Beginilah ceritanya. Pada zaman dahuluuu, hiduplah kucing-kucing di antara kami di kos. Mereka bukan kami piara dan tak satu pun dari kami yang berpihak pada mereka. Suatu hari, tepatnya banyak hari, ketika kami berjalan pulang dari kampus di tengah terik matahari di Bumi Tegal Boto tempat kampus kami, kami seperti biasa berjalan ramai-ramai sambil bercanda. Candaan kami itu salah satunya adalah tebak-tebakan menu apa kira-kira di rantangan kami siang itu. Rantangan itu istilah untuk langganan catering bagi anak kos. Disebut rantangan karena makanan yang diantar ke kos-kos mahasiswa di wadah sejenis rantang. Kurir pengantar rantangan biasanya meletakkan di meja makan yang disediakan bapak kos karena rantangan datang ketika kami sedang kuliah. Singkat cerita, siang itu kami sedang membayangkan menu yang sudah kami sepakati dari hasil voting kami, soto ayam. Tertawa-tertawalah kami mendeskripsikan bagian ayam mana yang dijadikan bahan soto siang itu, dari mulai ceker, sayap, sampai leher yang masih nempel kepalanya (biasanya sih leher ini). Yang jelas tidak pernah bagian paha atau dada yang disoto untuk kami itu.

Kucing ini terjebak di jendela. “Take me out”, mungkin itu katanya. Siapa sih yang tega sama kucing seperti itu. Tapix di sisi lain kucing sering bikin bete, terutama saat dia nyusi makanan di meja atau buang hajat dan ndak ditutupnya dengan tanah.
(foto koleksi pribadi)

Sampailah kami di kosan dan bergegas berebut menuju meja makan. Semua ingin cepat-cepat meludeskan isi rantang. Gubraaak… Terdengarlah umpatan khas Jawa Timur keluar dari mulut salah satu teman yang sudah berhasil mendahului sampai ruang makan. “Opo rek?” teriak kami hampir bersamaan. Begitu melihat keadaan meja makan, kami pun koor memproduksi umpatan yang sama. Apa yang terjadi sodara-sodara? Rantangan kami berantakan. Daaan, benar adanya dugaan kami, tapi leher-leher ayam plus akepalanya itu sudah bergeletakan di lantai berkubang kuas soto di antara bihun dan hijauan seledri dan daun bawang. Kami pun gigit jari. Itu adalah peristiwa yang kesekian kalinya. Sejak saat itulah kami menyatakan “bermusuhan” dengan kucing. Di ruang makan itu “kucing not allowed”. Ruang makan harus steril dari kucing. Pokoknya, “kucing verboden”.

Itulah sekelumit kisah pada zaman dahulu dibalik keimutan para kucing. Sejak itu saya tidak ingin ada kucing di dekat saya. Bukan saya benci kucing. Kalau Rosululloh menyayangi kucing, kita juga harus mengikutinya kan. Alhasil, saya selalu menolak ketika anak saya dan ibunya (tentu istri saya) ingin piara kucing. Berbagai alasan saya kemukakan, bau ta1-nya ndak enaklah, ndak bisa dimakanlah, bulunya bikin alergilah, dan yang pasti biaya perawatannya mahal. Pokoknya banyak argumen dengan partikel -lah.

Saya memang tidak benci atau anti kucing. Buktinya, setiap ada sisa makanan atau ada sesuatu yang bisa dimakan kucing, ya kucing itu yang saya cari. Pus… pus… lalu melempar bingkisan buat mereka. Dalam hal ini, masih ada tabiat kucing yang bikin bete. Ketika dikasih sesuatu dan biasanya mereka berlari menghampiri, ada saja salah satu kucing yang pakai lihat-lihat saya sebelum memakannya. Seperti ndak yakin gitu kalau saya kasih mereka makanan. “Yakin lo kasih gue makanan”, saya merasa kucing itu berbicara kepada saya seperti itu. Kesel kan… πŸ™‚

Tapi…

Kemarin ini… Iya, sehari sebelum saya nulis catatan ini. Ada peristiwa antara saya dengan kucing, sebut saja si belang. Si belang ini masih anak-anak. Tapi, kelakuannya jelas ndak bisa ditolerir meski doi masih kanak-kanak. Umpama dia itu orang, ya bangsanya kelas VI SD dan sebentar lagi mau UN. πŸ˜€ Kali ini saya dibuat super bete. Betapa tidak, sedang-sedang enak-enaknya makan si belang ini datang tak diundang dan menunjukkan gelagat mau boker. Dia jongkok seperti tampak lagi ngeden.Β  Saya hardiklah dia dan lari ke balik tembok lorong samping rumah. Tak lama dia balik dan kepalanya nongol innocent sambil liat saya yang asyik makan. Saya pun cuek dan lanjut makan. Eh, beberapa saat kemudian, ditinggal meleng bentar saja, dia sudah jongkok di sudut tempat tanam kembang dan sudah selesai BAB karena saya lihat dia kais-kais tanah berusaha nimbun itu sesuatu yang lembek-lembek kuning. Bau pun kemana-mana. Mendadak saya berdiri dengan emosi dan menghardiknya, “Anjriiit kamu”. Ups… Mendadak pula saya tersadar dari emosi. Lha, dia kan kucing ya. Kenapa tadi saya bilang anjing. Si belang pun kaget dan spontan loncat, tapi setelah beberapa langkah sebelum dia berlalu sambil berlari ke lorong samping tadi, dia nengok dengan tatapan mata yang entah takut, ngejek saya, atau heran gitu. Mungkin juga dia berpikir, “Gue kan kucing. Kok dibilang si Uban gue anjriit ya. Jadi gak PD gue. Gue ini sebenarnya kucing apa anjing ni. Masa bodo, ah, yang penting kan dah lega”. Lalu dia melengos dan kabur. Bete kan? Setelah si belang pergi, saya masih ngedumel dalam hati, “Dasar lo, cing, bentuk aja mirim macan, tapi suara lo miau”.

Begitulah…

Bila sedang emosi, kata-kata umpatan pun keluar. Yang spontan keluar ya kata anjing, padahal yang diumpat kucing kan hehehe. Dalam konteks tertentu kata yang mengacu pada salah satu hewan piaraan itu memang sering dipakai untuk mengumpat dan bahkan ada bentuk efemisnya, anjrit. Dalam berbagai konteksnya, mengumpat pun disamarkan ya zaman sekarang, terutama oleh anak-anak muda. Soal umpatan untuk kucing tadi, tentu kurang berasa ngumpat kalau pakai kata kucing atau hamster, misalnya kucing kamu atau hamster kamu. Rrasanya kok ringan-ringan saja gitu. Bagaimana ndak berasa ringan, kucing dan hamster termasuk sosok hewan yang lucu. Meskipun berasa diketawain si kucing yang saya umpat, keluarlah kalimat anjing kamu kucing. πŸ˜€ πŸ˜€ πŸ˜€

(Makanya jaga emosi biar ndak salah omong seperti tadi. Karena kalau salah omong, bisa berabe) πŸ˜€

Tulisan terkait: Nina O Nina dan Kucing Bingitz

Iklan

About Mochammad

Berpikir dan berkarya sampai tak terbatas masa

Diskusi

2 thoughts on “Kucing kok Dibilang Anjing

  1. Tenang Pak.. jangan marah2 ke kucing.. kucing ga salah.. anda saja makan di tempat yg salah hahaha 😁

    Posted by Nabila Firdausi | Mei 3, 2017, 2:10 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Warung Blogger

Language

PERTINGGAL

RUMPUN

YANG DITULIS HARI INI

April 2017
S S R K J S M
« Mar    
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

YANG GRES

Klik URL Tertinggi

  • Tidak ada

Yang Pernah Mampir

  • 72,611 hits
Follow AHAO's Blog on WordPress.com
%d blogger menyukai ini: